Rabu, 27 April 2011

Bandung tingkatkan peran Komunitas Basis

Dalam Rapat Kerja keuskupan Bandung belum lama ini, tim pastoral sepakat dan berkomitmen untuk memberdayakan Komunitas Basis Gerejani (KBG) dan menjadikan tahun 2011 sebagai Tahun Komunitas Basis Gerejani.

Dalam rangka membangun pelayanan yang lebih terarah dan terencana, tim pastoral bertekad memberdayakan komunitas basis, dan menekannya dalam rencana kerja masing-masing paroki, komunitas, lembaga, atau yayasan sehingga menjadi kesatuan yang utuh.

Pada akhir raker dengan tema, “Memberdayakan Komunitas Basis,” yang diadakan pada 12-14 November 2010, di Lembang, Jawa Barat, perserta yang berjumlah 158 orang mengeluarkan penyataan bersama.

Pernyataan itu antara lain menegaskan “terdorong oleh kesadaran bahwa komunitas basis adalah cara menggereja, bukan teori tetapi pengalaman, maka upaya pemberdayaan komunitas basis akan dimulai juga dengan mewujudkannya dalam komunitas-komunitas para pelayan pastoral seperti komunitas DKP, komunitas DPP, komunitas dewan pimpinan kelompok kategorial, organisasi, yayasan dan lembaga pelayanan.”

Dengan keyakinan bahwa gerak pembangunan Gereja adalah karya Roh, maka “kita sepakat akan mempersiapkan penggerak-penggerak komunitas yang mampu menjadi penggerak dan pendamping proses pemberdayaan komunitas,” lanjut mereka.

Mengingat begitu banyaknya komunitas yang akan digerakkan dan membutuhkan banyak penggerak, tanpa menutup kemungkinan untuk mengadakan di masing–masing paroki, DKP akan membentuk tim penggerak yang diharapkan menjadi para pelatih penggerak komunitas.

Sejalan dengan kesepakatan Gereja Katolik Indonesia [SAGKI] dan Sidang KWI tahun 2010, kita akan menaruh perhatian akan perlunya pendekatan dialog dengan budaya setempat, dengan agama dan keyakinan lain serta dengan orang “miskin”.

Sehingga pada akhir tahun 2011 kita bisa melihat adanya komunitas-komunitas sebagai gereja kecil yang mengakar dalam budaya setempat, yang bersaudara dengan semua orang dan mampu menampakkan wajah Kristus kepada mereka yang “miskin”. Komunitas diharapkan menjadi komunitas yang misioner, yang kerkisah tentang pengalaman hidupnya dengan Kristus.

“Kita menyadari bahwa komunitas yang partisipatif akan terkondisikan jika didukung oleh kepemimpinan yang partisipatif. Untuk memenuhi kebutuhan itu kita akan bersama-sama memahami, melatih dan menerapkan konsep kepemimpinan yang partisipatif dalam kepemimpinan para pelayan pastoral,” tambah mereka.

Sumber : http://www.cathnewsindonesia.com/

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP