Tampilkan postingan dengan label Orang Muda Katolik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Orang Muda Katolik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 April 2011

Kaum Muda Katolik: Jangan takut berpolitik!

Melihat perilaku para pemimpin dan wakil rakyat yang membuat banyak orang mengelus dada mungkin membuat umat Katolik khususnya kaum mudanya jadi enggan terjun di kancah perpolitikan tanah air. Padahal sebetulnya hal itu tak perlu terjadi. “Kita tak perlu ragu untuk berperan serta dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tak perlu merasa gamang” kata Dr. Cosmas Batubara -yang pernah 10 tahun menjadi anggota DPR dan 15 tahun menjadi menteri selama Masa Orde Baru- dalam acara bincang-bincang tentang Perpolitikan Katolik di Indonesia yang digelar oleh Kerawam di Gereja St Theresia Jakarta, Jumat, 19 Maret 2010 lalu.

Keikutsertaan orang Katolik dalam kancah politik di tanah air bisa dilihat sejak sebelum masa kemerdekaan. Tokoh yang banyak berperan pada masa itu adalah Romo Van Lith yang memberikan dorongan dan dukungan agar kaum muda ikut berperan serta dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga banyak kaum muda yang terinspirasi. Sebut misalnya, Kasimo; yang terkenal dengan semboyannya: Salus populi suprema lex (kesejahteraan rakyat adalah hukum tertinggi). Kemudian bisa dipelajari pula sikap almarhum Mgr Albertus Soegijapranata SJ, yang selalu menegaskan sikap golongan Katolik dalam keterlibatan di bidang kehidupan politik: In principiis, unitas; in dubiis, libertas; in omnibus, caritas (dalam hal-hal prinsip adalah satu; dalam hal-hal yang masih terbuka, bebas; dalam segala hal, kasih). Ketika itu ada satu motto yang sangat terkenal yaitu 100% Katolik, dan 100% Indonesia. Masih ada pula nama-nama lain seperti almarhum Frans Seda, yang tema perjuangannya adalah kesetiaan kepada tanah air, Pancasila dan Bunda Gereja. Lalu JB Sumarlin, Benny Moerdani, Sudradjat Djiwandono dan kini ada pula nama Mari Elka Pangestu, dll. “Kita ingin orang Katolik bisa lebih ikut berperan dalam pengambilan keputusan bagi kepentingan bangsa dan negara” kata Cosmas.

Untuk itu Cosmas berharap agar generasi muda Katolik terdorong untuk ikut terjun ke bidang politik dengan menjadi birokrat, anggota Polri/TNI, pengusaha, partisan politik, dll dan memberikan kontribusinya sesuai dengan bidangnya masing-masing. Kader politik yang baik, menurut Cosmas, adalah kader yang punya pribadi, berkarakter, sopan dan bukan yang suka menjilat. Mereka selayaknya juga tidak berbicara kasar tetapi menyampaikan pandangannya dengan baik dan tertata. “Omongan boleh sampai tetapi fisik tidak boleh sampai” katanya. Tata cara seperti ini harus sudah dikuasai lebih dulu oleh kader sebelum terjun ke politik. Matang dan terlatih dalam public speaking juga sangat penting sehingga orang dapat mengemukakan pendapat secara jelas dan sistematik, tidak emosional dalam perdebatan dan adu argumentasi dan bisa memimpin.

Sumber : http://www.catholicdailyindonesia.com/

baca selanjutnya...

Senin, 18 April 2011

Spiritualitas Pembina Kaum Muda Katolik

Dewasa ini “spiritualitas” merupakan sebuah istilah yang sangat populer, khususnya di kalangan orang Kristen. Sebagai istilah, Spiritualitas muncul pertama kali di Prancis yang sudah digunakan abad 17 di kalangan lingkungan Katolik. Perkembangan selanjutnya pemakaian istilah Spiritualitas sudah meluas kepada orang kristen lainnya, termasuk orang-orang Protestan Evangelis. Demikianlah dimana-mana orang berbicara dan merasa membutuhkan suatu Spiritualitas. Tokoh-tokoh tertentu teologi Pembebasan mengadakan kritik diri dan mengakui bahwa teologi tersebut memerlukan suatu spiritualitas.

Menurut Hans Urs von Balthasar, Spiritualitas adalah sikap dasar praktis atau eksisitensial manusia yang merupakan konsekuensi atau ekspresi dari cara bagaimana ia mengerti eksisitensi keagamaannya. Dengan kata lain eksisistensi-eksistensinya, dalam ia bertindak atau bereaksi secara tetap dalam seluruh hidupnya menurut tujuan dan pemahaman-pemahaman serta keputusan-keputusannya yang dasariah.

Definisi di atas menampilkan unsur-unsur pokok pengertian umum spiritualitas. Pertama, ia mendasarkan bahwa spiritualitas berkenan dengan sikap dasar manusia, entah sebagai individu ataupun kelompok. Sikap dasar tersebut terbentuk dan didasari oleh sistem nilai mutlak agama (atau idiologi) yang dianut. Perkembangan selajutnya, definisi ini berkembang tidak hanya batas pada hidup batin melainkan menyangkut keseluruhan tingkah laku manusia pada setiap saat dalam kehidupannya. Manusia sebagai subyek spiritualitas tetaplah satu roh dalam dunia atau roh badani tersendiri. Dimana rohnya merupakan aspek sentral, dan ini berarti bahwa dia berada dalam sesuatu hubungan dengan “Yang Lain” yang transenden, walaupun Yang Lain itu hanya dibayangkan atau realitasnya sungguh disangsikan. Spiritualitas merangkum apa yang terdapat dalam budi manusia, bagaimana itu dipikirkan dan bentuk pengungkapannya dalam hidup sehari-hari seseorang. Semua itu dilandasi dan berorientasi kepada Yang Transenden, yang oleh manusia disadari memanggilnya secaara total dan tanpa syarat.

Jordan Auman, mendefinisikan spiritualitas menunjuk kepada setiap nilai religius atau etis yang dikonkritkan sebagai suatu sikap atau semangat yang nampak dalam tindakan sesorang.

SPIRITUALITAS PEMBINA

Nilai Pelayanan Pembina Kaum Muda

Di atas sudah dikatakan bahwa aspek hakiki yang paling utama Spiritualitas ialah realitas nilai, religius atau etis (yang mampu membentuk suatu sikap hidup yang mengarahkan dan menentukan tindakan-tindakan seseorang dalam hidupnya). Apabila kita berbicara Spritualitas kaum Muda tidak lepas dari tujuan pembinaan atau pendidikan. Biasanya dirumuskan: membentuk manusia dewasa, yang mampu berdiri sendiri dan bertanggungjawab serta berguna bagi sesama dan masyarakat. Pertanyaannya adalah Dimanakah tempat atau peran kaum muda katolik dalam proses tujuan ini? Untuk menjawab ini kembali ke Dokumen Konsili Vatikan II.

Dalam Deklarasi tentang pendidikan Kristen Gravissimum Educationis, (GE) ada tiga lembaga disebut sebagai pengemban tugas pendidikan: para orang tua, negara dan Gereja. Para orang tua disebut sebagai pendidik pertama dan utama. Tugas mendidik utama adalah wewenang keluarga dan membutuhkan bantuan masyarakat. Selain orang tua dan masyarakat Negara pun berperan dalam membina kaum muda. Akhirnya gereja disebut sebagai pembina karena ia dapat dianggap masyarakat manusia yang mampu mendidik dan terutama “gereja wajib mewartakan jalan keselamatan kepada semua orang dan menyalurkan hidup Kristus kepada orang-orang beriman, serta membantu mereka dengan keprihatinan yang terus-menerus agar mereka dapat mencapai kepenuhan hidup ini” (GE a.3).

Dalam Kitab Suci merumuskan : Dan Ialah ( Kristus Tuhan) yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi, baik pemberita-pemberita Injil gembala-gembala, dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesasatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus yang adalah Kepala. Daripada-Nyalah seluruh tubuh, yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayan semua baginya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota – menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih (Ef. 4:11-16).

Kutipan di atas memberikan dasar teologis dan Kristologis bagi nilai pelayanan pembinaan kaum muda. Tugas pembinaan adalah suatu karunia dari Kristus yang bangkit. Bahkan realita pertumbuhan sendiri bersumberkan kepada-Nya. Pelbagai ungkapan dan gambaran mengenai tujuan pelayanan pembinaan dalam Gereja menunjuk kepada kehidupan komunitas kristen, dan bukan hanya kepada orang-orang kristen secara individual. Ditegaskan antara lain bahwa tujuan pembangunan atau pembinaan ialah “kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus”.

Menurut Joseph A. Grasi, ungkapan “pengetahuan akan Anak Allah” berarti memperoleh gambaran manusia sempurna, yang mempunyai kedewasaan dalam Kristus dengan menghayati corak kehidupan manusiawi yang merupakan ciri kehidupan Yesus sebagai Putra Allah. Ini mewujudkan suatu relasi baru seseorang dengan Allah sebagai Bapa dan suatu hubungan baru persaudaraan dan cinta kasih dengan sesamanya. Dengan demikian ungkapan “Kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” merupakan penegasan keterangan “Kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tenatang Anak Allah”.

Dengan demikian kita dapat merumuskan tujuan pelayanan pembinaan Kaum Muda dalam Gereja dengan dua kata: Kedewasaan iman. Kristus merupakan sumber dan tujuan serta ukuran dari kedewasaan tersebut. Tubuh Kristus dibangun, dan para anggotanya memperoleh kesatuan dalam Krisrus, suatu kesatuan yang berlandaskan pada iman yang sama akan Dia. Jadi Gereja merupakan sebagai suatu keseluruhan-kita semua-yang mencari kedewasaan penuh pada tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (bdk. Ef. 1:22-23; 2:15). Kedewasaan iman menyangkut dua dimensi fundamental, yaitu dimensi vertikal dan dimensi horisontal. Dimensi vertikal berkaitan dengan relasi dengan Allah selaku Bapa, dimenis horisontal berkaitan dengan relasi sesama..

Dengan demikian menjadi jelas bahwa iman itu tidak hanya menyangkut hubungan pribadi seseorang dengan Tuhan dan terbatas pada pelaksanaan kegiatan-kegiatan ibadat dan tugas moral. Iman menyangkut semua segi kehidupan manusia, tidak terkecuali aspek duniawi. Konsili Vatikan II dalam GS artikel 43 ditegaskan bahwa; kelirulah mereka yang beranggapan seolah-olah urusan duniawi itu asing bagi kehidupan agama, karena mereka mengira bahwa kehidupan beragama terdiri hanya atas pelaksanaan kegiatan-kegiatan agama dan beberapa tugas moral. Orang Kristen yang mengabaikan tugas-tugas duniawi, mengabaikan tugasnya terhadap sesama, malah terhadap Allah sendiri dan membahayakan keselamatan abadinya.

P. Kasmir MSF

Sumber : http://msfmusafir.wordpress.com/2007/04/10/spiritualitas-pembina-kaum-muda-katolik/

baca selanjutnya...

Kamis, 14 April 2011

Spiritualitas Orang Muda Katolik Kontemporer

Ketika berbicara mengenai dunia kontemporer, maka segera terbersit dalam pikiran saya mengenai masalah sosial yang melanda dunia ini, seperti kelaparan, ketidakadilan, peperangan, perceraian, pergaulan bebas,...dll. Dalam kehidupan rohani orang muda (usia 18 – 30 tahun), budaya masyarakat modern ini menimbulkan sikap ambiguitas. “Jikalau kamu tidak mau datang..., janganlah kamu datang! Lakukanlah apa yang kamu sukai!” Gejala sekularisme ini membuat orang muda hanya mementingkan diri sendiri dan kebutuhan materinya saja daripada kehidupan rohani, bahkan di antara mereka ada yang menolak Allah dan semua kegiatan yang bersifat rohani, termasuk berdoa. Namun demikian, kita pun patut bersyukur karena masih banyak juga yang haus akan Allah dan selalu mencari kekuatan daripada-Nya. Mereka ingin memiliki hidup doa yang lebih mendalam dan mengalami Allah dalam hidupnya.

Gejala ini menunjukkan bahwa sebenarnya setiap orang muda kristiani memiliki kebutuhan untuk mendekat kepada Allah dan dipanggil menjadi tanda kehadiran Wajah-Nya di dunia. Hal ini bukan sebuah teori tetapi sebuah pesan yang memancar dalam kehidupan mereka. Tidak seorang pun diantara kita yang dapat menjawab tantangan dunia ini jikalau tidak menimba kekuatan dari Allah dalam jalan doa.

Paus Yohanes Paulus II berkata, “Kalian orang muda, kalian adalah harapan Gereja, dunia dan harapanku” (Roma, 31 Maret 1985). Beliau meminta perhatian Gereja, orangtua dan pendidik untuk membimbing dan mendampingi serta berjalan langkah demi langkah bersama kaum muda. Untuk itu kita perlu mengerti, memahami pengalaman hidup rohani mereka dan membantu mereka untuk menjadi saksi Kristus dalam hidup sehari-hari, berani berbicara mengenai Kristus dalam keluarga dan lingkungan belajar, bekerja dan bermain. Juga tantangan yang dihadapi oleh mereka untuk melaksanakan Kabar Sukacita.

Sharing tentang hidup rohani orang muda Katolik zaman ini, tidak terlepas dari kehadiran Pertapaan Karmel sebagai oasis di tengah padang gurun dunia. Di tempat ini orang muda mendapat bimbingan dan perhatian khusus, karena mereka akan menjadi tonggak-tonggak Gereja, anggota Gereja yang bisa diandalkan, dan menjadi garam dalam masyarakat. Di tengah keindahan alam ciptaan-Nya, kesunyian dan keheningan, mereka dibawa kepada pengalaman cinta kasih Allah yang menyelamatkan, menyembuhkan dan memulihkan, serta memberikan kekuatan dan motivasi baru untuk hidupnya.

1. KARAKTERISTIK ORANG MUDA
Orang muda senantiasa berusaha menemukan jati diri dan aktualisasi dirinya sendiri. Mereka juga lemah dan mudah terpengaruh oleh lingkungan hidupnya. Mereka selalu memilih yang menyenangkan dan memberikan kebahagiaan bagi dirinya.

a. ORANG MUDA DAN KELUARGA
Keluarga adalah dasar kehidupan sosial, dimana sejak kecil orang dapat belajar menghormati Allah dan mempergunakan kebebasan secara benar. Orang tua adalah orang pertama yang bertanggung jawab atas pendidikan anak-anaknya, di mana ada kemesraan, pengampunan, penghargaan, kesetiaan dan pengabdian tanpa pamrih. Orang tua mempunyai tanggung jawab yang besar, supaya memberi contoh yang baik kepada anak-anaknya. Mereka bertanggung jawab atas pendidikan iman, doa dan semua kebajikan pada anak-anaknya.

Pada zaman ini banyak keluarga yang mengalami pertikaian, perselingkuhan, perceraian, hamil di luar pernikahan, aborsi, orang tua tunggal, homoseksual, dan hubungan seks dengan banyak pasangan yang menyebabkan keluarga menjadi tidak harmonis. Orang muda memilih pergi dari rumah dan berkumpul bersama dengan teman-temannya, untuk menyembunyikan ketidakharmonisan. Banyak diantara mereka menganggap bahwa seksualitas bukan merupakan tanda persekutuan hidup dan kasih suami isteri, melainkan sebagai pemenuhan kepuasan dan utilitarianisme (paham penggunaan).

Akan tetapi banyak juga orang tua yang mempunyai hubungan harmonis dengan pasangan dan anak-anaknya. Mereka berusaha untuk lebih mengerti dan menyediakan waktu berdialog, sehingga terciptalah suasana keluarga yang bahagia dan saling mengasihi. “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi" (Yoh 13:35).

b. ORANG MUDA DAN TEMAN
Orang muda selalu mencari sahabat sejati. Bagi mereka seorang sahabat sejati memiliki keterbukaan, kejujuran dan kepercayaan yang timbal balik. Mereka dapat menghabiskan waktu bersama hanya untuk berbicara, bergurau, menonton, dll. Mereka menyukai hal yang sama dalam berpakaian, musik, olah raga dan pelajaran. Persahabatan ini dapat terjadi antara jenis yang sama atau pun berbeda.

Karena perpisahan dan perceraian orang tua mereka tidak mudah percaya kepada orang lain dan masa depan. Mereka dihantui perasaan ditolak, takut dipermainkan dan ditinggalkan. Mereka tidak merasa damai dan sukacita dalam menjalin persahabatan. Mereka juga takut untuk menikah dan mempunyai anak-anak. Oleh karena itu akhir hubungan persahabatan antara laki-laki dan perempuan, tidak selalu dalam wadah perkawinan, akan tetapi berhenti hanya pada hubungan emosi dan kepuasaan sesaat, tanpa kebahagiaan.

c. KEINGINAN UNTUK MENEMUKAN JATI DIRI
Seandainya orang muda dapat melalui krisis identitas yang dialaminya dengan baik, maka mereka akan memiliki rasa aman dan nyaman terhadap sesama dan lingkungan sekitarnya. Bukan hanya berkembang dalam relasi dengan orang lain, namun mereka pun mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk dalam pergaulan.

Orang muda yang gagal melalui krisis identitasnya akan menarik dan menutup dirinya sendiri. Mereka tidak berhasil untuk memberikan kasih dan hidupnya untuk bersatu dengan orang lain. Kesaksian dari seorang pemuda, 28 tahun, menikah dan mempunyai seorang anak, “Saya sudah dewasa, tetapi saya tidak berhasil merasakan hidup sebagai orang dewasa. Saya tidak dapat memahami diri sendiri. Bagi saya, orang dewasa adalah orang tua saya. Saya mengalami pemberontakan dalam diri sendiri: dalam lubuk hati saya merasa sebagai seorang anak laki-laki atau pun remaja, dengan penderitaan yang dahsyat, akan tetapi penampilan saya adalah orang dewasa yang bekerja. Kehidupan sosial tidak membantu saya untuk menjadi dewasa.” Keadaan ini membuat orang muda mengalami kesulitan untuk bertindak dan bersikap dalam hidup sehari-hari.

Ada orang muda yang cenderung mencari pengalaman, selalu ingin tahu dan ingin mencoba. Penampilan mereka biasanya lebih liar dan sangat santai dalam menghadapi berbagai tantangan hidup, baik yang positif maupun negatif. Mereka cenderung memiliki kepribadian yang impulsif, selalu bertindak tanpa berpikir atau merenungkannya terlebih dahulu. Mereka berkata, «saya pikir, inilah saya», dan dengan tindakannya mereka menyatakan «saya mencoba untuk membuat sensasi, jadi inilah saya».

Keadaan ini membuat mereka lemah dan tidak mampu berdiri sendiri, kepribadian yang tidak matang, dan dapat menimbulkan keputusasaan serta ketidakmampuan untuk menghadapi penderitaan.

d. TIDAK MEMPUNYAI TUJUAN HIDUP
Rencana hidup merupakan sebuah keterbukaan dari seseorang terhadap masa depannya, berhubungan dengan pandangan dan prioritas yang benar.

Ketakutan akan masa depan, membuat orang muda merasa lemah, menderita, terisolasi, ditolak, tidak mampu menentukan sebuah pilihan, tidak mau bertanggung jawab dan berusaha melarikan diri dari kenyataan yang ada, «saya hidup setiap hari tanpa program apa-apa», «saya tidak perlu berpikir untuk hari esok, yang penting saya senang hari ini», «saya tidak tahu tujuan hidup saya». Ada yang menghabiskan waktunya hanya untuk berpesta pora, khususnya pada waktu week-end, termasuk mereka yang mencoba minum-minuman alkohol dan obat-obatan, dan akhirnya terjerumus dalam narkoba. Ada juga yang merasa tidak berguna karena tidak mempunyai pekerjaan dan tidak tahu apa yang mau dikerjakan.

Orang muda yang memiliki tujuan hidup bagi masa depannya memiliki pola hidup yang lebih baik, damai, adil, bersahabat, dan berkembang dalam kasih terhadap sesama dan lingkungannya. Dengan penuh pengharapan mereka menjalani kehidupannya sekalipun mengalami kesulitan.

f. ORANG MUDA DAN MEDIA KOMUNIKASI
Tekhnologi telematik modern (computer, satelit TV, fax, telepon genggam, internet, dll) membangun sebuah komunikasi yang lebih dekat tanpa melihat jauhnya jarak dan tempat. Internet dan pos elektronik merupakan sebuah contoh yang baik. Demikian juga satelit TV menjadikan orang muda mengerti dan memahami situasi dunia saat ini, termasuk hal yang spektakuler.

Setiap media komunikasi memiliki hal yang positif dan negatif. Media komunikasi membantu kita untuk mengetahui berita yang terbaru di dunia saat ini, akan tetapi orang muda dapat jatuh karena ketidakmampuannya untuk memilih yang baik dan yang buruk dalam menggunakan media komunikasi ini. Mereka sedang berjalan dalam bahaya: kenikmatan seksual, ketidakmatangan jiwa, ideologi yang negatif, individualisme dan solidaritas yang keliru.

Paus Paulus VI berkata kepada para orang tua, “Bantulah orang muda ini untuk menjaga dan memelihara benih yang kudus dalam hati mereka. Ini merupakan tugas yang sulit dan membutuhkan banyak pengurbanan dari kalian; akan tetapi satu hari nanti kalian akan memetik hasilnya yang besar” (Turin, 24 April 1972). Oleh karena itu orang tua harus percaya dan berani untuk membimbing dan memperkenalkan nilai-nilai kesusilaan bagi anak-anak mereka. Orang muda harus berkembang dalam kebebasan yang benar dalam menghadapi tantangan dunia saat ini.

2. KEHIDUPAN ROHANI ORANG MUDA
Orang muda Katolik di Indonesia seharusnya berani untuk mengakui identitas mereka di hadapan sesamanya. Ia dapat bertanya pada dirinya sendiri: «Siapakah Yesus bagiku? Siapakah Yesus bagimu? Dan siapakah Yesus bagi kita? Tidak cukup hanya mengatakan bahwa kami “percaya kepada Allah” sebab mereka yang berasal dari agama lain pun percaya kepada Allah. Melalui pengalaman mengikuti camping rohani atau pun retret yang diadakan di Pertapaan Karmel, mereka merasa dipulihkan dan diteguhkan untuk tetap setia dalam iman dan pengharapan kepada Yesus sekalipun dikucilkan atau pun terisolasi di sekolah, universitas, dan kantor.

a. IMAN KEPADA ALLAH
Iman adalah satu ikatan pribadi manusia kepada Allah. Pengalaman dicintai oleh Allah memberikan kebahagiaan sejati: “Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Jauh dari pada-Mu akan binasa... Aku suka dekat pada Allah...”(Mzm 73:25-28)
Ketika ditanya banyak orang muda menjawab bahwa hidup mereka menjadi berharga sebab Allah yang menciptakan, dan karena kebangkitan Kristus yang telah membebaskan dari kematian dan dosa. Akan tetapi ada juga yang mengatakan: «saya selalu berusaha untuk merenungkan kasih-Nya dalam hidup sehari-hari, dan saya percaya bahwa Dia tidak pernah meninggalkan saya sendirian».

Penolakan terhadap Allah terjadi karena orang muda berpikir bahwa percaya kepada Allah berarti harus mentaati berbagai peraturan-Nya yang ada: «saya tidak mau percaya, sebab saya harus bertanggung jawab terhadap pilihan saya» atau «manusia itu berasal dari kera, bukan keturunan Adam dan Hawa. Saya percaya pada teori evolusi manusia». Ada juga orang muda yang menjadi tidak percaya kepada Allah karena banyak mengalami kekecewaan, kesedihan dan penderitaan dalam hidupnya.

Beberapa orang muda percaya kepada Allah karena kuasa-Nya dan bukan karena manifestasi kasih, kehendak dan belaskasih kerahiman-Nya: «saya percaya kepada Allah Mahakuasa karena Dia yang menguasai semuanya». Banyak juga yang mengatakan: «menurut saya Allah adalah segala-galanya»; «Allah adalah Hidup, dan Dia yang menyelenggarakan hidup saya». Mereka menjadi percaya kepada Allah setelah mengalami perubahan atau diperbaharui oleh Allah sendiri, sehigga mereka menjadi lebih bertanggung jawab terhadap imannya.

b. GAMBARAN TENTANG ALLAH
Kitab Suci dan liturgi Gereja memberikan gambaran tentang Allah yang baik dan penuh kasih. Sebaliknya bagi orang muda yang menolak Allah, ia menganggap Allah sebagai «hakim dan penghukum», akan tetapi ada yang mengatakan juga bahwa Allah adalah bapak yang berbelaskasih dan mengampuni: «Allah adalah bapak, dan dalam waktu yang sama Dia mengadili, tetapi tidak menghukum karena belaskasih kerahiman-Nya», «untuk saya Allah adalah hakim, namun Dia tidak pernah menghukum, Dia menerima setiap persoalan dan beban hidup serta kelemahan saya». Orang muda yang memiliki pengalaman buruk dalam keluarganya: «Allah bagaikan seorang hakim yang siap untuk menghukum saya»; «bagaimana saya dapat mengucapkan doa Bapa Kami dengan segenap hati, saya takut kepada-Nya?».

Yang lain melihat Allah melalui semesta alam: «saya percaya kepada Allah yang hadir melalui ciptaan-Nya, pada siang hari, malam hari, pada kelahiran...». Banyak juga yang mengalami Allah sebagai sahabat atau kasih yang mengampuni, yang mengenal dan mencintai setiap pribadi, Dia mencintai saya, Dia menolong saya, Dia menopang saya, padaNya saya percaya dan berharap, dengan-Nya saya percaya dan menyerahkan diri seluruhnya.

c. GAMBARAN TANTANG YESUS
Pada suatu kali ketika Yesus berdoa seorang diri, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka: "Kata orang banyak, siapakah Aku ini?" Jawab mereka: "Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit." Yesus bertanya kepada mereka: "Menurut kamu, siapakah Aku ini?" Jawab Petrus: "Mesias dari Allah" (Luk 9:18-21). Yesus pun bertanya kepada kita semua termasuk kepada orang muda.
Menurut beberapa orang muda, Yesus adalah seorang nabi, manusia yang sempurna, seorang model yang baik untuk dicontoh, seorang pembela keadilan bagi orang miskin dan sederhana, pembawa pesan Allah dan membawa orang untuk bertobat: «bagi saya Yesus adalah seorang nabi besar», «Dia adalah seorang model yang paling sempurna bagi kehidupan saya».

Banyak yang mengatakan bahwa Yesus adalah Allah kita: « Putera Allah yang mencintai dan menyelamatkan kita. Kita dapat melihat-Nya dalam Ekaristi». Seringkali mereka bingung membedakan Allah Bapa dan Yesus: «Saya tidak dapat membedakan antara Allah Bapa dan Yesus Kristus».

d. HUBUNGAN DENGAN ALLAH
Bentuk hubungan dengan Allah sangat dipengaruhi dengan gambaran orang muda tentang Allah. Biasanya mereka mencari cara untuk bertumbuh dalam kedewasaan pribadi dan rohani, baik secara individu maupun komunitas: «hubungan saya dengan Allah dimulai dalam keluarga, kami berdoa bersama, namun saya pun memiliki hubungan dengan-Nya secara pribadi», «saya lebih dapat berkomunikasi dengan Dia daripada dengan orang lain, Dia mendengarkan saya dan saya berusaha mengikuti jalan-jalan-Nya».

Hubungan dengan Allah semakin intim dalam pengalaman hidup rohani melalui doa dan situasi bahagia atau sedih dalam hidup sehari-hari: «saya datang kepada Allah kalau saya memerlukan sesuatu. Saya akan berterimakasih kepada-Nya dan memohon ampun», «setiap kali mengalami kesulitan, saya memohon bantuan-Nya, kemudian saya akan berusaha membalas kebaikan-Nya dalam hidup saya», «saya merasakan kehadiran-Nya», «Dia selalu menyertai saya», «saya serahkan diri saya kepada-Nya».

Orang muda berusaha menjalin hubungan dengan Allah dalam dialog, permohonan, ucapan syukur, atau penyerahan diri. Dialog dengan Allah berarti berbicara dengan Allah yang mendengarkan dan berbicara dalam Kitab Suci, perayaan liturgi, peristiwa hidup sehari-hari: kecemasan, persoalan, kesulitan, tingkah laku, dan cita-cita: «Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui» (Yer 33:3). Mereka bertumbuh dan menjadi dewasa dalam penyerahan diri yang menjadi dasar membangun sebuah pengharapan:

- Hubungan dengan Yesus
Biasanya orang muda berpikir tentang Allah dalam cahaya kuasa-Nya, menghancurkan musuh-musuh-Nya dengan tangan-Nya dan pemenang yang jaya. Seluruh kehadiran Kristus merupakan tanda kehadiran Allah yang penuh misteri, Dia rela menderita dan wafat di kayu salib.

Namun sayang, ada beberapa orang muda tidak dapat menerima cinta-Nya karena mereka hanya menganggap bahwa Yesus adalah seorang manusia biasa: «dengan Yesus saya tidak memiliki hubungan apa-apa», «tidak, saya tidak mempunyai hubungan dengan Dia, saya menganggap bahwa Dia adalah salah seorang yang hidup dalam sejarah».

Bagi yang lain hubungan dengan Yesus bagaikan sahabat dan ada kepercayaan bahwa Dia yang membimbing, memberikan ketenangan dan menjaganya: «ketika berbicara dengan Yesus, saya melihat-Nya sebagai sahabat», «saya memiliki hubungan yang erat dengan Yesus, sebab Dia memberikan ketenangan dan perlindungan», «sangat intim dalam doa». Beberapa gadis menganggap Yesus mempelai mereka: «Dia adalah pasanganku». Yang terakhir adalah mereka yang merasakan kehadiran-Nya dalam Ekaristi yang mendorong utuk menjalin hubungannya dengan sesama.

- Praktik hidup rohani
Pada zaman ini, perubahan budaya sangat mempengaruhi kehidupan orang muda. Banyak orang yang mengisi hari-hari hidupnya hanya untuk mengumpulkan uang, kekayaan, kebebasan, kebahagiaan daripada mencari Allah. Seringkali orang muda mencari kebahagiaan dengan berbagai cara: «hari Minggu adalah hari pembebasan dan kebahagiaan bagi semua orang. Hari Minggu sebagai hari Tuhan hanya untuk para religius yang harus berdoa bagi semua orang di dunia ini», «Hari-hari untuk Tuhan hanya Paska dan Natal saja», «kalau saya mengalami kesedihan, kesulitan atau penderitaan, saya akan berdoa Bapa Kami, Salam Maria, Aku Percaya, dll...», «hari Minggu adalah hari istirahat, liburan dan pembebasan dari keletihan setiap hari», «mengapa kita harus ke Gereja di hari Minggu? Mengapa tidak ditukar dengan hari yang lain, supaya kita dapat beristirahat dan bersenang-senang?», «kotbahnya sangat berat dan bahasanya sangat tinggi untuk saya. Sayang saya tidak mengerti apa-apa».

Beberapa orang muda bertanya: «mengapa kita harus beragama? Mungkin kalau kita tidak beragama, kita dapat hidup dengan tenang dan damai tanpa ada ketakutan menjadi murid Kristus! Sebab kita terancam dari kelompok yang besar. Baiklah kita berganti baju saja, sehingga kita dapat hidup dengan tenang dalam hidup».

Sementara mereka yang aktif dalam doa dan perayaan Ekaristi hari Minggu: «saya melaksanakan kehidupan rohani yang baik dan berusaha untuk hidup berdasarkan Sabda Tuhan», «setiap bulan Mei dan Oktober, kita berdoa bersama Rosario dari rumah ke rumah»

Beberapa orang muda turut aktif dalam kegiatan para imam dan biarawan/ti, menjadi tenaga sukarela dan memiliki solidaritas terhadap sesamanya

- PENGALAMAN KEHADIRAN ALLAH
Pengalaman kehadiran Allah yang dialami oleh orang muda biasanya mempengaruhi juga keadaan dirinya, pikikiran, perasaan, tindakan, sosial dan budaya, juga kehidupan pribadi dan komunitasnya yang menimbulkan dorongan, keinginan, keraguan, penghormatan, pengharapan, kebahagiaan, pengetahuan, tujuan, dll. SantoYohanes menulis, “Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga.” (1Yoh 1:3).

Banyak orang muda, sekalipun tampaknya jauh dari Allah, mengalami pengalaman hidup rohani kristiani yang benar: «saya merasakan kehadiran Allah di dalam kehidupan saya, misalnya mulai dari matahari tebit, sepanjang hari saya merasakan kehadiran-Nya yang kudus dalam ciptaan-Nya». Sebuah pertemuan dengan Allah yang hadir dalam seluruh kehidupan manusia: «saya merasakan kehadiran Allah di segala tempat». Beberapa mengatakan bahwa mereka merasakan kehadiran Allah dalam liturgi, doa dan keheningan: «saya percaya bahwa Allah sedang mendengarkan doa-doa saya.

Ketika saya mengirimkan sebuah SMS kepadamu, kamu tidak melihat saya, tetapi saya percaya bahwa kamu sedang membaca SMS saya dan kadangkala kamu pun menjawabnya. Jadi, ketika saya berdoa, saya tidak melihat Dia, akan tetapi saya percaya Allah sedang mendengarkan setiap perkataan saya».

Mereka yang telah memiliki hidup doa yang lebih baik, mengatakan bahwa Allah hadir sebagai pribadi dan sangat nyata dalam kehidupannya: «saya merasa bahwa ada pribadi yang sangat mencintai dan selalu bersama saya, terutama pada saat saya ingin melakukan sesuatu yang kurang berkenan kepada-Nya, saya merasakan pertentangan batin yang begitu kuat dalam hati saya. Dia begitu hidup!», «dalam hidup sehari-hari saya merasa ada yang menguasai hidup, Dia membimbing saya», «pada saat saya membutuhkan-Nya, saya merasakan kehadiran-Nya» atau «dalam setiap hal yang sangat kecil pun, saya merasakan perlindungan-Nya setiap hari».

Ada juga orang muda yang merasakan kedekatan dengan Allah seperti anugerah khusus dari Yesus Kristus dalam kehidupan mereka: «hidup saya adalah anugerah Allah dan saya sangat senang hidup di dalam-Nya», «Yesus hadir dalam kehidupan dan pikiran saya».

Beberapa mengalami kehadiran-Nya dalam perayaan sakramen-sakramen sebagai pengalaman penyelamatan-Nya yang kudus: «Yesus, bagi saya, hadir secara khusus dalam Ekaristi dan orang-orang yang berbicara tentang Dia». Sakramen pengampunan dosa membuat mereka semakin mendekat kepada Allah dan merasakan belas kasih kerahiman-Nya dalam hidup dan menarik mereka untuk datang kepada-Nya dan bersatu dengan Dia: «Sakramen pengampunan dosa menyembuhkan jiwa saya» , «setelah mengakukan dosa, saya merasa ringan dan bebas, saya merasa semakin dekat dengan Dia».

Akan tetapi ada beberapa orang muda tidak mengalami kehadiran Allah dalam hidup-Nya: «Siapa Allah? Tidak ada Allah! Allah adalah sebuah proyeksi dari sebuah keinginan yang tidak terpuaskan. Sebuah ilusi! Kita harus mencari kepuasan dalam hidup!». Inilah tantangan bagi kita sebagai misionaris pada zaman ini: bertemu dengan orang muda, laki-laki dan perempuan tanpa Allah, yang tampaknya bahagia dan bersahaja, namun hatinya kosong dan haus akan kasih.

3. TANTANGAN YANG DIALAMI ORANG MUDA DALAM GEREJA
Kita dapat semakin memahami kehadiran Allah melalui pengajaran yang disampaikan dengan kata-kata dan bahasa yang sederhana. Gereja berkumpul bersama, mendengarkan Sabda Allah dan menjawab dengan puji-pujian dan syukur atas rahmat dan belaskasih kerahiman-Nya. Jawaban kita tercermin dalam pengalaman hidup sehari-hari. “Pembawa berita” dan “Penerima berita” saling mempengaruhi, karena mereka adalah sebuah kesatuan yang dapat menyebarkan sebuah pesan yang mendalam dan kuat. Komunikasi adalah sebuah proses yang terjadi antara dua orang atau lebih dalam sebuah situasi bersama dan mereka berbicara tentang sesuatu yang bermakna. Dalam kenyataannya orang muda seringkali mengalami kesulitan dalam dialog ini.

a. MASALAH PESAN
Komunikasi adalah saat seseorang berbicara kepada orang lain. Ia dapat berbicara menggunakan kata-kata (komunikasi verbal), tangan, mata, tubuh, silensium, gambar, surat, seni, fotografi (komunikasi non verbal). Tidak akan terjadi komunikasi apabila tidak ada hubungan timbal balik, datang dan kembalinya pesan. Dalam setiap komunikasi ada subyek sebagai pembawa pesan dan ada rekan bicara yang menerima pesan ini.

Kesulitan terjadi apabila pesan yang diterima berbeda dengan maksud dari pembawa berita. Penerimaan pesan ini tergantung dari kemampuan berpikir, budaya, kemampuan berbicara, kedudukan dalam kelompok dan pengalaman masa lalu, nilai-nilai, pembinaan dan perkembangan lingkungan hidup. Hambatan ini dapat terjadi dari si “pembawa pesan”, “penerima pesan” dan “saluran.” Sebagai contoh: berbicara mengenai doa kepada orang muda, jelas berbeda ketika berbicara kepada para suster atau frater. Seringkali orang muda mengeluh: «kotbah-kotbahnya berat banget, bahasanya terlalu tinggi. Sayang, saya tidak mengerti apa-apa». Orang muda seringkali tidak dapat memahami dan mengalami kesulitan dalam komunikasi.

b. MASALAH PERASAAN
Komunikasi terganggu karena dipengaruhi oleh perasaan yang timbul pada setiap orang ketika sedang berbicara dan mendengar. Dalam mewartakan Kabar Gembira, biasanya disampaikan sebuah kritikan dan saran yang baik untuk membangun kehidupan sehari-hari.

Sebuah komunikasi dirasakan, apabila berbicara mengenai sesuatu; berdasarkan kenyataan dan memiliki arti bagi si penerima pesan. Sebenarnya komunikasi yang baik dapat tejadi bila orang mau meneliti kembali perasaannya dan menyadari bahwa pertumbuhan iman merupakan tanggung jawab setiap orang.

Zaman ini banyak orang muda meninggalkan imannya dan berusaha membuat pertanyaan-pertanyaan untuk membenarkan dirinya sendiri: bagaimana seharusnya manusia dapat menerima Kabar Sukacita itu? Apakah yang dapat mendorong orang muda Katolik untuk mewartakan Injil yang bertemu dengan penderitaan dalam setiap hati manusia? Sekularisme merupakan tantangan yang terbesar zaman ini untuk evangelisasi bagi orang muda.

c. MASALAH BAHASA
Komunikasi tentang iman sangat membutuhkan kata-kata dan tanda-tanda yang sederhana, nyata dan menyentuh hati. Bagaimana berbicara mengenai Allah? Bahasa yang baik adalah yang dapat membuat pengalaman kehadiran Yesus hidup dalam komunitas tersebut dan memperlihatkannya dalam kepercayaan di hadapan setiap orang muda.

Paus Paulus VI mengatakan bahwa orang zaman ini lebih senang mendengarkan seorang saksi daripada seorang pengajar, kalaupun ia mendengarkan seorang pengajar karena ia adalah seorang saksi juga. Setiap kita dipanggil untuk mewartakan Kerajaan Allah kepada orang muda dan janganlah menolaknya, lakukanlah dengan kerendahan hati, dengan hati dan dengan hidup. Mereka akan menemukan nilai-nilai moral melalui pengalaman hidup rohani mereka. Kita pun dapat memberikan contoh orang-orang dalam Kitab Suci dan para kudus pada masa lalu dan zaman ini.

d. MASALAH TEMPAT
Setiap komunikasi terjadi pada sebuah tempat sementara yang tepat, termasuk ketika berbicara mengenai iman. Tempat dimana orang muda hidup dan berkembang dalam pengalaman hidup rohani mempengaruhi kehidupan mereka. Krisis tempat ini membuat kesulitan dalam mengkomunikasikan iman pada orang muda sehingga menimbulkan permasalahan hingga saat ini. Pribadi Yesus adalah hidup, pengalaman memberikan pesan berharga.

Menghadapi krisis ini, orang muda mencari kelompok-kelompok baru untuk mengidentifikasikan dirinya. Salah satu tempat ini adalah komunitas gerejani dalam acara liturgi, hidup dalam komunitas, pertemuan orang muda dan manifestasinya, kunjungan ke tempat-tempat berdoa atau ziarah.

e. MASALAH HUBUNGAN
Kita dapat bertanya pada diri sendiri bagaimana seharusnya pengalaman hidup rohani saya sebagai orang yang percaya dan yang hidup dalam komunitas? Apa yang dialami oleh orang muda?

Pengalaman memberikan sebuah pesan, menghasilkan buah berlimpah dalam kehidupan baru. Bagi banyak orang muda, apalagi, pengalaman akan hidup rohaninya dipengaruhi pesan yang selalu diterimanya secara khusus dalam hubungan antara pemberi pesan dan penerima pesan. Jadi evangelisasi yang efektif adalah diberikan bukan hanya isi pesannya saja yang berbobot dan dari kelompok mereka, akan tetapi juga dalam hubungan yang baik antara komunitas gerejani dan orang muda. Jikalau hubungan itu sangat lemah, maka pesan yang baik pun tidak akan pernah sampai kepada mereka.

4. PENDAMPINGAN ORANG MUDA
Pendampingan terdiri dari dialog pribadi dan formal, dan menjalin hubungan bersama yang dapat membantu orang muda mengenali nilai-nilai hidupnya dan merenungkan pengalaman hidup yang dialaminya menurut situasi dan orientasi pribadi, dan akan menjadi terang dalam kehidupan mereka.

Mungkinkah seseorang yang tidak sedang berjalan menuju kepada kepenuhan hidup kristiani dapat mendampingi sesamanya dalam jalan menuju kedewasaan rohani? Jalan menuju kedewasaan rohani, bukan jalan sendirian, akan tetapi sebuah perjalanan bersama. Oleh karena itu perlu dialog antara orang muda dan para pembina atau pendamping sebab dengan saling berbagi dan percaya akan tercapai kehidupan yang lebih berharga dan bahagia.

Pendampingan kepada orang muda terjadi karena: kehadiran orang muda: ada keinginan untuk mengenal mereka dan berbagi dengan kehidupan mereka, suasana kekeluargaan, kasih dan percaya; kehadiran para pembimbing dalam kelompok: mereka memberikan nasehat, saran, dialog dengan setiap orang muda; dialog pribadi: sistematis dan teguh, menjadi benar dan bimbingan rohani; yang membawa mereka kepada sakramen pengampunan dosa dan Ekaristi.

Pendampingan orang muda merupakan sebuah perjalanan yang bertahap, dituntut waktu dan kesabaran. Pendampingan rohani harus mendorong semangat untuk bertumbuh dalam hidup rohani sampai mencapai kepenuhannya dan menghasilkan buah-buahnya, terutama persatuan cinta kasih dengan Allah dan kasih kepada sesama dalam pelayanan dan kesaksian hidup. Perjalanan rohani adalah perjalanan yang dinamis.

KESIMPULAN
Ketika berbicara mengenai orang muda, kita perlu perhatian, jangan tergesa-gesa membuat penilaian yang umum. Kita perlu melihat kenyataan yang ada seperti latar belakang budaya dan pengalaman hidup rohani orang muda tersebut. Sebaiknya kita belajar untuk melihat dan merenungkan kehidupan mereka. Akan tetapi kehidupan orang muda bila dilihat dari segi psikologi dan sosiologi hampir sama semuanya di seluruh dunia.

Setelah kita mengenal bagaimana kehidupan orang muda dalam situasi mereka, maka kiranya kita pun dapat membimbing, menolong dan mengajarkan mereka untuk mencintai Allah dan kehidupannya. Bukankah kita semua dipanggil Allah dalam kehidupan dan cinta-Nya? Marilah kita membawa orang muda untuk “melihat Allah” yang senantiasa hadir dalam hatinya (1Kor 3:16). Bersama para peziarah di Sion, orang muda pun dapat mengulang-ulangi: «wajah-Mu kucari, ya TUHAN» (Mzm 27:8).

Pertapaan Karmel,
Sr. Maria Sesilia, P.Karm

Sumber : http://www.seminarikwi.org/

baca selanjutnya...

Sabtu, 09 April 2011

"Hai Anak Muda, Aku Berkata Kepadamu, Bangkitlah!"

Saudara-saudari terkasih, khususnya teman-teman muda sekalian, dalam Lukas 7: 11-17, Santo Lukas mengisahkan sebuah mukjizat yang dikerjakan oleh Tuhan kita Yesus Kristus. Dalam kisah mukjizat tersebut diceritakan bagaimana Yesus membangkitkan seorang pemuda – anak seorang janda dari Nain – yang telah meninggal dunia. Tuhan merasa sedih melihat sang janda, yang anak satu-satunya telah mati itu. Karena kasih-Nya, Tuhan kita kemudian menjamah anak muda tersebut dan mengembalikan hangatnya kehidupan ke dalam raganya.

“Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Inilah kata-kata Yesus kepada orang muda tersebut. Perintah Tuhan ini didengar oleh anak muda tersebut. Dan karena itulah, anak muda ini kembali dari dunia kematian untuk melaksanakan perintah Tuhan kita. Disana kita semua, terutama orang muda, diajak untuk mengingat bahwa kita diwariskan sepercik api gairah, yang semestinya memancar dalam kehidupan orang muda, seturut indahnya dinamika hidup yang dihadapi dengan segala macam kebutuhan dan tantangan yang ada.

Memang, keberadaan kaum muda biasanya diidentikkan dengan kobaran gairah, kreativitas, dan harapan masa depan. Kaum muda seringkali diposisikan sebagai generasi para penerus, gerenasi yang pada waktunya nanti akan mengemban estafet pengembangan kehidupan, dan dengan demikian berarti juga pengembangan dunia. Kaum muda katolik tidak lepas juga dari kelompok tersebut.

Kaum Muda dan Iman

Kaum muda terkasih dan saudara-saudari sekalian, bulan ini kita bersama-sama memperingati hadirnya Allah ke dalam dunia. “Emanuel, Allah beserta kita”. Bersama kita memperingati bagaimana Allah menjadi seperti kita, manusia, melalui Yesus Kristus, Putera-Nya, Tuhan kita. Dalam Peristiwa ini, kita diajak mengenangkan kembali Bapa Yosef dan Bunda Maria. Dalam peristiwa iman ini kita diajak kembali mengingat bahwa khususnya melalui Maria, Bunda kita, sang Sabda itu telah menjadi Manusia. Dalam diri manusia Maria ini, benih Ilahi tumbuh dan berkembang dan menjadi anugerah yang sungguh berlimpah kepada seluruh umat manusia.

Vere Homo, Homo Verus. Benih Ilahi ini menjadi sungguh-sungguh manusia. Dan sebagai manusia, Ia menjadi teladan manusia yang hidup benar di hadapan Allah. Manusia tidak hanya dipercaya menghadirkan benih Ilahi itu, namun juga mendapatkan anugerah untuk menumbuh-kembangkan benih itu. Dalam diri manusia Yesus, sang Sabda menjelma menjadi Allah yang sungguh nyata terlibat dengan segala pengalaman manusia.

Maria sebagai teladan umat beriman mengajarkan kepada kita semua bahwa manusia, sekecil dan serapuh apapun, membawa dalam dirinya benih Ilahi, yang menunggu untuk dirawat dan dikembangkan. Benih ilahi ini tertanam dalam setiap sanubari kehidupan, agar dengannya manusia, dan akhirnya seluruh kehidupan, diarahkan kepada Allah dan memuliakan sang Sumber kehidupan sendiri.

“Hai anak muda, Aku berkata kepadamu bangkitlah!” Sabda ini menjadi undangan bagi kita semua, terutama orang muda katolik itu sendiri. Untuk menghargai hidup yang kita miliki sebagai undangan untuk datang kepada Allah, serta untuk terlibat dalam karya Allah di dunia sejak saat ini. Kita semua diundang untuk mengisi dan mewarnai kehidupan, agar menjadi semakin berkembanglah hidup bersama.

Tantangan Hidup Orang Muda

Setiap manusia memiliki tantangan dan dinamika masing-masing. Tidak jarang pula, tantangan ini menjadi milik sebuah generasi secara umum. Acapkali pula, tantangan ini menjadi sebuah keprihatinan yang membutuhkan banyak pikiran dan perhatian. Begitu pula dengan orang muda. Tuntutan hidup dan berbagai tawaran kehidupan kiranya membentuk pula orang-orang muda menjadi 'anak-anak zaman' dengan segala cirinya. Suasana kehidupan ini seringkali juga ditemukan sebagai sebuah nilai atau kriteria hidup yang diarah dan dicoba dicapai oleh orang muda sendiri.

Pada jaman ini, orang muda hidup dalam suasana yang memiliki berbagai kemungkinan namun sekaligus juga kewajiban. Saat ini, orang muda seringkali tenggelam dalam kesibukan hidup mereka sendiri baik itu dunia studi maupun pekerjaan, meski kadang ada pula yang menimbulkan keprihatinan karena hidupnya yang seolah ogah-ogahan. Seringkali, orang muda secara realistis mengatakan bahwa keterlibatan mereka dalam kegiatan menggereja tidak memiliki dampak perkembangan bagi diri mereka pribadi, misalnya untuk mendapatkan pekerjaan.

Dalam dunia orang muda sendiri umumnya terdapat beragamnya komunitas. Komunitas ini terentang dari komunitas teritorial gerejawi, sampai pada komunitas-komunitas kategorial, bahkan sampai komunitas yang terjadi karena pertemanan. Keragaman komunitas di kelompok orang muda tentu menjadi kekuatan tersendiri bagi orang muda sendiri untuk mengembangkan diri, sekaligus juga bagi gereja. Namun, kemajemukan ini seringkali kurang dibarengi dengan kesadaran sebagai satu warga Gereja yang sama.
Oleh karena itu, pentinglah pelbagai macam persoalan ini direnungkan dan disikapi dengan bijak. Selain itu, sangatlah dibutuhkan keterlibatan semakin banyak orang untuk memikirkan, bagaimanakah persoalan-persoalan ini mestinya ditanggapi.

Mulailah Saat Ini !!

“Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Undangan ini berlaku saat ini juga. Seperti pemuda dari Nain ini, kitapun diminta bangkit, mulai dari sekarang. Perlulah kiranya disadari, bahwa kaum muda sebagai masa depan Gereja adalah juga masa kini Gereja. Masa depan terbentang luas. Namun, masa depan tidak dibentuk dalam cita-cita dan idelaisme belaka. Masa depan dibangun pada masa hidup kita.

Masa depan yang luas dan menjanjikan tersebut akan memiliki arti bila masa depan itu dibentuk, diberi media untuk tumbuh, sejak saat ini. Oleh karena itu, keterlibatan dan pendampingan bagi kaum muda menjadi tanggung jawab bersama, juga dalam hidup kita saat ini. Undangan Tuhan kepada pemuda di Nain menjadi undangan pula bagi setiap orang muda. Namun, undangan itu juga merupakan tanggungjawab setiap anggota Gereja semua. Kaum muda adalah bagian warga Gereja dengan berbagai kelebihan dan kekurangan yang dimiliki kaum muda, baik sebagai pribadi maupun dalam kebersamaan. Dalam keadaan itu, sangatlah dibutuhkan perhatian dan kemurahan hati.

Perhatian dan kemurahan hati, agar mereka bisa belajar menjadi generasi penerus Gereja. Dalam pada itu, berarti pula pengertian dan kesabaran untuk membantu berkembang, meskipun kadang mereka ini jatuh dalam kekeliruan. Orang berkata 'belajar tak mungkin tanpa kesalahan'. Namun, kaum muda sendiri, berupayalah membuat yang terbaik bagi diri anda sendiri dan semua saudara beriman. Kemurahan hati yang ditunjukkan mesti dibarengi dengan tanggungjawab pribadi, supaya kemurahan hati itu tidak diselewengkan menjadi kesempatan untuk hidup bermalas-malasan. Meskipun kadang mereka sungguh ingin menampilkan jati diri kemudaannya, janganlah melupakan warisan iman yang terbukti nyata mengembangkan kehidupan menggereja. Harapan kita bersama, semoga dengan demikian, Gerejapun tumbuh menjadi naungan bagi setiap jiwa. Kini, maupun di masa yang akan datang.
(Mopoer pr)

Dikutip dari : http://buletinlenterabanyumanik.blogspot.com/2009/02/hai-anak-muda-aku-berkata-kepadamu.html

baca selanjutnya...

Selasa, 05 April 2011

Kaum Muda Saatnya Menampakkan Jati Diri

Hari sudah mendekati senja, kira-kira saat itu pukul 17.00, kru Lentera datang di kediaman Bapa Uskup, di kawasan Jl. Pandanaran Semarang, untuk wawancara tentang kehidupan kaum muda di dalam Gereja.

Inilah hasil wawancara singkat kru Lentera dengan Bapa Uskup.

Menurut Bapa Uskup siapakah kaum muda itu ?

Kata siapa, artinya menunjukkan identitas, maka kita tidak bisa berbicara secara umum tentang kaum muda. Saya berikan contoh saja, ini pengalaman kecil, suatu ketika saya menghadiri pertemuan, sesudah pertemuan yang namanya sampah berserakan dimana-mana, kemudian saya tinggal sebentar dan kembali ke situ bersih semua...bersih. Kemudian saya menyapa mereka dan jawaban mereka adalah ”Ya Romo, kami ini adalah kelompok kaum muda pencinta lingkungan hidup”.

Masih banyak lagi contohnya. Kalau mahasiswa memiliki sejumlah uang tertentu, dan disuruh memilih, untuk membeli apa ? mereka lebih memlih membeli pulsa dari pada membeli buku pelajaran. Sehingga kalau ditanya siapa kaum muda itu jawabnya susah, tergantung dari kelompok mana mereka.

Secara teoritis, kaum muda yang berkembang secara fisik, psikologis, rohani sesuai dengan usia-usianya. Secara fisik tentunya terjaga kesehatannya, makan makanan yang menyehatkan. Kalau dilihat secara psikologis, kaum muda sedang mencari identitas diri, dibutuhkan kesungguhan untuk mencarinya. Tidak hanya ditentukan oleh arus, atau hal-hal yang dari luar dan menuju kematangan. Mulai bisa membedakan hal baik atau buruk, dan menentukan prioritas.

Ketiga secara rohani, mungkin agak sulit, masih dilacak dalam diri orang muda, tetapi benih-benih kerohanian iman nampak. Kongkretnya, apakah orang muda itu memberi waktu yang memadai untuk mengendapkan pengalaman dan memaknai dari sudut iman, menyisihkan waktu untuk bersyukur, membiarkan dirinya disapa oleh Tuhan.

Tergantung gambaran kaum muda yang mana. Tidak dapat dikatakan secara umum, ada yang mendekati, ada yang memang jauh. Hal tersebut harus dicari, tidak bisa dikatakan orang muda sekarang seperti ini atau seperti itu, harus dilihat dengan sungguh-sungguh, bagaimana caranya yaitu dengan bertanya.

Mengapa tahun ini dijadikan sebagai tahun kaum muda?

Ini merupakan rangkaian ardas (arahan dasar) KAS dari tahun 2006-2010, untuk menjadikan keluarga sebagai basis hidup beriman, tahun 2009 sebagai tahun kaum muda, dimana suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan dalam keluarga. Keuskupan Agung Semarang, dengan adanya tahun kaum muda menyediakan waktu untuk menampakakan jati diri kaum muda yang mau mengembangkan diri.

Bagaimana mengangkat peran kaum muda dalam gereja?

Yang sangat ideal, sejak menjalankan pelayanan ini, mari kita duduk bersama, artinya tiap komunitias diharapkan berembug bersama, istilah rohaninya adalah penegasan rohani, untuk menemukan tuntunan Tuhan. Dari keuskupan tidak ada petunjuk, diharapkan kita dapat membaca situasi seperti apa keadaan kaum muda yang dihadapi, ditanya seperti apa keinginan kaum muda atau mereka sendiri disuruh berkumpul untuk berbicara. Menemukan apa yang dibutuhkan oleh kaum muda.

Yang paling pas adalah dengan adanya orang tua yang mendampingi orang muda, tapi memang harus bisa memahami jiwa orang muda, yang memiliki jiwa berbeda dengan orang tua. Dimana gambaran karakter orang muda dan orang tua itu lain secara psikografi, hal ini terkadang menimbulkan konflik. Yang terpenting untuk orang muda adalah dapat menahan diri.

Apakah ada hambatan yang dihadapi gereja, dalam menggiatkan keaktifan kaum mudanya?

Kita harus kritis, dalam arti aktif dan tidak aktif itu, bukan berarti bila mengadakan kegiatan kemudian hanya sedikit orang yang hadir, dikatakan tidak berhasil, tapi kita lihat bekasnya, dari mereka yang datang menjadi perekat bagi yang lain. Tidak mudah mengumpulkan orang muda, karena orang muda memiliki komunitas yang berbeda-beda, disinilah peran penggerak mencoba untuk merangkul komunitas yang berbeda tadi.


Posisi kaum muda di dalam gereja ?

Jika dalam arti Gereja secara luas, posisinya adalah sama, baik antara orang muda, pastor, suster, posisi kita adalah sama yaitu peziarah dalam iman, dengan peran berbeda tiap anggota gereja. Jika posisi dalam organisasi gereja, posisi di masing-masing paroki berbeda, yang banyak terlontar kritik “orang muda tidak banyak dilibatkan dalam pengambilan keputusan pastoral dalam paroki.” Misalnya dalam rapat harian dewan paroki apakah ada orang mudanya? Orang muda kok hanya ambil posisi sebagai jaga parkir. Itu kritik yang selalu muncul, idealnya tentu ikut serta dalam hal pengambilan keputusan, ketika mengambil keputusan mungkin tidak terjadi titik temu antara orang tua dan muda, namun tidak jadi soal. Hal tersebut merupakan bagian dari proses, tentunya juga masih ada pastor paroki yang menentukan keputusan, jika nanti ada kesalahan, ya dievaluasi.

Pesan apa yang ingin Bapa Uskup sampaikan, menanggapi panggilan kaum muda menjadi imam yang Semakin surut?

Yang konseptual, alangkah indahnya hidup ini adalah anugerah, panggilan dan perutusan dari Allah, dan panggilan itu bukan hanya menjadi imam, namun juga berkeluarga. Membangun keluarga adalah panggilan dari Allah, kalau orang sadar hidup berkeluarga adalah panggilan dan perutusan, dia akan serius dalam mempersiapkan diri. Sekarang ini banyak sekali perceraian dalam pernikahan, karena tidak menyadari pernikahan itu apa. Namun jika disadari apapun jalan hidup sebagai suatu panggilan alangkah baiknya, disitu ada tempat untuk menerima, berdoa, dan salib, maka saya tidak jemu-jemu mengatakan bahwa hidup adalah panggilan.

Secara praktis apakah ada yang bertanya pada orang muda mengenai jalan hidup yang akan ditempuh. Sejauh yang ditemui, panggilan jadi imam muncul dengan ditanya entah oleh romo paroki, orang tua. Maka saya sering berpesan orang tua untuk bertanya, maksudnya apakah orang muda sadar betul akan jalan hidupnya. Dengan bertanya dapat memunculkan sebuah keinginan dari dalam diri orang muda terpanggil menjadi imam.

Dikutip dari : http://buletinlenterabanyumanik.blogspot.com/2009/06/kaum-muda-saatnya-menampakkan-jati-diri.html

baca selanjutnya...

Jumat, 01 April 2011

Bangkitlah Kaum Muda Katolik!

Kurangnya perhatian pimpinan gereja, ketiadaan dana serta keterbatasan informasi telah membuat para kaum muda Katolik bingung darimana harus memulai mendirikan seksi komunikasi. Kebingungan itu masih masuk akal jika terjadi di wilayah pedalaman. Namun jika kebingungan tersebut datang dari kaum muda di kota-kota besar, rasanya itu cukup ironis.

Arus deras informasi yang ini didukung oleh teknologi internet dan telepon selularpun, membuat kaum muda kita bertanya-tanya. Apa tugas bidang komunikasi di paroki-paroki? Jawaban yang paling gampang ditemukan adalah bahwa tugas seksi komunikasi itu ialah membuat bulletin, punya radio, punya studio rekaman, mengurus internet, serta media komunikasi lainnya.

Namun, jawaban di atas itupun masih membingungkan kaum muda di perkotaan. Ada asumsi bahwa memulai kegiatan komunikasi harus dari hirarki di atas. Pimpinan Gerejalah yang harus memulai dan membuat arahan komunikasi.

Kaum muda dengan semangat muda, seyogyanya bisa mendobrak tradisi tersebut. Masih segar di telinga kita bagaimana Barack Obama, kandidat muda berlatar belakang wartawan, akhirnya tampil sebagai calon presiden kulit hitam pertama di negara adidaya Amerika Serikat. Masih segar pula pembuktian bahwa internet menjadi faktor kunci kemenangan sang kandidat . Tampilnya Obama telah menjadi bukti betapa kekuatan arus informasi dan komunikasi yang didukung dengan semangat perubahan, mampu mendobrak undang-undang tak tertulis "Presiden Amerika Serikat harus berkulit putih".

Maka amatlah disayangkan jika kaum muda Katolik merasa terbentur dengan rintangan otoritas hirarki ataupun kekurangan sumber informasi. Ide-ide kreatif yang bergulir dari obrolan di café, kerjasama lintas sosial, ataupun penggalangan solidaritas karitatifpun, bisa menjadi langkah bagi awal kaum muda untuk membangun komunikasi bagi gerejanya. Mulai dari ide perayaan Valentin, donor darah, warnet, kerja bakti kebersihan kerjasama antara Mudika dan RT setempat sampai pada forum dialog formal, secara tidak langsung sudah menjadi sumber pewarta gerejanya.

Semua wujud fisik media seperti radio, tv, handphone dan internet hanyalah bentuk fisik sarana pewartaan. Gerak kaum muda sesungguhnya merupakan seksi komunikasi gereja yang sebenarnya.

"Maka, bangkitlah kaum muda! Buatlah sesuatu dengan semangat, maka Gereja akan berubah. Karena Gereja adalah dirimu juga!

Sumber : http://www.mirifica.net

baca selanjutnya...

Senin, 28 Maret 2011

Tentang Pendampingan Kaum Muda

SIAPAKAH KAUM MUDA ?

Lazimnya pembicaraan tentang kaum muda diarahkan pada mereka yang duduk di SLTA atau angkatan kerja muda. Sering pula usia SMP sudah dilibatkan sekalipun seringkali sebatas sebagai penggembira. Mungkin ada baiknya jika lensa bidikan diperluas dengan melibatkan anak-anak SD pasca-komuni pertama sebagai kelompok kaum muda pula.

Bisa kita cek pada Bapak-Ibu guru SD, bahwa pola pikir dan pola sikap anak-anak usia kelas 5 dan 6 SD sesungguhnya sudah lebih condong ke dalam kelompok remaja daripada anak-anak. Mungkin selama ini kelompok ini dan usia SMP sudah tersedia wadah yaitu Relik (Remaja Katolik). Namun perlu dipertimbangkan bagaimana pengelolaan mereka menggunakan paradigma remaja, dengan bidang yang mendampingi juga menyatu dengan pendampingan kaum muda secara umum.

Di beberapa paroki terbukti bahwa anak-anak ‘tanggung’ ini lebih nyaman dikelompokkan sebagai mudika awal daripada sebagai Relik yang sering berkonotasi BIA (Bina Iman Anak) gede. Psikologi perkembangan memang menyebutkan bahwa pra-remaja di usia ini jauh lebih bisa menerima perlakukan sebagai ‘orang dewasa’ daripada terus menerus diperlakukan sebagai anak, sekalipun anak baru gede.

Pendampingan kaum muda yang dilakukan sejak dini kiranya akan memberikan bekal lebih banyak pada mereka, hingga pada saatnya nanti –selepas SMA/SMK— kita lebih mantap melepas mereka merantau ke luar kota.

DI MANA WADAH MEREKA ?

Ada beberapa wadah yang bisa dipikirkan. Mungkin beberapa agak kontroversial sehingga perlu dipertimbangkan dengan matang.

Relik (Remaja Katolik) : ini adalah wadah resmi yang selama ini sudah ada. Gagasan yang bisa diberikan adalah melaksanakan pendampingan Relik sebagai bagian dari pendampingan kaum muda (OMK = Orang Muda Katolik) sehingga remaja muda usia ini merasa lebih enjoy karena diperlakukan sebagai orang dewasa sebagaimana yang mereka harapkan.

Paguyuban Lektor : Dengan tetap memberikan penghargaan kepada para lektor yang telah puluhan tahun setia memberikan pelayanannya sebagai pembaca sabda, kiranya sudah waktunya kita berpikir untuk memberikan porsi kepada remaja kita (bahkan yang duduk di kelas 5 -6 SD) untuk berpartisipasi dalam tugas pelayanan ini. Para lektor senior yang telah berkiprah selama ini diharapkan bersedia menjadi bidan dan pendamping lahirnya sebuah paguyuban lektor yang menjadi ajang pembelajaran dan kesempatan bagi adik-adik ini. Memang mengharukan melihat para Bapak dan Ibu masih tekun dan rendah hati bersedia menerima tugas ini, tapi pasti jauh lebih menggembirakan jika menyaksikan anak-anak dan adik-adik kita yang tampil di depan. Mungkin belum sebagus bapak – ibu dan kakak-kakaknya, tapi tetap merupakan wajah gereja kita masa depan yang akan selalu menjadi lebih baik.

Misdinar : tak banyak hal yang perlu ditambahkan. Kelompok ini sudah cukup solid dan kompak, dapat menjadi contoh untuk kelompok muda lainnya. Mungkin yang perlu diingat hanyalah supaya anak-anak kita yang bersekolah di sekolah non Katolik (negeri atau swasta lainnya) tetap mendapatkan kesempatan untuk berkiprah di bidang pelayanan ini.

Pemazmur : Bidang ini tentu tak mudah. Tapi kalau melihat bagaimana talenta bernyanyi cukup banyak dijumpai pada anak-anak kita, kiranya ini bukan hal yang mustahil. Kita mulai dari 5 – 7 anak dahulu. Awal yang baik pasti akan berkembang menjadi lebih baik lagi.

Koor Kaum Muda : Kita cukup berbesar hati bahwa di paroki kita telah muncul kelomp[ok-kelompok paduan suara yang cukup baik. Yang bisa kita tunggu sekarang adalah munculnya kelompok kor baru dari kaum muda. Kita undang keterpanggilan para dedengkot koor paroki kita untuk berani peduli mengembangkan koor sebagai salah satu bentuk kegiatan kaum muda.

Selain kelompok-kelompok itu masih banyak kelompok yang bisa dikembangkan, baik yang bersifat fungsional pelayanan maupun yang bersifat minat dan bakat. Asumsinya, semakin banyak kelompok akan semakin banyak kaum muda yang terlibat, dan semakin banyak pula gagasan dan kiprah kaum muda yang memajukan paroki kita.

Lalu bagaimana peran pengurus dan pendamping OMK? Mungkin di sini dapat diibaratkan dengan KNPI, organisasi pemuda yang menaungi semua organisasi kepemudaan. OMK menjadi wahana pertemuan kelompok-kelompok tersebut sekaligus sebagai regulator yang menjaga agar masing-masing kelompok dapat berjalan sesuai dengan rel visi misi paroki.

PENDAMPINGNYA ?

Untuk kerja besar seperti ini memang idealnya pendampingnya berbentuk tim, dengan pembagian tugas pendampingan sesuai dengan kelompok-kelompok yang ada. Hanya yang perlu dicatat adalaj para pendamping ini hendaknya memiliki kesungguhan, komitmen, ketulusan dan mampu menyelami dunia kaum muda dengan segala dinamikanya.

Ini bebarapa urun rembug tentang pendampingan kaum muda. Tentu harus dibahas lebih mendalam dan hati-hati. Tapi intinya, sudah waktunya pendampingan kaum muda menjadi perhatian bersama, tidak hanya ‘njagake’ Ketua Bidang yang bersangkutan, tetapi menjadi kerja bareng lintas bidang dan seluruh umat.

baca selanjutnya...

Jumat, 25 Maret 2011

Menurunnya Komitmen Orang Muda Katolik Dalam Komunitas

Gemericik air akuarium mengiringi harapan Romo Andang agar komunitas orang muda Katolik berkomitmen memperjuangkan tujuan bersama demi pertumbuhan bersama pula.

Komunitas orang muda Katolik tentu saja menjadi salah satu perhatian Romo Andang. Menurutnya, komunitas –komunitas tersebut bisa jadi salah satu sarana bagi orang muda untuk tumbuh dan berkembang. Namun, munculnya era modernisasi menyebabkan potensi pertumbuhan dan perkembangan tersebut menjadi terhambat. Permasalahan inilah yang menurut romo Yesuit itu perlu kita cari solusinya bersama.

Dalam pemahaman romo berusia 47 tahun ini, komunitas merupakan suatu bentuk kebersamaan dimana ada sesuatu yang diperjuangkan bersama. Idealnya, “dalam komunitas, orang muda bisa saling memperkaya, mendukung, bertumbuh sebagai suatu persaudaraan yang punya tujuan bersama dan diperjuangkan bersama.” Oleh sebab itu, Gereja Katolik pun tak segan memberikan dukungan bagi perkembangan komunitas. Contoh dukungan tersebut misalnya dengan menyediakan dana 5% dari kolekte untuk kegiatan-kegiatan orang muda. Namun tak hanya berhenti disitu. Selain memfasilitasi dengan dana, Gereja juga mengarahkan komunitas-komunitas tersebut agar bisa berkembang terus.

Namun saat ini gambaran ideal tersebut mendapati tantangan serius yang muncul akibat modernitas. Era teknologi informasi yang berkembang pesat ini, memungkinkan munculnya komunitas-komunitas baru yang difasilitasi oleh internet. Romo Andang menyebutnya komunitas maya atau virtual. Komunitas semacam grup Facebook atau mailing list ini tidak bisa dihindari kemunculannya karena ini bagian dari kemajuan jaman. Namun, disamping kemudahan akses informasi yang bisa didapat, komunitas ini juga membawa pengaruh bagi anggotanya, khususnya dalam hal kebersamaan.

Kebersamaan dalam komunitas maya menjadi sesuatu yang sulit dicapai. Menurut Romo Andang, hal ini disebabkan karena orang muda saat ini merasa sudah cukup dengan dirinya sendiri, sehingga mereka enggan untuk berkomunitas. Mereka lebih tertarik dengan komunitas maya yang tidak mengharuskan diri untuk bertemu muka secara langsung. Dan yang lebih disayangkan lagi, orang-orang muda tersebut sulit berkomitmen.

Saat ini, komunitas yang cair, dimana tidak terlalu menuntut komitmen cenderung lebih disukai orang muda. Apalagi jika pertemuan rutin sudah bisa dilakukan secara virtual melalui internet. “Kalau saya suka, saya datang. Kalau tidak suka, ya enggak datang,” lanjut romo yang juga mengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini. Imbuhnya, perilaku semacam itu sangat mengkhawatirkan, karena komitmen dihargai lebih rendah dari kebebasan individu dan pribadi.
Fenomena menurunnya komitmen tersebut tentunya tidak sejalan dengan harapan Gereja Katolik terhadap kaum muda. Orang muda, diharapkan adalah manusia-manusia yang tegar. Jika mereka tegar, keluarganya pun tidak akan rapuh, dan lebih jauh lagi, masyarakatnya pun tidak akan rapuh. Ketegaran itu, menurut Romo Andang bisa berkembang jika seseorang berkomitmen. Komitmen itu, bisa dilatih jika orang ada di dalam komunitas. Sebab dalam komunitas, diharapkan orang muda akan berkomitmen untuk memperjuangkan suatu tujuan bersama. Jika komunitasnya cair, maka komitmennya pun akan cair, dan perjuangannya pun tidak akan maksimal.

Lalu bagaimana mengatasi permasalahan tersebut? Menurut Romo Andang, hal itu tidak bisa diatasi. “Kalau mau diatasi, dunia harus diputar seperti dulu lagi,” begitu jawabnya. Yang bisa dilakukan adalah memaksimalkan komunitas-komunitas baru, sehingga bisa ada komitmen di dalamnya. Selain itu, adanya tujuan bersama yang sungguh-sungguh bisa diperjuangkan dalam komunitas merupakan salah satu keharusan dalam kelangsungan. Dan akhirnya, Kita pun diajak untuk ikut memikirkan cara baru dalam berkomunitas, sehingga dia tetap bisa menjadi sarana kita untuk bertumbuh.

Sumber : http://fatriatmokohs.com/archives/650

baca selanjutnya...

Selasa, 22 Maret 2011

Pembinaan Kaum Muda Katolik di Persimpangan Jalan

Tidak bisa dipungkiri bahwa berkembang tidaknya suatu bangsa tergantung pada kaum muda. Dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia, kaum muda mempunyai posisi yang penting sebagai pembawa perubahan. Setiap ada kemandegan, yang berujung pada penderiataan rakyat, kaum muda siap mendobraknya. Dengan demikian, tidak disangsikan lagi peran kaum muda sebagai “agent of change”.

Situasi demikian juga terjadi dalam lingkup gereja Katolik. Kaum muda merupakan pembawa perubahan kehidupan menggereja. Kehadiran mereka bukan hanya sebagai ‘bolo dupakan’ dengan aktifitas seputar tempat parkir. Tetapi mereka diharapkan, dan sudah seharusnya lebih berperan lagi sebagai penggerak kehidupan menggereja. Idealisme demikian, kiranya masih jauh dari harapan, ketika melihat sepak terjang orang muda. Tidak jarang saling menyalahkan (dalam diam) antara orang muda dan orang dewasa. Mungkinkah bahwa titik lemahnya di dalam pendampingan kaum muda itu sendiri?

Pengalaman terlibat dalam dinamika bersama kaum muda selama ini. Sepertinya orang muda mempu-nyai dinamika tersendiri, yang berbeda dengan dinamika orang tua. Perbedaan dinamika ini terkadang kurang terjembatani. Sehingga saling silang pengertian mudah terjadi. Satu hal yang mungkin bisa dilakukan adalah duduk bersama, sharing bersama. Berbicara kemauan masing-masing untuk kemudian mencari titik temu atau setidaknya saling mengerti.

Macetnya kegiatan-kegiatan orang muda juga disebabkan oleh kurang atau tidak adanya evaluasi kegiatan. Kalaupun ada evaluasi ya tinggal evaluasi, tanpa ada tindak lanjutnya. Sekedar memenuhi permintaan untuk sahnya laporan pertanggungjawaban. Dana terkadang muncul juga menjadi kendala. Namun benarkah dana merupakan kendala? Persoalan pendanaan seharusnya hanyalah persoalan kecil, ketika ada kreatifitas dalam penggalian dana.

Beberapa tantangan di atas disinyalir merupakan dosa pembinaan kaum muda itu sendiri. Oleh Philips Tangdilintin (2008) diungkapkan adanya lima dosa pembinaan kaum muda.

NATO = no action, talk only”, banyak omong, kaya rumusan, kurang aksi!
Tidak dipungkiri pentingnya peran dan pembinaan kaum muda. Dalam banyak kesempatan pertemuan hal ini selalu menjadi topik dan bahasan yang hangat, yang akhirnya menghasilkan rumusan-rumusan rekomendasi yang sangat baik. Rekomendasi kemudian disosialisasikan dan berhenti sebatas sosialisasi saja. Penjabaran aktualisasi ke dalam kegiatan-kegiatan atau gerakan-gerakan pembaharuan tidak terjadi.
Menganggap orang muda katolik hanya ‘harapan masa depan’.

Orang muda dianggap sebagai the churchmen of tomorrow, warga gereja masa depan. Sehingga dalam setiap kegiatan-kegiatan, orang muda cenderung ditempatkan sebagai pelengkap (penderita), kurang mendapat tempat yang strategis. Hal ini disebabkan ‘katanya’ orang muda kurang pengalaman. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana mungkin punya pengalaman, ketika tidak diberi tanggungjawab atau dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan.

Menganggap pembinaan orang muda katolik sebagai ‘opsional’
Perubahan dan pembaharuan menuju keadaban publik merupakan opsi gereja yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Tanggung jawab dan peran terbesar dalam perubahan dan pembaharuan ada di tangan kaum muda. Untuk itu dibutuhkan generasi muda yang lebih jujur, lebih adil, lebih disiplin, lebih bertanggung jawab, lebih terbuka-inklusif, memiliki daya juang dan iman yang kokoh. Maka pembinaan orang muda katolik haruslah menjadi pilihan esensial dan imperaktif, bukannya opsional.

Bergerak seputar altar, lupa misi sosial.
Ketika pembinaan orang muda katolik sudah berjalan, kegiatannya berlangsung di seputar altar. Kegiatan sosial atau politik kurang mendapatkan porsi. Sehingga tidak heran semakin berkurangnya tokoh-tokoh sosial atau politik dari kalangan muda katolik.

Tanpa konsep, tanpa sistem, tanpa kontinuitas
Pembinaan masih banyak yang ditangani secara parsial, belumlah merupakan suatu sistem yang konsisten dan continuous improvement (peningkatan terus-menerus). Dapat dikatakan ganti pengurus ganti program atau kebijakan.
Untuk menghadirkan ciri kaum muda sebagai agent of change, agen perubahan yang energik, kreatif, solutif, dinamis, empatik, kritis, dan berani mengambil resiko, mau tidak mau harus didukung dengan perubahan paradigma pembinaan, atau pendampingan kaum muda katolik. Paradigma yang seperti apa? Itu menjadi tanggung jawab bersama, tanpa terjebak kembali ke dalam lima dosa pembinaan. (Br. Conrad, CSA)

Sumber : http://buletinlenterabanyumanik.blogspot.com/2009/02/pembinaan-kaum-muda-katolik-di.html

baca selanjutnya...

Selasa, 22 Februari 2011

Orang Muda Katolik (OMK) di tengah arus hubungan antar agama dan kepercayaan (HAK)

1. Meluas Sejak ”Zaman Kita”
Arus dialog antar-agama makin kuat sejak 1960-an. Seperti teologi pembebasan, teologi pluralisme agama-agama memiliki akar resminya dari Konsili Vatikan II (1962-1965), dan benihnya diperkenalkan kepada Gereja oleh Paus Paulus VI dalam ensikliknya Ecclesiam Suam (6 Agustus 1964). Teologi pluralisme agama-agama ini merupakan buah dari panggilan Konsili bagi Gereja agar berada dalam dialog dengan agama-agama lain. Jika teologi pembebasan mengambil titik pijak pada dokumen Gaudium et Spes (“Kegembiraan dan Harapan”), maka teologi pluralisme agama-agama berpijak pada dokumen Nostra Aetate (”Zaman Kita”), deklarasi hubungan Gereja terhadap agama-agama non-Kristen. Walaupun dokumen yang ditetapkan tahun 1965 ini singkat saja, hanya 5 artikel, namun telah secara signifikan mengubah sikap Gereja Katolik dalam membangun hubungan dengan masyarakat dan agama-agama lain. Khususnya, artikel di bawah ini sangat revolusioner, paling tidak menurut standard Gereja tahun 1960-an:

”Gereja Katolik tidak menolak apapun yang benar dan suci dalam agama-agama [The Catholic Church rejects nothing which is true and holy in these religions]. Dengan sikap hormat dan tulus, Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar kebenaran yang menerangi semua orang”(NA,2). Sampai di sini kita teringat pula akan Lumen Gentium: ”Sebab mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta GerejaNya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendakNya yg mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal”(LG,16).

Catatan berikutnya dalam NA artikel 2 itu mengingatkan, bahwa Gereja tidak mau terjebak dalam indiferentisme:
”Namun Gereja tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni jalan, kebenaran dan hidup (Yoh 14:6); dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup, dalam Dia pula Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diriNya (2Kor 5:18-19). Di sini ingatan melayang ke LG 14 yang berseru untuk orang Katolik sendiri: ”Berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi, konsili mengajarkan bahwa Gereja yang sedang mengembara ini perlu untuk keselamatan. Sebab hanya satulah pengantara dan jalan keselamatan yakni Kristus. Ia hadir dalam TubuhNya yakni Gereja. Dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan baptis (Mrk 16:16; Yoh 3:5), Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja… Maka andaikata ada orang yang benar-benar tahu bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan”.

Alinea terakhir NA 2: ”Gereja mendorong para puteranya, supaya dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerja sama dengan penganut agama-agama lain, sambil memberi kesaksian tentang iman serta peri hidup Kristiani, mengakui, memelihara, dan mengembangkan harta-kekayaan rohani dan moral serta nilai-nilai sosio-budaya yang terdapat pada mereka.

Setelah itu, menguatlah arus dialog antar-agama dalam kepala dan anggota-anggota tubuh Gereja Katolik, dibandingkan era sebelumnya. Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC) dalam sidang-sidangnya sejak tahun 1990–1995 bergembira dengan arus teologi pluralisme. Tidak heran karena konteks Asia menuntut Gereja berdialog dengan agama-agama lain di samping dengan budaya-budaya dan realitas kemiskinan. Memang, agama-agama besar terlahir di Asia. Bahkan penerbitan dokumen Dominus Iesus 5 September 2000 oleh Kongregasi Ajaran Iman, yang menekankan karya penyelamatan Allah melalui Kristus dalam Gereja Katolik Roma, yang sebenarnya mirip LG 14, tidak mematahkan semangat dialog, selain malahan menegaskan bahwa alasan dialog memang diakui muncul karena adanya perbedaan dalam hidup bersama. Isu-isu teologis yang timbul sejak Dominus Iesus tetap menunjukkan bahwa sikap positif atas dialog tetap menempati 95%, sedangkan penolakan atas dialog pasca terbitnya dokumen itu hanya 1% (Edmund Chia, Towards a Theology of Dialogue: Schillebeeckx’s Method as Bridge between Vatican’s Dominus Iesus and Asia’s FABC Theology. Bangkok: 2003).

Komisi Dialog atau Hubungan Antar Kepercayaan di FABC, KWI serta Keuskupan dan Paroki pun dibentuk untuk mengembangkan dialog dengan agama-agama lain, memantapkan hubungan ekumenis, dan relasi dengan penghayat kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dialog kemudian berkembang dalam tujuh (7) bentuk: (1) dialog kehidupan, (2) dialog dalam hidup sehari-hari, (3) dialog karya, (4) kerja sama antar lembaga, (5) dialog pakar, (6) pemahaman dalam persahabatan, (7) dialog pengalaman religius. Dengan demikian sebenarnya bisa ditegaskan kebenaran iman kita ini: Allah sendiri-lah yang menghendaki ”keluar dari dirinya sendiri”, mendatangi manusia untuk berdialog dengan manusia untuk menyelamatkan manusia.

2. Realitas Orang Muda Katolik (OMK) Dalam Arus Dialog
Rapat Pengurus Komisi Kepemudaan KWI 12 Februari 2009, menegaskan agar klausul ”mengembangkan wawasan dan pengalaman dialog dengan agama-agama lain” dimasukkan dalam rancangan Pedoman Pastoral OMK. Usulan atas kalimat itu dalam Pedoman Pastoral OMK itu bukannya tanpa alasan. Arus zaman menuntut kita berdialog antar agama, dan Komisi Kepemudaan semestinya mengajak OMK berlatih berdialog. Maka, dialog antar-agama mesti menjadi perhatian Komisi Kepemudaan pula. Kita tahu dari pengalaman, betapa urusan Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan (HAK) selama ini terkesan menjadi urusan orang tua. Padahal di lapangan, banyak ajakan berdialog kepada OMK di tingkat paroki, kevikepan/dekenat, maupun keuskupan, dan nasional baik oleh pemerintah maupun majelis agama-agama dan forum-forum lintas agama. Kebutuhan untuk menampilkan OMK dalam panggung dialog ini hendaknya bukan hanya karena desakan rasa malu karena selama ini kita sukar memenuhi undangan dari saudara-saudara kita karena minimnya OMK yang mau dan mampu terlibat, namun hendaknya didorong dari dalam oleh ketulusan hati yang penuh syukur atas kasih Allah yang menggapai semua orang. Kesungguhan untuk melibatkan OMK dalam HAK sebenarnyalah bukan karena OMK kita selama ini ”mengkawatirkan” jika harus menjelaskan pengetahuan iman Katolik mereka di antara teman-teman agama-agama lain yang begitu percaya diri, namun lebih-lebih karena perutusan oleh Tuhan sendiri untuk menaburkan cinta kasihNya demi terwujudnya Kerajaan Allah di dunia.

3. Harapan atas OMK di Tengah Arus Dialog Agama-Agama
Pastoral OMK mesti menganut blue ocean management. Karya kepemudaan tak bisa mengincar satu bentuk saja. Fokus Karya KomKep memang hanya satu yakni pengembangan OMK secara holistik pada katolisitas/spiritualitas, kepribadian, kemasyarakatan, kepemimpinan/organisasi dan profesionalitas. OMK Indonesia dengan segala dimensinya harus berkembang, dengan program, bentuk dan cara kegiatan yang beraneka ragam dan banyak pilihan, termasuk pengembangan diri OMK dalam hal dialog antaragama dan kepercayaan.
Oleh karena itu, pastoral OMK dalam konteks HAK semestinya:
1. Menetapkan tujuan pelibatan OMK dalam HAK, berdasar needs analysis, tentu saja bisa dipakai berbagai alat analisis, seperti SWOT, dll, namun juga alat pikir tiga poros keadaban publik (NotaPastoral KWI 2004).
2. Menetapkan desain program yang nyata dalam kerja sama dengan Komisi HAK. Pembinaan Orang Muda Katolik yang holistik, bersama Komisi HAK semoga berani membidik keberanian OMK agar menghayati iman dengan praktek hidup, aktif terlibat dalam hidup kemasyarakatan, berjiwa pejuang wirausaha, menjalani studi dengan baik, mudah berefleksi, mudah mengayunkan hati dalam doa, dan ringan hati menjalin persahabatan dengan teman-teman agama-agama dan kepercayaan lain. Pendek kata, menghasilkan OMK yang siap berdialog dalam ketujuh bentuknya di atas dengan teman-teman agama-agama lain.
3. Menumbuhkan minat OMK akan pengetahuan imannya. Kenyataan ini berbanding lurus dengan kemalasan membaca kekayaan iman dan intelektual, suatu depositum fidei yang dalam dan luas dari Gereja Katolik. Kemalasan dan minimnya pengetahuan iman yang menjadi suatu batu sandungan jika ingin suatu dialog yang lebih mendalam dengan teman-teman agama-agama lain. Apa yang mau didialogkan jika tak tahu persis mengenai aspek-aspek pengetahuan imannya sendiri? Apa bisa berdialog jika tidak terjun langsung dan segera bergaul dengan teman-teman muda dari agama-agama lain?
4. Peluang
Zaman kita memberi peluang baru yakni minat OMK akan teknologi informasi terkini. Jika orang muda Katolik mulai membangun jejaring dalam berbagai minat dengan aneka milist, facebook, twitter, blog, website, tentu saja alat ini akan berguna pula bagi pengembangan jejaring muda Katolik penggerak HAK. Yang saya maksud bukanlah media kontak-kontak romantisme belaka, namun terlebih bagaimana memakai media internet untuk menambah pengetahuan iman Katolik bagi OMK, dan berdialog dengan agama-agama lain dalam 7 bentuknya di atas. Beberapa website Katolik yang dikelola dengan baik oleh umat bisa ditautkan dengan website OMK dalam rangka membina HAK. Orang muda agama lain bisa diundang agar berinteraksi di dalamnya untuk berdialog. Semoga.
Yohanes Dwi Harsanto Pr, Sekretaris Eksekutif Komisi Kepemudaan KWI. Tulisan ini pernah dipaparkan dalam diskusi Komisi HAK Regio Jawa, Februari 2009.

Sumber : http://katolisitas.org/

baca selanjutnya...

Sabtu, 19 Februari 2011

Orang Muda Katolik: Tajam ke Dalam, Tumpul ke Luar?

OMK: Apa dan Siapa Mereka?

Seperti apa potret Orang Muda Katolik Indonesia saat ini? Pertanyaan yang sedemikian kompleksnya, hingga kita pun sulit memberi jawab atasnya. Apa varian-varian yang bisa kita angkat menjawab ‘potret’ darinya kita bisa mendapat gambaran tentang Orang Muda katolik? Kuantitasnya? Kualitasnya? Atau apa?

Adalah setiap orang muda yang sudah dibaptis dalam gereja katolik, dengan rentang usia 13-35 tahun, dan belum menikah menunjuk siapa yang disebut sebagai Orang Muda katolik. Demikian luas jangkauannya, menunjuk pula pada beraneka ragamnya wadah yang menaungi mereka. Tanpa pula lupa, mereka yang justru tidak berada dalam wadah apa pun yang menjadi komunitas berkumpulnya orang-orang muda katolik ini. Mereka justru berada dalam jumlah besar yang ‘menjadi pekerjaan rumah’ tersendiri, bagaimana mereka bisa dirangkul.

Wadah OMK itu memang banyak. Mereka ada di tingkat teritorial paroki, yang sekarang biasa disebut OMK Paroki. Di paroki pun, mereka berkumpul pada komunitas OMK wilayah dan lingkungan. Selain lingkup teritorial, mereka berada di dalam wadah yang kita sebut lingkup kategorial, yang berkumpul berdasarkan kesamaan bakat, devosi dan minatnya. Kita mengenal kelompok seperti Choice, KKMK (Kelompok Karyawan Muda Katolik), Komunitas Lajang Katolik, New Heart Community (Komunitas Single Katolik Yang Mendalami Spiritualitas Hati Kudus Yesus), Corpus Cordis, dan masih banyak lainnya. Namun ada juga kelompok orang muda katolik yang tidak berada di dua lingkup ini. Kita bisa menyebut kelompok seperti KMK (Keluarga Mahasiswa Katolik), PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa katolik Republik Indonesia) dan Pemuda Katolik. Jika dibagi dalam dua kategori besar, maka komunitas Orang Muda Katolik bisa kita pilah jadi dua: yaitu yang parokial dan ekstra parokial. Yang parokial, mencakup teritorial dan kelompok kategorial, sementara yang ekstra parokial menunjuk pada PMKRI, Keluarga Mahasiswa katolik, dan Pemuda katolik.

Menyadari ini saja, kita sudah membayangkan betapa ‘modal’ Orang Muda Katolik Indonesia sangat besar. Silahkan diartikan sendiri, jika modal yang besar ini sungguh-sungguh dikelola dengan baik, maka bukan tidak mungkin gaung dan gema mereka pun akan besar. Misi besar Gereja mewartakan Kerajaan Allah di dunia, bukan tidak mungkin menjadi kian terasa dengan gerak orang muda katolik seperti ini.

Namun kenyataanya, tidaklah sesederhana itu. Modal kita memang besar, tetapi apakah sudah benar-benar efektif? Apakah modal besar ini, juga didukung oleh kualitas yang mumpuni untuk gerak dan misi bersama mewartakan kabar gembira Kristus di tengah-tengah dunia? Ini pertanyaan yang semestinya kita jawab.

Ke dalam: Spiritualitas Orang Muda

Ada satu hal yang menjadi pengikat semua wadah OMK dalam bentuk apa pun itu, yaitu kesamaan iman mereka, karena sudah dibaptis dalam Gereja Katolik. Apa pun bentuknya, apa pun wadahnya, tapi semua dan serentak mengakar pada dasar yang sama yaitu iman pada Yesus Kristus. Apakah pengalaman berdinamika dalam komunitas-komunitas ini membawa orang muda pada pengalaman perjumpaan dengan Yesus? Apakah proses pada komunitas-komunitas ini mengantar orang muda pada jatidiri kristiani, yaitu jatidiri Yesus sendiri? Ini yang kita sebut sebagai gerak ke dalam, ketika kita berproses bersama orang muda, kapan dan di mana pun itu. Itulah spritualitas yang dimensinya tidak bisa dianggap remeh oleh orang muda zaman ini.

Paus Benediktus XVI, ketika menyapa orang muda pada Hari Kaum Muda Sedunia 2007 menekankan hal ini secara sangat kuat. “Kita masing-masing telah dikaruniai kemungkinan untuk mencapai tahap mencintai yang sama, tetapi hanya jika dengan memiliki sumber dari dukungan yang diperlukan bagi anugerah yang kudus. Hubungan dengan Tuhan dalam doa membawa kita pada kerendahan hati, dan mengingatkan kita bahwa kita adalah ‘hamba yang tidak berguna. Di atas segala-galanya, ekaristi adalah sekolah yang baik untuk cinta,” ujar Paus dalam surat edarannya.

Hal yang sama ditekankan oleh Mgr. Ignatius Suharyo, ketika pertama kali menyapa pengurus Siekep se-KAJ di Gedung Karya Pastoral beberapa waktu yang lalu, agar orang muda katolik jangan sampai melupakan ekaristi di dalam hidupnya. Beliau juga menyentuh ini dalam bukunya The Catholic Way, agar orang muda katolik, pantas memberi tempat yang istimewa pada pengalaman akan Allah.

Demikian pula pada perayaan World Youth Day 2008 di Sydney, Paus menyerukan, bahwa masa kini, seiring dengan kemakmuran materi, telah terjadi kekeringan rohani: kekosongan jiwa, ketakutan yang tidak jelas penyebabnya dan keputusasaan. “Hidup yang sungguh berarti barulah ditemukan dalam mengasihi. Anugerah terbesar kabar sukacita yaitu panggilan untuk meemukan kepenuhan dalam cinta. “Dan Gereja membutuhkan iman, idealisme dan kemurahan hati kaum muda. Dengan demikian Gereja akan selalu muda dalam Roh. Gereja bertumbuh dengan kuas Roh Kudus yang memberikan kabar sukacita dan inpirasi untuk melayani dengan sukacita. Bukalah hati kalian bagi kuasa Roh Kudus,” ujar Paus Benediktus XVI di hadapan ribuan orang muda yang datang dari 93 negara ketika itu.

Inilah gerak ke dalam yang dupayakan dalam pendampingan orang-orang muda. Mgr. Suharyo mengungkapkan sebuah pertanyaan ini: “Bagaimana orang-orang muda dapat didampingi agar sampai pada pengalaman akan Allah yang mengubah dan membarui kehidupan? Saya yakin, semakin pribadi dan mendalam pengalaman seseorang-terutama orang muda- akan Allah, semakin luas pula medan hidup yang akan ia masuki sebagai perwujudan imannya: kerasulan di bidang media, politik, budaya dan juga agama.”

Keluar: Sebagai Perwujudan Iman

Basis yang kuat pada spiritualitas, tentu tidak menjadikan segala-galanya selesai. Ia harus berbuah dalam kesaksian melalui tindak nyata di tengah-tengah masyarakat, dalam medan kehidupan yang kompleks. Di Indonesia khususnya, panggilan OMK itu kian terasa.

Orang Muda katolik hadir di tengah situasi sosial yang beranekaragam, baik suku, agama, bahasa maupun budaya. OMK tumbuh dan berkembang di tengah komunitas bangsa yang sedemikian pluralnya. Apalagi menyadari dirnya sebagai kelompok minoritas di tengah keberagaman yang ada. Apakah OMK adalah kelompok yang hanyut terlarut dalam dinamika kehidupan sosial yang demikian kompleks? Apakah OMK adalah kelompok yang merasa ‘minder’ lantaran jumlahnya yang kecil itu? Apakah OMK adalah komunitas yang apatis dengan sitausi sosial disekitarnya? Apakah OMK adalah kelompok yang eksklusif di mana ia mengurung diri dan asyik dengan kelompoknya sendiri? Apakah OMK adalah kelompok yang merasa puas diri dengan segala dinamika religius dan spiritual yang dilakoninya setiap hari?

Berkali-kali, terdengar di telinga OMK, seruan Mgr. Soegijapranata puluhaln tahun silam yang termassyur itu, tentang menjadi Seratus Persen Indonesia, Seratus Presen katolik. Jargon yang keluar dari dari kader Pemuda Katolik, menyangkut Pro Ecclesia et Patria; Bagi Gereja dan Negara. Seratus persen menunjukkan totalitas; bukan setengah-setengah, suam-suam kuku, apalagi tidak ada sama sekali. Jika ke dalam, OMK membangun imannya penuh seratus persen, ke luar pun OMK membangun dirinya sebagai sungguh-sungguh warga negara Indonesia. OMK yang hidup, makan dan tumbuh dari rahim ibu bumi bernama Indonesia adalah OMK yang ikut bertanggungjawab terhadap derap langkah perjalanan bangsa ini. Demikian halnya kesadaran yang melakat pada diri OMK sebagai warga bangsa, tidak pernah terpisah dengan identitas kekatolikkan. Justru kekatolikkan, atau iman pada Yesus itu melakat dengan sendirinya pada tugas dan tanggungjawab sebagai warga negara, yang hidup bersaudara dengan kelompok agama lain, ikut membangun bangsa, membangun keadaban publik, demi kebaikan bersama. Tidak pernah menjadi Katolik, membuat kita terpisah dari kehidupan sosial kemasyarakatan. Justru tempat iman itu diwujunyatakan adalah tempat di mana kita berada, unutk kita saat ini adalah tanah air Indonesia. Gereja adalah komunitas umat beriman yang berada di tengah-tengah dunia, demikian juga OMK-nya, adalah komunitas yang ada dan hadir di dunia; tempat di mana OMK menghayati imannya secara penuh.

Sudah bukan saatnya lagi kita mengotak-otakkan komunitas Orang Muda pada peran yang juga terpisah-pisah. Cara tentu boleh berbeda, tetapi peran sosial kemasyarakatan bukan sebuah pilihan lagi, tetapi sesuatu panggilan yang melekat dengan sendirinya. Peran sosial kemasyarkatan, tidak bisa dibatasi lagi pada teman-teman muda PMKRI atau Pemuda katolik. Itu bisa dilakukan oleh OMK di paroki-paroki, kelompok kategorial apa pun itu. Demikian halnya PMRKI dan Pemuda Katolik, saking sibuknya dengan peran sosial politik kemasyarakatan, lalu lupa dimensi iman atau spiritualitas. Jika stereotip yang berkembang, kalau OMK di paroki-paroki itu adalah ‘para jago kandang’ karena sibuk melayani Gereja yang ada di seputar altar itu, maka saatnya untuk bertobat dan membangun langkah yang real pada peran sosial kemasyarakatannya. OMK adalah juga orang muda yang dengan kapasaitas manusiawi dan spiritualnya adalah para jago tandang. Dialog antar agama hanya contoh saja dari sekian banyak peran yang bisa dimainkan. Bisa bidang budaya, politik praktis, atau apa pun itu.

Sebagaimana ditemukan oleh kader muda dari 25 Keuskupan yang ikut dalam pendidikan politik di Klender - Jakarta TImur dua tahun lalu bahwa OMK merupakan kekuatan amat penting dalam Gereja dan masyarakat. Dari hari ke hari peran OMK di bidang sosial kemasyarakatan makin tampak. Dasar dari seluruh peran itu adalah OMK merupakan bagian utuh dari kehidupan berbangsa dan bernegara, dan ia dipanggil untuk mewujudkan keselamatan melalui keterlibatan dakam setiap aspek kehidupan bangsa. Peran sosial kemasyarakatan adalah panggilan. Secara lebih real, OMK Indonesia saat ini, apa pun bentuknya, dipanggil dalam konteks Indonesia yang sedang bergerak maju dalam sistem demokrasinya.

Kemudian menjadi nyata seruan Gereja universal Konsili Vatikan II, bahwa “Kaum muda merupakan kekuatan amat penting dalam masyarakat zaman sekarang. Situasi hidup, sikap-sikap batin serta hubungan-hubungan mereka dengan keluarga mereka sendiri telah amat banyak berubah. Seringkali mereka terlalu cepat beralih kepada kondisi sosial ekonomis yang baru. Dari hari ke hari peran mereka di bidang sosial dan juga politik semakin penting.” (AA 12). “Hendaknya secara intensif diusahakan pembinaan kewarganegaraan dan politik, yang sekarang ini perlu sekali bagi masyarakat dan terutama bagi generasi muda, supaya semua warga negara mampu memainkan peranannya dalam hidup bernegara. Hendaknya mereka secara jujur dan wajar, malahan dengan cinta kasih dan ketegasan politik, membaktikan diri bagi kesejahteraan semua orang” (GS 75). Jika, OMK tajam ke dalam dengan segala laku spiritualnya, maka hendaknya ia pun tajam ke luar pada peran sosial kemasyarakatannya. OMK bukan lagi kelompok minoritas yang hanyut dan terlarut, tetapi mereka adalah kelompok minoritas, yang hanyut, tetapi tidak terlarut.

Sebab, hidup dengan panggilan itu spiritual, karena aku membuka diri bagi Bapa yang menyapa hatiku. Hidup dengan panggilan itu solider, karena aku membagi-bagi diriku bagi sesamaku. Hidup dengan panggilan itu transformatif bagi diriku sendiri, karena mengajak aku merubah sikap batin dan mengembangkan ketrampilan yang perlu untuk menjalani panggilan itu. Hidup dengan panggilan itu partisipatif, karena aku bergerak keluar, berjumpa, dan melakoni perbincangan kemanusiaan dengan dunia sekitarku. Hidup dengan panggilan itu visioner sekaligus misioner, karena aku menumpukan karya hidupku demi dunia yang lebih baik. Thomas Suwarta

Dikutip dari : http://agama.kompasiana.com/

baca selanjutnya...

Pesan Bapa Suci Benedictus XVI Untuk Hari Orang Muda Sedunia Ke-26, Tahun 2011 Di Madrid

"Berakar dan dibangun dalam Yesus Kristus, berteguh dalam iman" (bdk. Kol 2:7)

Sahabat muda terkasih,

Saya sering mengingat kembali Hari Orang Muda Sedunia di Sidney pada tahun 2008 silam. Di sana, kita merayakan pesta iman, saat Roh Allah secara giat bekerja di tengah-tengah kita semua, dan membangun komunitas rohani yang secara sungguh-sungguh dapat saling berbagi dalam satu iman, di antara para peserta yang datang dari berbagai belahan dunia. Pertemuan tersebut, seperti perjumpaan-perjumpaan sebelumnya, berbuah lebat dalam hidup banyak orang muda dan hidup Gereja. Sekarang kita menuju Hari Orang Muda Sedunia berikutnya, yang akan terselenggara di Madrid pada bulan Agustus 2011. Mengingat kembali masa pada tahun 1989, beberapa bulan sebelum hari bersejarah keruntuhan tembok Berlin, peziarahan orang muda seperti ini pernah dilakukan di Spanyol pula, waktu itu di Santiago de Compostela. Sekarang, saat masyarakat Eropa sedang dalam kebutuhan besar untuk menemukan kembali akar Kekristenan mereka, pertemuan kita akan mengambil tempat di Madrid, dengan tema : "Berakar dan dibangun dalam Yesus Kristus, berteguh dalam iman" (bdk. Kol 2:7). Saya menyemangati Anda untuk mengambil bagian dalam peristiwa ini, yang merupakan peristiwa penting bagi Gereja di Eropa dan bagi Gereja sedunia. Saya mengajak kalian semua orang muda, baik yang saling berbagi iman dalam Yesus Kristus, maupun kalian yang ragu dalam ketidakpastian, atau kalian yang tidak percaya akan Dia, untuk berbagi pengalaman ini, yang akan membuktikan kepastian hidup kalian. Inilah pengalaman akan Tuhan Yesus yang bangkit dan hidup, dan pengalaman akan kasihNya bagi kita masing-masing.

1. Pada sumber Keinginanmu yang terdalam

Dalam setiap periode sejarah kehidupan, termasuk periode kita, banyak orang muda memiliki kerinduan yang mendalam akan relasi pribadi, yang ditandai oleh kebenaran dan solidaritas. Banyak dari mereka membangun hubungan persahabatan yang tulus, untuk mengenal cinta sejati, untuk memulai hidup berkeluarga yang diharapkan manunggal bersatu, untuk mencapai kepenuhan pribadi dan kemapanan hidup yang nyata, serta semua hal yang menjamin masa depan yang bahagia dan tenang. Ketika mengenangkan masa muda saya sendiri, saya tersadar bahwa kemapanan dan perasaan aman nyaman bukanlah pertanyaan yang memenuhi pemikiran generasi muda. Memang cukup benar, bahwa pentinglah memiliki pekerjaan agar dengan itu memiliki pijakan yang kokoh. Namun selain itu, tahun-tahun masa muda merupakan juga waktu, saat kita mencari yang terbaik dari hidup kita. Ketika saya membayangkan kembali masa muda itu, saya ingat semua bahwa kita tidak ingin hidup nyaman demi kehidupan dalam kelas menengah yang mapan. Kita menginginkan sesuatu yang besar, sesuatu yang baru. Kita ingin menjelajahi kehidupan itu sendiri, dalam semua keagungan dan keindahannya. Secara alamiah, tahap itu merupakan bagian dari kehidupan yang kita alami. Selama kediktatoran Nazi dan peperangan, dapat dikatakan pada masa itu, semua orang terkungkung oleh segala peraturan dan batasan yang diciptakan oleh struktur yang sedang berkuasa. Maka, semua orang saat itu ingin mendobrak segala batasan: menginginkan adanya kebebasan, keterbukaan yang memungkinkan kita meraih peluang sebagai manusia. Saya berpikir, bahwa dorongan untuk mendobrak segala batasan yang ada, pada jangkauan tertentu, selalu menandai jiwa orang muda dari masa ke masa. Bagian dari menjadi muda, ialah hasrat akan sesuatu di balik hidup harian dan pekerjaan yang mapan, suatu kerinduan untuk sesuatu yang sungguh-sungguh lebih besar.

Apakah ini hanya mimpi yang akan memudar dan akhirnya menghilang jika kita menua? Tidak! Pria maupun perempuan, diciptakan untuk sesuatu yang besar, untuk sebuah keabadian. Tiada pernah cukup. Santo Agustinus benar ketika ia mengatakan: "Hati kami belum tenang, sampai menemukan istirahat di dalam Engkau".

Hasrat untuk mencari kehidupan yang lebih bermakna merupakan tanda bahwa Tuhan menciptakan kita, agar mengemban citra diri-Nya. Tuhan adalah Sang Kehidupan, dan itulah sebabnya kita ciptaanNya selalu berusaha untuk menggapai dan menggenggam kehidupan. Karena manusia diciptakan dengan citra Allah, maka kita menggapai kehidupan dengan cara yang unik dan istimewa. Kita selalu berusaha untuk menggapai cinta, suka cita, dan damai. Jadi dapatlah kita lihat, betapa mustahil apabila kita berpikir bahwa kita dapat sungguh-sungguh hidup dengan menyingkirkan Allah dari gambar hidup kita! Tuhan adalah sumber kehidupan. Mengenyampingkan Allah berarti kita telah memisahkan diri kita dari sumber kehidupan, dan berarti kita telah memisahkan diri dari sumber sejati kebahagiaan, suka cita, dan damai. "Tanpa Sang Pencipta, makhluk ciptaan hilang melenyap" (Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes, 36). Di beberapa belahan dunia, terutama kehidupan di belahan dunia Barat, budaya mereka saat ini cenderung menyingkirkan Tuhan dari segala aspek dan segi kehidupan, dan memandang bahwa iman kepercayaan adalah urusan pribadi, tanpa memiliki hubungan dan relevansi apapun dengan kehidupan. Sekalipun segugus nilai-nilai yang mendasari kehidupan masyarakat berasal dari Injil, seperti nilai martabat pribadi, nilai solidaritas, nilai kerja, dan nilai berkeluarga, namun kita menyaksikan suatu "gerhana Tuhan" yang pasti, semacam amnesia (penyakit lupa) akan sejarah, sebuah penolakan Kristianitas, pengingkaran khasanah iman Kristen, sebuah pengingkaran yang bisa membawa kita pada hilangnya jati diri kita yang paling dalam.

Untuk alasan inilah, para sahabat, saya mendorong kalian untuk memperkuat iman kalian akan Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus. Kalian adalah masa depan masyarakat dan Gereja. Seperti Rasul Paulus telah menulis untuk umat di Kolose : Pentinglah memiliki akar, dasar yang kokoh. Perkara ini secara sebagian, benar untuk zaman kita sekarang. Banyak orang tidak memiliki titik acuan yang kokoh, tempat mereka membangun hidup, dan karena nya mereka sungguh merasa tidak aman. Saat ini ada mentalitas relativisme yang berpaham bahwa alasan adanya setiap hal cukup kuat dari dirinya sendiri, serta bahwa suatu kebenaran dan titik acuan yang mutlak, tidak pernah ada. Namun, jalan pikiran seperti ini tidak akan pernah mengarahkan kita kepada kebebasan sejati, tetapi lebih mengacu kepada ketidakstabilan, kebingungan, kompromi buta terhadap keisengan zaman ini. Sebagai orang muda, kalian berhak untuk mewarisi dari generasi pendahulu, titik acuan yang kokoh bagi kalian untuk menolong kalian membuat pilihan, dan membangun hidup di atasnya, bagaikan tunas muda yang membutuhkan dorongan yang mantap hingga bisa membenamkan akar tunggangnya dalam-dalam, tumbuh menjadi pohon kuat yang mampu menghasilkan buah lebat.

2. Berakar dan dibangun dalam Yesus Kristus

Untuk menekankan betapa pentingnya iman bagi hidup umat Allah, kepada kalian saya ingin menyampaikan renungan saya, perihal tiga kata yang digunakan oleh St. Paulus dalam ungkapan : "Berakar dan dibangun dalam Yesus Kristus, berteguh dalam iman" (bdk. Kol 2:7). Kita dapat membedakan tiga buah gambaran berikut ini: "Berakar" mengingatkan kita pada pohon dan akar yang memberi makan pohon itu. "Dibangun" mengacu pada susunan sebuah rumah; "Berteguh" menunjukkan pertumbuhan fisik dan susila. Ketiga gambaran ini sangat tepat. Sebelum memberi ulasan mengenai ketiga kata tersebut, saya tunjukkan bahwa menurut tata bahasa, ketiga kata itu dalam teks aslinya berbentuk kata kerja pasif. Berarti, Kristus sendirilah yang berkehendak untuk menanam, membangun, dan menguatkan kaum beriman.

Gambaran pertama ialah mengenai sebuah pohon yang dengan kokoh ditanam, yang berterima kasih kepada akar yang telah menopang dan memberi makanan kepadanya. Tanpa akar-akar itu, pohon akan roboh ditiup angin dan mati. Apakah akar kita? Secara alamiah, orangtua, keluarga dan kebudayaan negara kita merupakan unsur-unsur penting dari jati diri pribadi kita. Namun Kitab Suci mewahyukan unsur yang lebih lagi. Nabi Yeremia menuliskan: "Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah" (Yer 17:7-8). Bagi Nabi Yeremia, berakar dalam Tuhan berarti menyerahkan kepercayaan kepada Tuhan. Dari Dia, kita melukis hidup kita. Tanpa Dia, kita tidak bisa benar-benar hidup. "Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam anak-Nya" (1 Yoh 5:11). Yesus sendiri menyatakan kepada kita, bahwa Dia sendirilah kehidupan kita (bdk. Yoh 14:6). Sebagai akibatnya, iman Kristen bukanlah hanya suatu kepercayaan bahwa suatu hal tertentu merupakan kebenaran, melainkan lebih dari itu, iman Kristen merupakan suatu hubungan pribadi dengan Yesus Kristus. Iman kita ialah suatu perjumpaan dengan Sang Putra Allah yang memberikan tenaga pada seluruh keberadaan kita. Ketika kita memasuki hubungan pribadi dengan Dia, Kristus menyingkapkan jati diri kita yang asli, dan dalam persahabatan denganNya, hidup kita bertumbuh menuju kepenuhan yang lengkap. Ada saatnya ketika kita mengalami masa muda, ketika bertanya: Apa makna hidup saya? Manakah tujuan dan arah yang harus kuberikan pada hidup saya? Saat itu merupakan saat penting, dan pertanyaan-pertanyaan itu mungkin bisa membuat kita cemas untuk beberapa lama. Kita mulai mempertanyakan mengenai jenis pekerjaan yang harus kita pilih, pola hubungan-hubungan yang harus kita bangun, persahabatan yang harus kita pelihara.

Di sinilah, suatu saat, saya melihat kembali masa muda saya. Saya agak cukup dini menyadari, mengenai kenyataan bahwa Tuhan menghendaki saya menjadi imam. Kemudian setelah masa peperangan berakhir, saat saya di seminari dan universitas dalam jalur menuju tujuan imamat itu, saya harus melihat kembali kepastian cita-cita saya itu. Saya harus bertanya diri: sungguhkan ini jalur yang harus saya jalani? Apakah benar jalan ini merupakan kehendak Tuhan bagi saya? Apakah saya akan mampu bertahan setia bagiNya dan sepenuhnya melayani Dia? Keputusan seperti ini menuntut perjuangan tertentu. Hal ini tidak bisa tidak, harus dilakukan. Namun kemudian tibalah kepastian itu: inilah keputusan yang tepat! Ya, Tuhan menginginkan saya, dan ia akan memberi saya kekuatan. Jika saya mendengarkan Dia dan berjalan bersamaNya, maka saya pasti menjadi diri saya yang asli. Yang diperhitungkan bukanlah pemenuhan hasrat hati saya sendiri, namun kehendak Dia. Dengan cara ini, hidup menjadi sejati.

Serupa dengan akar yang menopang kuat pohon untuk tetap berada dalam tanah dan kehidupannya, maka pondasi sebuah rumah memberikan jaminan kekokohan jangka panjang. Melalui iman, kita telah dibangun dalam Yesus Kristus (bdk. Kol 2:7), seperti rumah dibangun di atas pondasinya. Sejarah Kekudusan telah menyediakan bagi kita banyak contoh Santo-Santa yang membangun hidupnya pada Sabda Tuhan itu. Yang pertama ialah Abraham, bapa iman kita, yang taat pada Tuhan, ketika Tuhan memerintahkan dia meninggalkan tanah leluhurnya untuk menuju tanah yang tidak ia kenal. "Percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. Karena itu Abraham disebut "Sahabat Allah" (Yak 2:23). Dibangun dalam Yesus Kristus berarti menanggapi secara positif panggilan Tuhan, mempercayaiNya, dan menaruh SabdaNya dalam tindakan. Yesus sendiri mengingatkan para murid, "Mengapa engkau berseru kepadaku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?" (Luk 6:46). Dia lalu memakai gambaran pembangunan sebuah rumah: "Setiap orang yang datang kepadaKu dan mendengarkan serta melakukannya - aku akan menyatakan kepadamu - dengan siapa ia dapat disamakan. Ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah. Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun" (Luk 6:47-48).

Para Sahabat terkasih.

Bangunlah rumah kalian sendiri di atas batu karang seperti orang yang menggali dalam-dalam untuk membuat pondasi. Cobalah setiap hari untuk mengikuti sabda Kristus. Dengan keberadaan-Nya disamping kalian, kalian akan menemukan keberanian dan pengharapan untuk menghadapi berbagai kesulitan dan masalah, bahkan untuk mengatasi kekecewaan dan kemunduran. Kepada kalian, secara terus menerus ditawarkan pilihan-pilihan yang lebih mudah, namun kalian sendiri tahu, bahwa segala tawaran itu bersifat menipu dan tidak akan pernah mampu memberikan damai dan suka cita. Hanya Sabda Allah saja yang mampu memperlihatkan kepada kita jalan yang sejati dan hanya iman yang kita terima-lah yang menjadi cahaya dalam jalan kehidupan kita. Dengan penuh syukur, terimalah hadiah rohani ini yang telah kalian warisi dari keluarga kalian; Berusahalah untuk menanggapi panggilan Tuhan dengan penuh kesadaran, dan bertumbuhlah dalam iman. Janganlah percaya para mereka yang memberitahu kalian bahwa kalian tidak memerlukan orang lain untuk membangun hidup kalian! Temukanlah dukungan dalam iman, pada orang-orang yang mengasihi kalian, temukanlah dukungan dari iman Gereja, dan bersyukurlah pada Tuhan bahwa kalian telah menerima iman itu dan telah membuatnya menjadi milik kalian sendiri!

3. Berteguhlah dalam iman

Hendalah kamu "berakar dan dibangun dalam Yesus Kristus, berteguh dalam iman." (Kol 2:7). Surat dari mana kata-kata tersebut dikutip, ditulis oleh Santo Paulus untuk menanggapi kebutuhan khusus umat Kristen di kota Kolose. Waktu itu, komunitas umat di Kolose terancam oleh pengaruh kecenderungan budaya tertentu yang memalingkan kaum beriman dari Injil. Ruang lingkup budaya kita sekarang, para sahabat, bukanlah seperti keadaan umat kuno di Kolose. Namun saat ini, terdapat arus kuat pikiran kaum sekular serupa, yang bertujuan untuk meminggirkan Tuhan dari kehidupan masyarakat dengan menekankan dan menciptakan "surga" tanpa kehadiran-Nya. Sebenarnyalah, pengalaman memberikan bukti nyata kepada kita semua, bahwa dunia tanpa Tuhan selalu menjadi "neraka" : dipenuhi oleh keakuan, keluarga berantakan, kebencian antar-pribadi dan antar-bangsa, dan kekurangan yang besar akan kasih, suka cita, dan harapan. Di lain pihak, di manap ada pribadi dan bangsa menerima kehadiran Allah di tengah-tengah mereka, memujiNya dalam kebenaran serta mendengarkan suara-Nya, maka peradaban cinta kasih sedang dibangun, yaitu sebuah peradaban di mana martabat semua orang dihormati, dan persekutuan paguyuban meningkat, dengan segala kebaikannya. Namun demikian tetap saja, beberapa umat Kristen tergoda oleh sekularisme dan arus kepercayaan yang menjauhkan mereka dari iman akan Yesus Kristus. Ada pula beberapa orang Kristen, sekalipun tidak terpengaruh oleh godaan itu, namun telah dengan sembrono membiarkan iman mereka tumbuh seadanya, yang berakibat buruk pada hidup kesusilaan mereka.

Kepada orang-orang Kristen yang dipengaruhi oleh gagasan-gagasan yang jauhb dari nilai Injil, Rasul Paulus memberitakan mengenai kekuatan wafat dan kebangkitan Kristus. Misteri wafat dan kebangkitan Kristus merupakan dasar hidup kita serta pusat iman Kristen. Dengan tetap menghormati pertanyaan-pertanyaan besar yang terbenam dalam-dalam di hati manusia, menurut saya semua filsafat yang mengabaikan misteri salib serta menganggapnya "kebodohan" (1Kor 1:23), justru menyingkapkan keterbatasan mereka sendiri. Sebagai penerus Rasul Petrus, saya juga ingin menguatkan kalian dalam iman (bdk. Luk 22:32). Kita dengan teguh percaya bahwa Yesus Kristus menyerahkan diriNya sendiri di kayu salib untuk memberikan kasih-Nya kepada kita. Dalam penderitaanNya, Dia memikul penderitaan kita, menanggung dalam diri-Nya dosa -dosa kita, memberikan pengampunan bagi kita dan mendamaikan kita dengan Allah Bapa, membukakan bagi kita jalan menuju hidup abadi. Jadi, kita dibebaskan dari hal yang paling membelenggu hidup kita yaitu perbudakan dosa. Kita bisa mengasihi setiap orang, bahkan musuh kita, dan kita bisa membagikan kasih ini untuk yang termiskin dari saudara-saudari kita, dan bagi semua orang yang sedang dalam dalam kesukaran hidup.

Para Sahabat terkasih;

Salib sering menggentarkan kita karena salib tampak sebagai penolakan hidup. Pada kenyataannya, sebaliknyalah yang benar. Salib adalah pernyataan ‘Ya' dari Allah kepada umat manusia, yang merupakan ungkapan tertinggi dari cinta-Nya dan sumber dari mana kehidupan kekal mengalir. Sesungguhnyalah, pernyataan ini berasal dari hati Yesus, yang dihancurkan di salib, yang justru dari hati yang hancur itu hidup ilahi mengalir, yang bisa ditampung oleh semua yang mengangkat mata mereka kepada Sang Tersalib.

Saya hanya dapat mendesak kalian untuk memeluk Salib Yesus Kristus, tanda cinta kasih Tuhan, sebagai sumber hidup baru.

4. Mengimani Yesus Kristus tanpa melihat langsung

Dalam Injil kita menemukan paparan mengenai pengalaman iman Rasul Thomas ketika ia menerima misteri Salib dan kebangkitan Kristus. Thomas merupakan salah satu dari kedua belas rasul. Dia mengikuti Yesus, dan menjadi saksi mata dari penyembuhan dan mukjizat yang dibuat Yesus. Thomas mendengarkan sabda-Nya, dan dia mengalami ketakutan pada saat wafat Yesus. Malam pada hari Paskah itu, ketika Tuhan menampakkan diri pada para murid, Thomas tidak hadir. Ketika ia diberitahu bahwa Yesus hidup dan memperlihatkan diriNya, Thomas menjawab: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangannya, dan mencucukkan jariku pada bekas paku itu dan mencucukkan tanganku pada lambungNya, sekali-kali aku tidak akan percaya" (Yoh 20:25).

Kita juga, ingin mampu melihat Yesus, berbicara denganNya dan merasakan kehadiranNya bahkan secara lebih penuh kuasa. Bagi banyak orang dewasa ini, menjadi sukar untuk mendekati Yesus. Ada terlalu banyak gambaran mengenai Yesus yang beredar, yang dinyatakan sebagai ilmiah, yang malahan membuat kabur keagungan dan keunikan pribadiNya. Itulah sebabnya, setelah bertahun-tahun belajar dan merenung, saya memikirkan untuk membagikan sesuatu dari perjumpaan pribadi saya bersama Yesus dengan menuliskannya menjadi sebuah buku. Ini merupakan sebuah cara untuk membantu orang lain melihat, mendengar, dan menyentuh Tuhan kepada siapa Ia datang supaya diri-Nya dikenal. Yesus sendiri ketika seminggu kemudian menampakkan diri lagi kepada para murid berkata kepada Thomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tanganKu, ulurkanlah tanganmu dan cucukkanlah ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi melainkan percayalah." (Yoh 20:27). Kita juga, bisa memiliki kontak yang tampak dengan Yesus dan menaruh tangan kita, juga berbicara padaNya, atas tanda-tanda penderitaan-Nya, tanda-tanda cinta kasih-Nya. Dalam sakramen-sakramen, Dia secara khusus dekat dengan kita, dan memberikan diriNya untuk kita. Orang muda terkasih, belajarlah untuk "melihat" dan "menjumpai" Yesus dalam Ekaristi, di mana Dia hadir dan dekat dengan kita, dan bahkan menjadi santapan bagi perjalanan kita. Dalam Sakramen Tobat, Tuhan memperlihatkan kerahimanNya dan selalu memberikan pengampunanNya untuk kita. Kenalilah, dan layanilah Yesus dalam diri orang miskin, orang sakit, dan dalam diri saudara-saudari yang sedang dalam kesulitan dan membutuhkan pertolongan.

Masuklah dalam percakapan pribadi dengan Yesus Kristus dan peliharalah hal itu dalam iman. Kenalilah Dia lebih baik lagi dengan membaca Kitab Suci dan buku Katekismus Gereja Katolik (KGK). Berbincanglah dengan-Nya dalam doa kalian, dan letakkan kepercayaan kalian dalam Dia. Dia tidak pernah mengkhianati kepercayaan kalian itu! "Iman pertama-tama ialah ikatan pribadi manusia dengan Allah. Sekaligus tak terpisahkan dari itu, ialah persetujuan bebas terhadap seluruh kebenaran yang diwahyukan Tuhan" (KGK, 150). Dengan demikian, kalian akan menuai iman yang matang dan mantap, yaitu iman yang tak hanya didasarkan kepada rasa-perasaan keagamaan, atau hanya mengandalkan ingatan samar-samar akan katekismus pelajaran agama Katolik yang kamu terima dulu saat kanak-kanak. Kalian mau datang untuk mengenal Allah, dan hidup secara sejati dalam kesatuan dengan Dia, sebagaimana Rasul Thomas yang memperlihatkan imannya yang teguh dalam Yesus, dengan berkata: "Tuhanku dan Allahku!".

5. Ditopang oleh iman Gereja untuk menjadi saksi.

Yesus berkata kepada Thomas: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya." (Yoh 20:29). Yesus saat itu sedang memikirkan jalur iman Gereja yang harus diikuti yang didasarkan pada para saksi mata wafat dan kebangkitan Kristus yaitu para Rasul. Dengan demikian, kita melihat, bahwa iman pribadi kita pada Kristus, yang menjumpai kita dalam percakapan pribadi denganNya, diikat dalam iman Gereja. Kita tidak beriman sebagai individu yang terpisah dari yang lain, namun melalui Baptis, kita ialah anggota keluarga besar Gereja. Iman yang diakui oleh Gereja selalu menguatkan kembali iman pribadi kita masing-masing. Kredo "Aku Percaya" yang kita doakan setiap misa hari Minggu melindungi kita dari bahaya kepercayaan terhadap "allah lain" yang tidak diwahyukan oleh Yesus Kristus: "Setiap orang beriman adalah anggota dalam jalinan rantai besar orang-orang beriman. Saya tidak dapat menjadi orang beriman kalau saya tidak didukung oleh iman orang lain. Dan oleh iman saya, saya pun mendukung iman orang lain" (KGK 166). Marilah selalu bersyukur kepada Tuhan atas anugerah Gereja, karena Gereja menolong kita untuk maju dengan aman, dalam iman yang memberi kita hidup sejati (bdk. Yoh 20:31).

Dalam sejarah Gereja, para orang kudus dan para martir selalu bergerak dari kemuliaan Salib Kristus - daya kesetiaan kepada Tuhan - menuju Allah, hingga pada titik mereka harus menyerahkan nyawa. Dalam iman, mereka menemukan kekuatan untuk mengatasi kelemahan, dan menang atas setiap kesulitan. Benarlah Rasul Yohanes mengatakan: "Siapakah yang mengalahkan dunia selain dari pada dia yang percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah?" (1Yoh 5:5). Kemenangan yang lahir dari iman adalah cinta kasih. Masih ada dan tetap ada, banyak umat Kristen yang menghayati kesaksian nyata dari daya iman yang diwujudkan dengan pelayanan karya amal kasih. Merekalah para juru perdamaian, promotor keadilan dan pekerja-pekerja demi dunia yang lebih manusiawi, dunia yang sesuai dengan rencana Tuhan. Dengan kompetensi dan sikap profesional, mereka bekerja penuh tanggung jawab dalam sektor-sektor hidup masyarakat yang beraneka ragam, menyumbangkan secara tepat guna, kesejahteraan bagi semua. Karya amal kasih yang berasal dari iman membawa mereka kepada kesaksian nyata dengan kata dan perbuatan. Kristus bukanlah harta milik yang ditujukan untuk diri kita saja. Dia, harta paling berharga yang kita miliki, ialah Dia yang ditujukan dan dibagikan untuk sesama yang lain. Pada masa globalisasi ini, jadilah saksi harapan Kristiani di seluruh dunia. Betapa banyaknya orang yang telah menanti untuk menerima harapan ini! Ketika berdiri di depan batu makam sahabat-Nya Lazarus, yang mati empat hari sebelumnya, sebelum Ia menghidupkan kembali si mati itu, Yesus berkata kepada saudari Lazarus, Martha: "Jika engkau percaya, engkau akan melihat kemuliaan Allah" (bdk Yoh 11:40). Dengan cara yang sama, jika kalian percaya, dan jika kalian mampu menghayati iman dan menjadi saksi atas iman setiap hari, kalian akan menjadi sumber yang membantu orang muda lainnya seperti diri kalian, untuk menemukan makna dan kegembiraan hidup, yang terlahir dari perjumpaan dengan Kristus!

6. Menuju Hari Orang Muda Sedunia di Madrid

Para Sahabat terkasih,

Sekali lagi, saya mengundang kalian semua untuk menghadiri Hari Orang Muda Sedunia di Madrid. Saya menunggu kalian masing-masing dengan sukacita yang besar. Yesus Kristus ingin menguatkan iman kalian melalui Gereja. Keputusan untuk percaya kepada Yesus dan mengikuti-Nya bukanlah perkara yang mudah. Iman padaNya sering terhalangi oleh kegagalan pribadi, dan oleh banyak keriuhan yang menawarkan jalur-jalur perjalanan yang lebih mudah. Jangan lemah semangat. Namun, temukanlah dukungan dari komunitas seiman, temukanlah dukungan dari Gereja! Selama tahun ini, persiapkanlah secara cermat untuk pertemuan di Madrid, bersama uskup-uskup, para imam, para pembimbing orang muda di keuskupan, komunitas-komunitas paroki, dan berbagai serikat serta perkumpulan kalian.

Mutu pertemuan kita mendatang akan seluruhnya bergantung pada : Persiapan rohani kita, doa-doa kita, kebersamaan kita dalam mendengarkan sabda Allah, dan dukungan satu sama lain.

Para muda terkasih, Gereja bergantung kepada kalian! Dia membutuhkan iman kalian yang bersemangat, amal kasih kalian yang kreatif, dan energi dari pengharapan kalian. Kehadiran kalian memperbaharui, meremajakan,dan memberikan energi baru bagi Gereja. Karena itulah, maka Hari Orang Muda Sedunia adalah rahmat, bukan saja untuk kalian orang muda, tapi juga untuk keseluruhan umat Allah.

Gereja Spanyol sedang bersiap diri secara aktif untuk menyambut kedatangan kalian sekaligus untuk berbagi pengalaman iman yang menggembirakan ini bersama kalian. Saya mengucapkan terima kasih kepada keuskupan-keuskupan, paroki-paroki, tempat-tempat ziarah, komunitas-komunitas religius, asosiasi-asosiasi dan perkumpulan-perkumpulan gerejawi, serta semua yang bekerja keras untuk mempersiapkan peristiwa ini. Allah menganugerahkan berkat-Nya untuk mereka semua. Semoga Bunda Perawan Maria menyertai kalian selama persiapan ini. Ketika menerima kabar gembira, Bunda Maria menerima Sang Sabda dengan imannya. Dalam iman, ia menyetujui rencana kepenuhan janji Allah yang terlaksana dalam dan melalui dirinya. Dengan menyerukan "fiat", "terjadilah padaku menurut perkataanMu", Bunda Maria menerima anugerah cinta kasih yang sedalam-dalamnya, yang membuat dia memberikan diri seutuhnya kepada Allah. Semoga doanya campur tangan dalam diri kalian, sehingga pada Hari Orang Muda Sedunia mendatang ini, kalian bertumbuh dalam iman dan kasih. Saya meyakinkan kalian bahwa saya dengan kasih kebapaan, mengingat kalian dalam doa-doa saya, dan saya memberikan kepada kalian berkat dari lubuk hati saya yang paling dalam.

Dari Vatikan, 6 Agustus 2010
pada Pesta Penampakan Kemuliaan Tuhan
Benedictus PP. XVI

baca selanjutnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP