Tampilkan postingan dengan label Surat Gembala. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat Gembala. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Mei 2011

Pesan Bapa Suci Benediktus XVI Pada Hari Komunikasi Sedunia Ke-45, 5 Juni 2011

Kebenaran, Pemakluman dan Kesejatian Hidup di Jaman Digital

Saudara dan Saudari Terkasih,
Pada kesempatan Hari Komunikasi Sosial Sedunia yang ke-45, saya ingin berbagi beberapa refleksi yang dimotivasi oleh suatu ciri khas yang menggejala jaman kita: munculnya internet sebagai jejaring komunikasi. Ada pendapat yang semakin umum bahwa, sebagaimana Revolusi Industri yang pada masanya menghasilkan suatu transformasi besar dalam masyarakat melalui perubahan-perubahan yang terjadi ke dalam lingkaran produksi dan kehidupan para pekerja, demikian juga berbagai perubahan mendasar yang terjadi di dalam komunikasi di jaman sekarang ini sedang memandu perkembangan-perkembangan budaya dan sosial yang signifikan. Teknologi baru tidak hanya mengubah cara kita berkomunikasi melainkan juga memengaruhi komunikasi itu sendiri sedemikian rupa sehingga orang menegaskan bahwa kita sementara hidup dalam suatu periode transformasi budaya yang besar. Sarana penyebaran informasi dan pengetahuan ini melahirkan suatu cara baru belajar dan berpikir dengan peluang-peluang yang belum pernah terjadi guna menegakkan antar hubungan dan membangun persekutuan.

Kini, cakrawala baru yang tak terbayangkan sebelumnya telah terbuka. Cakrawala-cakrawala tersebut membangkitkan kekaguman karena kemungkinan-kemungkinan yang disodorkan oleh media baru itu, dan pada saat yang sama amat menuntut suatu permenungan yang serius tentang makna komunikasi di jaman digital. Hal ini secara khusus menjadi jelas ketika kita menghadapi kemampuan luar biasa internet dan kerumitan pemakaiannya. Sebagaimana halnya dengan setiap hasil kecakapan manusia, teknologi komunikasi baru harus diperuntukkan bagi pelayanan kebaikan perorangan dan umat manusia secara utuh. Jika dipergunakan dengan bijaksana, teknologi komunikasi baru dapat memberikan sumbangsih bagi pemenuhan kerinduan akan makna, kebenaran dan kesatuan yang tetap menjadi cita-cita terdalam setiap manusia.

Dalam dunia digital, menyampaikan informasi kian dipahami dalam suatu jejaring sosial dimana pengetahuan terbagi dalam konteks pertukaran pribadi. Perbedaan yang jelas antara penyedia informasi dan pengenyam informasi menjadi relatif; dan komunikasi tidak hanya nampak sebagai pertukaran data tetapi juga sebagai suatu bentuk berbagi. Dinamika ini menyumbangkan bagi suatu penilaian baru tentang komunikasi itu sendiri, yang terutama dipandang sebagai dialog, pertukaran, solidaritas dan penciptaan hubungan-hubungan yang positif. Pada sisi lain, hal ini diperhadapkan dengan keterbatasan-keterbatasan yang khas dari komunikasi digital: interaksi sepihak, kecenderungan mengkomunikasikan hanya sebagian dari dunia batin seseorang, resiko pencitraan palsu seseorang yang dapat menjadi suatu bentuk kepuasan diri sendiri.

Secara khusus, kaum muda sedang mengalami perubahan ini dalam komunikasi dengan semua kecemasan, tantangan dan daya cipta, yang khas bagi orang yang terbuka dengan antusiasme dan rasa ingin tahu akan pengalaman-pengalaman baru dalam hidup. Keterlibatan mereka yang semakin besar dalam forum digital publik yang tercipta oleh jejaring-jejaring sosial membantu melahirkan bentuk-bentuk baru dari hubungan-hubungan antar pribadi memengaruhi kesadaran diri sendiri dan oleh karena itu tak pelak lagi mempertanyakan bukan saja bagaimana seharusnya bertindak tetapi juga tentang kesejatian jati dirinya. Masuk ke dalam ruang maya dapat menjadi tanda pencarian yang otentik akan perjumpaan pribadi dengan orang lain, asalkan tetap tanggap terhadap bahaya seperti menyertakan diri dalam sejenis eksistensi ganda atau menampilkan diri secara berlebihan di dalam dunia maya. Dalam upaya berbagi dan mencari "teman", terdapat tantangan untuk menjadi otentik dan setia dan tidak menyerah kepada ilusi untuk mencitrakan tampang publik yang palsu bagi diri sendiri.

Teknologi baru memungkinkan untuk saling bertemu di luar batas-batas ruang dan budaya mereka sendiri, dengan menciptakan sebuah dunia yang sama sekali baru dari persahabatan-persahabatan potensial. Ini merupakan suatu peluang besar tetapi juga menuntut perhatian yang lebih besar dan kesadaran akan resiko yang mungkin. Siapakah "tetangga" saya di dalam dunia baru ini? Entahkah ada bahaya bahwa kita mungkin kurang hadir bagi mereka yang kita jumpai dalama hidup harian kita? Apakah ada risiko menjadi lebih terganggu karena perhatian kita terbagi-bagi dan terserap di suatu "dunia lain" daripada dimana kita hidup? Apakah kita mempunyai waktu untuk merenungi pilihan kita secara kritis dan memajukan hubungan yang sungguh mendalam dan berdaya tahan? Pentinglah untuk selalu mengingat bahwa kontak virtual tidak dapat dan tidak boleh mengganti kontak manusiawi langsung dengan orang-orang di setiap tingkat kehidupan kita.

Dalam era digital juga, setiap orang dihadapkan dengan kebutuhan akan otentisitas dan refleksi. Selain itu, dinamika yang melekat di dalam jejaring sosial menunjukkan bahwa seseorang senantiasa terlibat dalam apa yang ia komunikasikan. Tatkala orang saling menukar informasi, mereka sudah mensyeringkan diri mereka, pandangannya tentang dunia, harapan dan cita-cita mereka. Lantas, cara hadir yang khas kristiani di dunia digital adalah bentuk komunikasi yang jujur dan terbuka, bertanggungjawab dan hormat akan orang lain. Memaklumkan Injil melalaui media baru berarti tidak sekadar memasukkan isi religius secara terbuka ke dalam berbagai pentas media, tetapi menjadi saksi setia di dunia digital itu sendiri dan cara seseorang mengkomunikasikan pilihan-pilihan, apa yang utama, serta keputusan-keputusan yang sepenuhnya selaras dengan Injil bahkan ketika hal itu tidak terungkap secara khusus. Selanjutnya, benar juga bahwa di dalam dunia digital pesan tak dapat disampaikan tanpa disertai dengan kesaksian yang konsisten dari pihak yang meyampaikannya. Dalam situasi baru itu dan dengan bentuk pengungkapan baru, orang Kristen sekali lagi dipanggil untuk memberikan jawaban kepada siapa saja yang meminta pertanggungjawaban terhadap pengharapan yang ada dalam diri mereka (bdk. 1 Petrus 3:15)

Tugas memberikan kesaksian tentang Injil di era digital menuntut setiap orang untuk secara istimewa memiliki kepekaan terhadap aspek pesan yang dapat menantang cara berpikir khas internet. Pertama-tama, kita harus menyadari bahwa kebenaran yang ingin kita bagikan bukan bukan berasal dari nilai "popularitas"nya atau jumlah perhatian yang diterima. Kita harus berusaha memperkenalkannya secara utuh, bukan sekadar supaya dapat diterima atau sebaliknya malah melemahkannya. Ia harus menjadi makanan harian dan bukannya daya tarik sesaat. Kebenaran Injil bukanlah sesuatu yang memberikan rasa puas atau digunakan secara dangkal, melainkan pemberian yang menuntut jawaban bebas. Bahkan apabila diwartakan dalam dunia internet, Injil harus terjelma dalam dunia nyata dan berkaitan dengan wajah riil saudara dan saudari kita, mereka yang dengannya kita berbagi keseharian hidup kita. Hubungan manusiwi yang langsung tetap menjadi fundamental bagi pemakluman iman.

Oleh karena itu, saya ingin mengajak orang-orang kristiani dengan percaya diri, dan dengan kreatifitas yang terbina dan bertanggungjawab bergabung dalam jejaring hubungan yang dimungkinkan oleh jaman digital. Hal ini bukan saja untuk memuaskan keinginan untuk hadir, tetapi karena jejaring ini merupakan bagian utuh dari hidup manusia. Internet memberikan sumbangsih bagi perkembangan cakrawala intelektual dan spiritual yang lebih kompleks, bentuk-bentuk baru kesadaran berbagi. Di dalam wilayah ini juga kita dipanggil untuk memaklumkan iman kita bahwa Kirstus adalah Allah, Penyelamat umat manusia dan Penyelamat sejarah, yang di dalam-Nya segala sesuatu memperoleh kepenuhannya (Bdk. Ef. 1:10). Pewartaan Injil menuntut sebuah komunikasi yang sekaligus penuh hormat dan peka, yang menggugah hati dan menggerakkan kesadaran; cerminan suri teladan Yesus yang bangkit tatkala Ia bergabung bersama para murid-Nya dalam perjalanan ke Emaus (bdk. Lk. 24:13-35). Dengan cara pendekatan-Nya, dialog-Nya bersama mereka, cara-Nya yang lembut menggerakkan hati, mereka perlahan-lahan dituntun kepada suatu pemahaman akan misteri.

Dalam analisis terakhir, kebenaran Kristus merupakan jawaban yang utuh dan otentik bagi kerinduan manusia akan hidup relasi, persekutuan dan makna yang tercermin dalam popularitas jejaring sosial yang meluas. Orang beriman yang memberikan kesaksian iman yang sungguh mendalam tentu memberikan bantuan yang berharga bagi internet agar tidak menjadi sarana yang memerosotkan kepribadian manusia, memanipulasi secara emosional, dan yang memberikan kemungkinan kepada berkuasa untuk memonopoli pendapat orang lain. Sebaliknya, orang beriman mendorong setiap orang untuk terus menghidupkan pertanyaan manusiawi yang abadi sebagai ungkapan kerinduan akan sesuatu yang yang trasenden dan dambaan akan bentuk-bentuk yang otentik dari kehidupan yang patut untuk dihayati. Justru hasrat rohani yang unik manusiawi inilah yang mengilhami upaya kita untuk mencari kebenaran dan persekutuan dan mendesak kita untuk berkomunikasi dengan keutuhan dan kejujuran.

Saya mengundang terutama kaum muda untuk sungguh-sungguh hadir secara berdaya guna di dunia digital. Saya mengulangi lagi undanganku bagi mereka untuk Hari Kaum Muda sedunia di Madrid, dimana teknologi baru sedang memberikan sumbangannya yang besar bagi persiapannya. Dengan pengantaraan pelindungnya St. Fransiskus de Sales, saya berdoa agar Allah menganugerahi para pekerja di bidang komunikasi kemampuan untuk melaksanakan karya mereka dengan sadar dan profesional. Kepada kalian semua, saya memberikan berkat apostolik saya.

Vatikan 24 Januari 2011
Pesta St, Fransiskus de Sales

Benedictus PP XVI

baca selanjutnya...

Senin, 07 Maret 2011

Surat Gembala Prapaskah Uskup Bogor 2011

Saudara-saudari, Umat Keuskupan Bogor,
Salam dan berkat apostolik

kita akan memasuki masa Paskah yang diawali dengan masa puasa selama 40 hari atau yang dinamakan masa Prapaskah. Selama masa puasa itu kita diajak untuk lebih serius memperhatikan hidup rohani kita dengan merenungkan sengsara, wafat, dan kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus. Ia menderita dan wafat karena dosa kita, dan Ia bangkit demi kebahagiaan kita.

Masa puasa 40 hari adalah kesempatan yang sangat baik dan saat penuh rahmat bagi kita semua. Kita diundang mengikuti perjalanan Tuhan Yesus dari Galilea menuju Yerusalem dan dalam iman menyaksikan drama kesengsaraan dan penyalibanNya, yang disusul dengan kebangkitanNya pada hari ketiga.

Gereja tak henti-hentinya mengajak seluruh umat beriman agar mereka sadar akan kejinya dosa dan akan perlunya pengampunan serta belas kasihan dari Allah. Oleh karena itulah masa puasa hendaknya menjadi kesempatan untuk bertobat dari dosa dan dari cara hidup yang tak berkenan pada Allah. Kita diajak membarui diri dan mengambil sikap beralih dari hidup lama ke hidup baru yang lebih berkenan pada Allah.

Masa tobat itu kita awali dengan penerimaan abu di kepala pada hari Rabu Abu. Penerimaan abu tersebut tak lain adalah ungkapan atau tanda lahiriah bahwa secara batin kita setuju dengan pertobatan dan siap membarui diri. Abu yang kita terima mengandung makna bahwa kita ini adalah manusia yang rapuh dan berdosa namun tetap disayangi oleh Allah. Belas kasihan Allah itu nampak dalam PuteraNya Yesus yang rela menderita sengsara dan wafat di salib untuk menebus dosa kita dan membebaskan kita dari hukuman dan kematian kekal. Apa yang harus kita lakukan dalam rangka pembaharuan diri tersebut di atas?

Pertama, kita disadarkan kembali akan makna yang terkandung dalam pembaptisan. Gereja mempersiapkan pembaptisan bagi warga baru yang akan dibaptis pada malam Paskah dan mengajak umat agar mengingat kembali pembaptisan yang sudah mereka terima. Saat kita dibenamkan di dalam bejana permandian kita mati bersama Kristus dan keluar dari bejana kita bangkit bersama Dia. Sudah sepatutnyalah kita menyelaraskan hidup kita dengan hidup Kristus.

Kedua, masa puasa saat yang tepat untuk lebih serius menjadikan Allah arah hidup dan pusat berarti percaya, berharap, dan lebih bertaqwa kepadaNya. Dengan demikian, orang yang bertobat akan menjadi tanda berkat dan belas kasihan Allah. Tuhan memberikan kesempatan kepada kita untuk kembali ke pangkuanNya bila sudah pergi jauh, untuk berbalik dan berdamai denganNya dan dengan sesama. Kita mengikuti contoh Yesus yang juga berpuasa selama 40 hari. Ia tidak makan, tidak minum, berdoa, mati raga, dan berpantang demi memenuhi kehendak Allah BapaNya.

Ketiga, agar supaya masa ber-rahmat ini menghasilkan buah untuk kehidupan rohani, Ibu Gereja menawarkan kepada kita bermacam-macam cara seperti praksis taqwa kepada Allah dan mengungkapkan kesediaannya untuk melaksanakan kasih melalui doa, olah tapa, dan memberi derma.

Injil Matius memberikan kita ajakan supaya jangan melakukan kewajiban agama agar dilihat orang dan bila memberi sedekah, lakukanlah itu dengan sembunyi-sembunyi dan diam-diam agar tidak dipuji orang. Dan bila berpuasa jangan bermuka muram, berpura-pura seperti orang munafik (bdk. Mat 6:1-4).

Berdoa adalah saat bertemu dengan Kristus yang pasti membawa kegembiraan, memperkaya hidup rohani dan membuat kita menjadi lebih serupa dengan Kristus. Hal itu diperoleh melalui askese (tahan diri) dan olah tapa. Doa yang benar adalah bukan untuk memuaskan diri sendiri, bukan pula untuk merayu-rayu Tuhan agar permohonan dikabulkan, melainkan memberi waktu untuk menyadarkan diri kita sendiri akan karya keselamatan Allah yang harus terlaksana dalam diri kita masing-masing. Orang yang rajin berdoa dan berdoa secara benar adalah orang yang mengakui bahwa Tuhan adalah Tuhan hidupnya dan ia menjadikan Allah itu pusat dan sumber. Kristus menghendaki hati yang terarah pada Tuhan, membangun diri dari dalam dan dari hati nurani. “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu.” (bdk. Yl 2:13).

Mengekang dan mengendalikan diri dari hal yang kita sukai tetapi yang sebenarnya bertentangan dengan kehendak Allah dan kebutuhan jiwa kita sendiri. Maka puasa berarti berorientasi dan berbalik kepada Kristus dan bertemu denganNya secara pribadi. Kita harus sadar juga bahwa hidup di dunia ini bukanlah tujuan akhir peziarahan ini. Perlu kita sadari bahwa pada suatu saat kita harus mati dan harus menghadapi pengadilan Allah untuk menerima ganjaran atau hukuman setimpal dengan amal bakti kita. Suatu saat kita menghadapi hari Yahwe, hari yang mungkin mengenaskan bagi yang tak siap. Allah datang menyadarkan manusia yang gagal namun yang tetap Ia kasihani. Paskah mengajak kita : “bangunlah kamu yang tidur dan bangkitlah dari maut”, dan Kristus akan bercahaya atasmu.

Inilah saatnya pula kita diingatkan akan tugas panggilan penyelamatan manusia bersama Kristus. Tugas menyelamatkan manusia tak cukup dengan kata-kata indah tapi harus disertai dengan tindakan sosial yang nyata. Allah yang mengasihi harus nampak dalam tindakan kita melalui perbuatan kasih, melalui perhatian terhadap sesama yang berkekurangan seperti dengan sukarela memberi derma untuk meringankan beban sesama yang sedang menderita. Kita mencontohi kasih Kristus yang siap berkorban, berbagi dengan yang berkekurangan, yang menderita, yang menantikan uluran tangan dan penghiburan.

Saudara-saudari seiman,

Melalui surat gembala ini saya ingin menyampaikan pula tiga hal yang patut menjadi perhatian kita, yaitu :

1. Tahun 2011 ini kita memperingati yubileum berdirinya hirarki, 50 tahun hirarki Gereja Indonesia, termasuk keuskupan kita. Kita patut berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan oleh pimpinan Gereja di Roma untuk membangun diri kita sendiri pada tanggal 11 Februari 1961. Kita patut bersyukur atas penyertaan Tuhan selama 50 tahun yang silam karena kita menyaksikan Gereja kita bertumbuh dan berkembang, namun kita pun juga mohon agar di hari-hari mendatang menjadi lebih baik.

2. Patut juga saya sampaikan hasil dan pesan SAGKI yang telah dikeluarkan melalui KWI antara lain kita diajak untuk giat mewartakan Kabar Sukacita dan menemukan cara-cara yang tepat melalui metode narasi, kisah dan tutur yang baik tentang Yesus kepada anak-anak dan umat kita. Kita diajak untuk menemukan wajah Yesus dalam tiga kenyataan hidup sehari-hari di bidang sosial budaya, sosial religius, dan sosial ekonomi.

Kita semua disadarkan tentang nilai-nilai budaya dan kearifan lokal serta diajak untuk menjunjung tinggi, memelihara, dan mengembangkannya untuk menghadapi budaya-budaya modern yang merusak kehidupan iman dan kehidupan lokal. Kasih persaudaraan, kebaikan dan kebenaran hendak kita bangun dalam keanekaragaman budaya kita.

Berdasarkan iman yang kita anuti, kita juga harus mampu menemukan nilai-nilai luhur dan injili yang terdapat dan dihayati oleh para penganut pelbagai agama. Kita diajak untuk hidup rukun dan berdamai dengan setiap orang. Gejala kemiskinan yang merebak, bencana-bencana alam yang kita hadapi telah pula menimpa banyak warga. Peristiwa-peristiwa itu harus mampu menggugah setiap pengikut Yesus agar menaruh kepedulian dan tidak menutup mata. Dalam masa Prapaskah ini kesampingkanlah teori-teori dan lakukanlah kegiatan nyata dalam menolong sesama yang susah dan sesama yang miskin. Melalui SAGKI 2010, semoga mata hati dan iman kita mampu melihat dalam diri orang miskin, menderita, dan putus asa sebagai “pewahyu” Wajah Yesus yang sedang menderita, yang berlumuran darah, yang menangis, yang tabah, haus dan lapar (bdk. Mat 25). Kita juga harus ikut berupaya untuk mengurangi kemiskinan dengan berbagai upaya pemberdayaan ekonomi serta melawan segala bentuk perampasan hak milik sesama dan korupsi yang sedang merajalela di negeri kita.

3. Seperti telah kami umumkan tahun yang lalu bahwa kita ingin memfokuskan perhatian pada tahun 2011 pada kaum muda kita sebagai Gereja masa depan. Kita diminta untuk lebih serius memperhatikan mereka dan memberikan pendampingan, agar mereka mampu menghadapi tantangan jaman ini dan beriman teguh pada Kristus yang telah dipilih.

Saudara-saudari yang terkasih,

Mengakhiri Surat Gembala ini saya ingin mengutip Nabi Yesaya : “Berpuasa yang Kukehendaki ialah agar engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya ..., supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya memberi dia pakaian!” (Yes 58:6-7).

Akhirnya, semoga Tuhan menyertai anda sekalian selama masa Retret Agung ini, dan Selamat Paskah.

Dikeluarkan di Bogor, 14 Februari 2011

Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM

Uskup Keuskupan Bogor

baca selanjutnya...

Minggu, 06 Maret 2011

Surat Gembala Prapaskah Kepausan 2011

“Kamu dikuburkan bersama Dia di dalam baptisan, di situ pula kamu dibangkitkan bersama Dia” (bdk Kol 2:12)

Saudara-saudari terkasih,

Masa Prapaskah, yang menuntun kita ke Perayaan Paskah, bagi Gereja senantiasa merupakan masa liturgis yang sangat berharga dan penting. Dalam rangka itu saya suka menyampaikan pesan khusus ini, agar masa prapaska itu dapat dihayati dengan layak dan sepantasnya. Sambil menantikan perjumpaannya yang definitif dengan Sang Mempelai dalam Paska Surgawi nanti, Gereja, sebagai komunitas yang rajin berdoa dan beramal, mengintensifkan perjalanan batin penyucian dirinya, agar supaya dapat menimba dengan lebih berlimpah dari Misteri Penebusan itu kehidupan baru di dalam Kristus Tuhannya (bdk Prefasi 1 Masa Prapaska).

1. Hidup itulah yang sudah dicurahkan kepada kita pada saat kita dibaptis, ketika kita “mengambil bagian di dalam wafat dan Kebangkitan Krisus”. Di situlah dimulainya bagi kita “pengalaman yang menggembirakan dan mengasyikkan dari para murid” (Khotbah pada Hari Pesta Pembaptisan Tuhan, 10 Januari 2010). Dalam surat-suratnya, berulang-ulang St. Paulus menekankan persekutuan khusus dengan Sang Putera Allah yang menjadi buah dari Baptisan itu. Fakta, bahwa pada umumnya Baptisan diterima orang ketika masih bayi, dengan jelas menunjukkan bahwa hidup kekal itu adalah sungguh-sungguh anugerah dari Allah, dan bukan apa yang diperoleh orang karena usahanya sendiri. Kerahiman Allah, yang menghapus dosa-dosa dan, pada saat yang sama, membuat kita bisa mengalami juga di dalam hidup kita “perasan-perasaan Kristus” (Flp. 2:5), sungguh-sungguh dianugerahkan secara cuma-cuma kepada semua orang, baik pria maupun wanita.

Dalam suratnya kepada Jemaat di Filipi, Rasul St. Paulus mengungkapkan arti-makna perubahan mendasar yang terjadi dengan turut mengambil bagian di dalam wafat dan kebangkitan Kristus itu. Sambil menunjuk kepada tujuannya ia mengatakan, bahwa “yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati” (Flp. 3:10-11). Dengan demikian maka Baptisan bukanlah hanya sekedar upacara ritual yang sudah lampau, melainkan adalah perjumpaan dengan Kristus, yang membentuk seluruh keberadaan si terbaptis dengan pencurahan hidup ilahi serta dengan memanggilnya kepada pertobatan yang sejati. Diinisiasikan dan didukung dengan rakhmat. maka orang yang dibaptis mulai dimampukan untuk mencapai taraf kedewasaan Kristus.

Ada kaitan khusus yang menghubungkan Baptisan dengan masa Prapaska, sebagai masa yang tepat untuk mengalami rakhmat yang menyelamatkan itu. Bapa-bapa Konsili Vatikan Kedua menghimbau para Gembala Umat Gereja untuk semakin memanfaatkan “unsur-unsur liturgi masa Prapaskah yang berkenaan dengan baptisan” (Sacrosanctum Concilium, Konstusi tentang Liturgi, no 109). Pada kenyataannya Gereja senantiasa mengaitkan Malam Paskah dengan upacara Baptisan, karena Sakramen ini mengungkapkan misteri agung manusia yang, setelah dibebaskan dari dosa, menjadi pengambil-bagian dalam kehidupan baru dari Kristus-Yang-Bangkit dan menerima Roh Allah yang sama yang telah membangkitkan Yesus dari alam maut (bdk. Rom. 8:11). Anugerah cuma-cuma ini haruslah senantiasa dikobarkan kembali di dalam diri kita masing-masing dan masa Prapaskah justru memberi kita jalan seperti yang ada pada masa Katekumenat, yang bagi umat beriman dari Gereja Perdana dahulu, seperti juga halnya bagi para calon baptis jaman sekarang, adalah sekolah yang tak-tergantikan bagi iman dan kehidupan kristiani. Sungguh, mereka itu menghayati Baptisan mereka sebagai yang membentuk seluruh keberadaan mereka.

2. Untuk dapat menempuh perjalanan kita menuju Paskah itu secara lebih serius dan mempersiapkan diri merayakan Kebangkitan Tuhan, ─ini adalah hari raya yang paling menggembirakan dan paling mulia dalam seluruh tahun liturgi,─ kiranya tidak ada jalan yang lebih tepat selain membiarkan diri kita dibimbing oleh Sabda Allah sendiri. Untuk itulah, Gereja, melalui bacaan-bacaan Injil pada hari Minggu sepanjang masa Prapaskah, menuntun kita untuk bisa sampai pada perjumpaan khusus yang mesra dengan Tuhan, dengan mengajak kita napak-tilas lagkah-langkah insiasi Kristiani kita: bagi para calon baptis, untuk mempersiapkan penerimaan sakramen kelahiran kembali itu; dan bagi yang sudah dibaptis, untuk memantapkan diri dalam langkah baru dan definitif yang telah diambil untuk menjadi pengikut Kristus dan semakin berserah diri kepada-Nya.

Hari Minggu Pertama Masa Prapaskah mengungkapkan keberadaan kita sebagai manusia yang hidup di bumi ini. Kemenangan dari perjuangan melawan penggodaan yang menjadi titik awal perutusan Yesus, haruslah menjadi ajakan bagi kita untuk menyadari kerapuhan kita dalam menerima Rakhmat yang membebaskan kita dari dosa dan membcri pencurahan kekuatan baru di dalam Kristus, “jalan, kebenaran dan hidup” (bdk. Tatacara Inisiasi Kristiani bagi Orang Dewasa, no. 25). Hal itu harus menjadi peringatan yang keras bagi kita, bahwa iman kepercayaan Kristiani, sesuai dengan teladan dari dan dalam kesatuan dengan Kristus, mencakup juga perjuangan “melawan kuasa-kuasa kegelapan di dunia ini” (bdk. Ef. 6:12). Di sana si Setan, tanpa mengenal lelah senantiasa bekerja, juga sekarang ini, untuk menggoda siapa saja yang mau hidup dekat dengan Tuhan. Kristus yang akhirnya jaya terhadap godaan itu, membuka hati kita pada harapan baru dan membimbing kita juga untuk dapat mengalahkan bujukan-bujukan iblis itu.

Hari Minggu Kedua, dengan bacaan injil tentang Transfigurasi Tuhan, menampilkan di depan mata kita kemuliaan Kristus yang mengantisipasi kebangkitan-Nya dan mewartakan pengangkatan manusia kepada martabat ilahi. Persekutuan umat kristiani menjadi sadar, bahwa Tuhan Yesuslah yang membawanya, sama seperti dahulu Petrus, Yakobus dan Yohanes, “naik ke atas gunung yang tinggi” (Mat. 17:5) untuk sekali lagi di dalam Kristus menerima sebagai putera dan puteri di dalam diri Sang Putra sendiri, anugerah rakhmat Allah ini: “Inilah Putra-Ku yang terkasih, yang berkenan pada-Ku. Dengarkanlah Dia” (Mat 17:5). Hal ini harus menjadi ajakan bagi kita untuk mengambil jarak dari hiruk-pikuk hidup kita sehari-hari, agar kita dapat menceburkan diri masuk ke dalam hadirat Allah. Ia berkehendak untuk menyampaikan kepada kita, setiap hari, Sabda-Nya yang menembus lubuk hati kita, sehingga kita bisa membedakan yang baik dan yang jahat (bdk. Ibr. 4:12), dan dengan demikian memperkuat kehendak kita untuk mengikuti Tuhan.

Hari Minggu Ketiga menampilkan bagi kita di dalam liturginya Yesus yang mengajukan permintaan kepada Wanita Samaria: “Berilah Aku minum” (Yoh, 4:7). Sabda Tuhan itu mengungkapkan bela-rasa Allah terhadap manusia, baik laki-laki maupun perempuan, dan mampu membangkitkan di dalam hati kita kerinduan akan anugerah “mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal” (Yoh. 4:14). Inilah anugerah Roh Kudus yang akan mengubah orang-orang kristiani menjadi “penyembah-penyembah yang sejati”, yang mampu berdoa kepada Bapa “dalam roh dan kebenaran” (Yoh. 4:23). Hanya air inilah yang mampu memadamkan kehausan kita akan kebaikan, kebenaran dan keindahan, Hanya air inilah, yang dianugerahkan Putra kepada kita, dapat menyirami gurun kersang jiwa kita “yang tidak akan bisa tenang sebelum menemukan Allah”, sebagaimana kata-kata kesohor St Agustinus itu mengungkapkannya.

Hari Minggu Keempat, melalui kisah “orang yang buta sejak lahir” itu, menampilkan Kristus, Sang Cahaya Dunia. Injil hari ini mengkonfrontasikan masing-masing kita dengan pertanyaan ini: “Percayakah engkau kepada Anak Manusia?” “Ya, Tuhan, aku percaya” (Yoh. 9:35,39) seru orang yang buta sejak lahir itu dengan sukacita, dan dengan demikian ia menyuarakannya juga bagi semua orang beriman. Mukjijat penyembuhan ini menjadi tanda, bahwa Kristus berkehendak memberi kita, bukan saja kemampuan untuk melihat, tetapi juga membuka kemampuan kita melihat secara batin, sehingga iman kepercayaan kita juga semakin diperdalam dan kita mampu mengenali-Nya sebagai satu-satunya Juru Selamat kita. Ia menerangi apa saja yang merupakan kegelapan di dalam hidup dan membimbing semua orang laki-laki dan perempuan untuk hidup sebagai “anak-anak terang”

Pada Hari Minggu Kelima., ketika diwartakan pembangkitan Lazarus, kita diperhadapkan kepada misteri terakhir dari keberadaan kita: “Akulah kebangkitan dan kehidupan … Percayakan engkau akan hal itu?” (Yoh. 11:25-26). Bagi Komunitas Umat Beriman Kristiani inilah saatnya untuk dengan tulus-ikhlas, ─bersama dengan Martha,─ menaruhkan segenap harapannya kepada Yesus dari Nazaret itu: “Ya, Tuhan, saya percaya, bahwa engkaulah Kristus, Putra Allah, yang datang ke dalam dunia ini” (Yoh. 11:27). Persekutuan dengan Kristus di dalam hidup ini, mempersiapkan kita untuk dapat mengatasi batas-batas kematian, sehingga kita masuk ke dalam hidup abadi bersama dengan Dia. Iman kepercyaaan kepada kebangkitan orang mati dan harapan akan kehidupan kekal itu membuka mata kita kepada arti makna yang terdalam dari keberadaan kita: Allah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk kebangkitan dan kehidupan, dan kebenaran ini memberikan arti yang otentik dan pasti kepada sejarah manusia, kepada kehidupan pribadi dan social laki-laki dan perempuan, kepada budaya, politik dan ekonomi. Tanpa terang iman itu, segenap jagat-raya akan berakhir, tertutup dalam liang kubur dan tidak akan ada lagi masa depannya, tidak akan ada lagi harapannya.

Seluruh perjalanan sepanjang masa Prapaskah ini akan mendapatkan kepenuhannya di dalam Tri-Hari Suci Paskah, secara istimewa dalam Malam Kudus Tirakatan Paskah. Di sana, dengan memperbarui janji-janji baptis kita, kita menegaskan kembali pengakuan iman kepercyaan kita, bahwa Kristus adalah Tuhan hidup kita, bahwa ketika “dilahirkan kembali melalui air dan Roh Kudus” itu kita mendapat anugerah hidup dari Allah, dan kita mengakui sekali lagi kesediaan kita menanggapi karya Rakhmat itu untuk menjadi murid-murid-Nya.

3. Dengan menenggelamkan diri ke dalam kematian dan kebangkitan Kristus melalui Sakramen Baptis, kita didorong setiap hari untuk membebaskan hati kita dari hal-hal material yang menjadi beban, dari keterikatan kita yang egoistis dengan “dunia” yang malah memiskinkan kita dan menghalangi kita untuk siap dan terbuka bagi Allah dan sesama kita. Di dalam Kristus Allah menyatakan diri-Nya bahwa Dia adalah Kasih (lih. 1Yoh. 4:7-10). Salib Kristus, yang adalah “Sabda Salib” itu sendiri, menyatakan kekuatan Allah yang menyelamatkan (lih. 1Kor 1:18), yang dianugerahkan untuk membangkitkan kembali manusia, baik laki-laki maupun perempuan, dan memberi mereka keselamatan: itulah pernyataan Kasih yang paling agung (bdk. Ensiklik Deus Caritas Est, no. 12). Dengan menjalankan tradisi berpuasa, bersedekah dan berdoa, yang merupakan ungkapan kesediaan kita untuk bertobat, masa Prapaskah mengajar kita bagaimana menghayati Kasih Kristus itu secara yang paling tuntas.

Berpuasa. Dengan pelbagai kemungkinan motivasi yang menjadi dasarnya, bagi orang kristiani berpuasa memiliki kepentingan religius yang sangat mendalam: dengan mengurangi apa yang kita sajikan di atas meja makan, kita belajar mengalahkan keserakahan dan memupuk hidup atas dasar anugerah dan cinta; dengan mengalami suatu bentuk berkekurangan, dan justru bukan yang berkelebihannya, kita belajar memalingkan diri dari ke-“aku”-an kita, untuk bias menemukan Seseorang yang lain yang dekat dengan kita, bahkan untuk bisa mengenal Allah melalui wajah begitu banyak saudara dan saudari kita. Bagi umat Kristiani, berpuasa, jauh dari pada menyusahkan, malah lebih dapat membuka diri kita terhadap Allah dan kebutuhan sesama, dan dengan demikian memungkinkan cinta kita kepada Allah menjadi cinta kepada sesama (bdk Mrk. 12:31).

Bersedekah. Dalam perjalanan hidup kita, seringkali kita diperhadapkan pada godaan untuk menimbun dan mencintai uang yang dapat merongrong kedaulatan Allah bagi dan dalam hidup kita. Nafsu serakah untuk memiliki ini bisa menyeret kita ke kekerasan, eksploitasi dan kematian. Untuk itulah, maka bersedekah oleh Gereja, terutama selama masa Prapaskah, dijadikan pengingat bagi kita, bahwa kita pun memiliki kemampuan untuk berbagi. Sebaliknya, pemujaan terhadap materi, bukan saja menjauhkan kita dari sesama, melainkan juga menelanjangi kita, membuat kita tidak berbahagia, menipu kita, mengelabui kita tanpa memenuhi apa yang dijanjikannya, justru karena Allah, sumber segala kehidupan, kita gantikan dengan materi. Tidak mungkin kita dapat memahami kebaikan Allah, apabila hati kita dipenuhi dengan egoisme dan kepentingan-kepentingan diri kita sendiri, sambil menipu diri kita sendiri bahwa masa depan kita terjamin. Kita selalu tergoda untuk berpikir seperti si orang kaya di dalam Injil: “Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya …”. Kita semua tahu betul apakah yang menjadi penilaian Tuhan: “Orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu … “ (Luk. 12:19-20). Bersedekah mengingatkan kita kepada kedaulatan Tuhan dan mengarahkan perhatian kita kepada sesama, sehingga kita dapat menemukan kembali betapa baiknya Bapa kita itu, dan dengan demikian kita akan memperoleh belas-kasih-Nya.

Berdoa. Selama masa Prapaskah ini Gereja menawarkan kepada kita Sabda Allah dengan sungguh-sungguh secara berlimpah-ruah. Dengan merenungkan dan membatinkan Sabda itu agar kita dapat menghayatinya setiap hari, kita diberi kesempatan mempelajari suatu bentuk doa yang sangat berharga dan tak-tergantikan, yakni dengan penuh perhatian mendengarkan Allah, yang senantiasa berbicara kepada hati, kita memberi makanan yang menghidupkan perjalanan keberimanan kita yang telah dimulai pada saat kita dibaptis. Berdoa juga mengajar kita untuk mendapatkan pemahaman baru tentang waktu: yakni, bahwa pada kenyataannya tanpa perspektif keabadian dan ke-transenden-an, waktu hanyalah akan menjadi pengantar langkah-langkah kita kepada suatu cakrawala yang tak bermasa depan. Sebaliknya, apabila kita berdoa, kita menemukan waktu bagi Allah, untuk memahami bahwa “sabda-Nya tidak akan binasa” (bdk. Mrk. 13:31), untuk bersama dengan Dia masuk ke dalam persekutuan mesra “yang tidak akan dirampas orang dari padamu” (Yoh 16:22), yang akan membukakan bagi kita pengharapan yang tak-akan mengecewakan, yakni kehidupan kekal.

Sebagai kesimpulan, perjalanan kita sepanjang masa Prapaskah, ke mana kita semua diundang untuk mengkontemplasikan Misteri Salib Tuhan, dimaksudkan juga agar kita bisa “menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya” (Flp. 3:10) agar dengan demikian juga memperolehkan suatu pertobatan yang mendalam bagi hidup kita. Semoga kitapun akan diubah oleh karya Roh Kudus, sebagaimana Rasul Santo Paulus mengalaminya di jalan ke Damsyik. Semoga kita pun akan senantiasa mengkiblatkan keberadaan kita kepada kehendak Allah. Semoga kita pun akan dibebaskan dari segala bentuk egoism, dengan mengalahkan segala kecenderungan kita untuk menguasai orang lain, dan semoga kita semakin dapat membuka diri kita kepada kasih Kristus. Masa Prapaskah adalah masa yang tepat untuk mengenal kelemahan-kelemahan kita dan, dengan secara jujur memeriksa hidup kita, untuk menerima pemulihan rakhmat melalui Sakramen Tobat dan untuk dengan mantap kembali kepada Kristus.

Saudara-saudari terkasih, melalui perjumpaan pribadi kita dengan Sang Juru Selamat dan melalui puasa, sedekah serta doa, perjalanan pertobatan kita menuju Paskah akan membawa kita pada penemuan kembali Baptisan kita. Semoga dalam masa Prapaskah ini kita semua memperbarui penerimaan kita akan rakhmat yang telah dianugerahkan Allah kepada kita melalui Sakramen Baptis itu, sehingga rakhmat itu akan menerangi dan menuntun segala sepak-terjang hidup kita. Apa yang ditandakan dan dinyatakan oleh Sakramen itu adalah, bahwa kita dipanggil untuk setiap hari mengalami hal menjadi pengikut Kristus itu secara lebih setia dan tulus, Marilah kita di dalam perjalanan itu berserah diri kepada Santa Perawan Maria, yang telah melahirkan Sang Juru Selamat baik secara beriman maupun menurut daging, sehingga kita semakin dapat menenggelamkan diri, sebagaimana Bunda Maria telah melakukannya juga, di dalam wafat dan kebangkitan Puteranya Yesus, dan dengan demikian juga memperoleh hidup kekal.

Dikeluarkan di Vatikan, 4 November 2010,

Benediktus XVI, Paus.

Sumber : http://www.keuskupanbogor.org/

baca selanjutnya...

Rabu, 23 Februari 2011

Pesan Bapa Suci Paus Benedictus XVI Untuk Hari Orang Sakit Sedunia Ke-19 (11 Februari 2011)

“OLEH BILUR-BILURNYA KAMU TELAH SEMBUH” (1 Pet 2:24)

Saudara saudari terkasih,
Setiap tahun, Gereja memperingati Hari Orang Sakit Sedunia pada Peringatan Santa Perawan Maria dari Lourdes, yang biasanya dirayakan pada setiap tanggal 11 Februari. Hal ini, sebagaimana diharapkan oleh Venerabilis Paus Yohanes Paulus II, merupakan kesempatan yang baik dan tepat untuk merenungkan misteri penderitaan, terutama untuk mengajak komunitas-komunitas gerejani dan masyarakat sipil lainnya lebih peka terhadap saudara-saudari kita yang sakit. Jika setiap orang adalah saudara, terlebih lagi orang yang lemah, yang menderita dan yang membutuhkan perhatian, maka mereka harus menjadi pusat perhatian kita, sehingga tak seorangpun dari mereka merasa dilupakan atau dipinggirkan. Karena sesungguhnya: "Tolok ukur kemanusiaan pada dasomya ditentukan oleh kaitan antara penderitaan dengan si penderita. Hal ini berlaku baik bagi individu maupun masyarakat. Suatu masyarakat yang tak mampu menerima para penderita dan tak mampu berbagi derita dengan mereka dan berbelas-kasih terhadap mereka, adalah masyarakat yang bengis dan tidak manusiawi" (Ensiklik "Spe Salvi", No. 38).

Semoga aneka inisiatif yang dirancang oleh masing-masing keuskupan pada peringatan ini menjadi suatu pendorong dan semakin efektif dalam memberi perhatian kepada mereka yang menderita, termasuk dalam konteks peringatan akbar yang akan dilangsungkan di tempat peziarahan gua Maria di Altotting, Jerman pada tahun 2013 nanti.

1. Saya masih ingat ketika dalam serangkaian kunjungan pastoral ke Turin, saya dapat berhenti sejenak dalam refleksi dan doa saya di depan kain Kafan Suci, di hadapan Wajah yang menderita, yang mengundang kita untuk merenungkan Diri-Nya, yang mau menerima beban derita manusia dari setiap jaman dan tempat, bahkan penderitaan kita, kesulitan-kesulitan kita, dosa­dosa kita. Betapa banyak orang beriman sepanjang sejarah telah mengunjungi kain kafan, yang digunakan untuk membungkus tubuh seorang yang disalibkan, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Injil yang telah disampaikan kepada kita tentang penderitaan dan wafat Yesus! Merenungkan hal ini adalah suatu undangan untuk merefleksikan apa yang ditulis oleh St. Petrus : "Oleh bilur-bilurNya kamu telah sembuh" (1 Petrus 2:24).

Putera Allah telah menderita, la telah wafat, tetapi la telah bangkit kembali. Memang benarlah demikian karena melalui peristiwa-peristiwa tersebut luka-lukaNya menjadi tanda penebusan, pengampunan dan perdamaian kembali kita dengan Bapa. Namun demikian peristiwa derita, wafat clan kebangkitan tersebut sekaligus juga menjadi ujian iman bagi para Murid dan iman kita. Setiap kali Tuhan berbicara tentang penderitaan dan wafat-Nya, para murid tidak dapat mengerti, mereka menolaknya dan menyangkalnya. Bagi mereka, sama dengan bagi kita, penderitaan itu selalu penuh dengan misteri, sulit untuk kita terima dan kita tanggung. Sebab peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di Yerusalem dalam hari-hari itu, membuat dua orang Murid dari Emaus berjalan dengan hati sedih, dan hanya ketika Dia yang bangkit berjalan bersama dengan mereka, maka terbukalah mereka terhadap pemahaman yang baru (bdk. Lukas 24:13-31). Bahkan Rasul Thomas sendiri menunjukkan kesulitannya untuk meyakini jalan penebusan melalui penderitaan : "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya don sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya" (Yoh.20:25). Namun sebelum Yesus menunjukkan luka­luka-Nya, jawaban-nya (rasul Thomas) telah berubah menjadi sebuah pernyataan iman yang mengharukan: "Ya Tuhanku dan Allahku!" (Yoh. 20:28). Apa yang pada awalnya merupakan halangan besar, sebab hal ini merupakan tanda kegagalan Yesus yang nyata, menjadi bukti cinta yang begitu kuat, berkat perjumpaan dengan Dia yang telah bangkit: "Hanya Allah yang mengasihi kita sampai berani menanggung bagi diri-Nya luka-luka don penderitaan kita, khususnya penderitaan yang bukan karena kesalahan-Nya sendiri, Allah semacam itulah yang pantas diimani" (Pesan Urbi et Orbi, Paskah 2007).

2. Saudara-saudari yang sedang sakit dan menderita, alangkah baik sekali bahwa melalui penderitaan Kristus kita dapat melihat, dengan mata pengharapan, semua kejahatan yang menimpa umat manusia. Berkat kebangkitan-Nya, Tuhan tidak menyingkirkan penderitaan dan kejahatan dari dunia, melainkan Dia telah menaklukan derita dan kejahatan itu dari akarnya. Keangkuhan kejahatan Dia lawan dengan keagungan kasih-Nya. Oleh karena itu, la menunjukkan kepada kita bahwa jalan menuju kedamaian dan sukacita adalah Kasih: "Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi" (Yoh.13:34). Kristus, sang Pemenang atas maut, hidup dan tinggal di tengah-tengah kita. Dan bersama St. Thomas kita berkata : "Ya Tuhanku don Allahku!" Marilah kita mengikuti Tuhan yang selalu siap untuk mempersembahkan hidup kita bagi saudara­-saudara kita (1Yoh.3:16), menjadi pembawa kabar sukacita tanpa takut akan penderitaan. Inilah sukacita Kebangkitan.

St. Bernardus pernah mengatakan: “Allah tidak dapat menderita, tetapi la dapat menderita bersama." Allah, yang adalah Kebenaran dan Kasih dalam diri manusia, berkenan menderita bagi clan bersama dengan kita. la menjadi manusia supaya dapat menderita bersama dengan manusia dalam arti yang sebenarnya, dalam darah dan daging. Oleh karena itu, Dia telah masuk dalam diri seorang Manusia untuk berbagi dan menanggung derita bagi setiap penderitaan manusia. la menawarkan pengiburan terhadap semua penderitaan, suatu penghiburan karena keterlibatan kasih Allah, yang membuat bintang pengharapan bersinar (bdk. Ensiklik "Spe Solvi" 39).

Saya ulangi sekali lagi pesan ini kepada kamu, Saudara dan Saudari, supaya kamu menjadi saksi akan hal ini melalui derita, hidup dan imanmu.

3. Sambil menanti pertemuan di Madrid, Agustus 2011, pada perayaan Hari Kaum Muda Sedunia, saya juga akan menyampaikan suatu refleksi khusus bagi kaum muda, terutama mereka yang pernah mengalami penderitaan penyakit. Seringkali, Penderitaan dan Salib Yesus menyebabkan ketakutan, karena seolah-olah menjadi penyangkalan terhadap kehidupan. Kenyataannya justru sangat berlawanan! Salib adalah Jawaban "ya" dari Allah bagi umat manusia, suatu ungkapan tertinggi clan terdalam kasih Allah, cumber yang mengalir untuk kehidupan kekal. Dari hati Yesus yang terluka, hidup ilahi mengalir. la sendiri sanggup membebaskan dunia dari kejahatan dan menjadikan Kerajaan-Nya: kerajaan keadilan, perdamaian dan kasih tumbuh, kerajaan yang kita semua cita-citakan. (bdk. Pesan untuk Hari Kaum Muda Sedunia 2011, no. 3).

Kaum muda yang terkasih, belajarlah "melihat" dan "menjumpai" Yesus di dalam Ekaristi, di mana la hadir bagi kita secara nyata, yang menjadikan diri­Nya makanan untuk perjalanan kita, tetapi ketahuilah bagaimana mengenal dan melayani Dia, yaitu di dalam diri saudara-saudara yang miskin, sakit, menderita dan dalam kesulitan, juga yang membutuhkan bantuanmu (bdk. Ibid, no. 4). Bagi kamu semua hai kaum muda, baik yang sakit maupun yang sehat, saya ulangi lagi undangan untuk membangun jembatan kasih dan solidaritas, supaya tidak seorangpun merasa sendirian, melainkan dekat dengan Allah dan menjadi bagian dari keluarga besar anak-anak-Nya (bdk. Audiensi Umum, 15 November 2006)

4. Ketika merenungkan bilur-bilur Yesus, kita arahkan pandangan kita kepada Hati-Nya yang Mahakudus di mana kasih Allah dinyatakan dengan cara yang paling agung. Hati Tersuci adalah Kristus yang tersalib, dengan lambung-Nya tertembus oleh tikaman tombak, dari sanalah darah dan air mengalir (bdk. Yoh. 19:34): "simbol Sakramen-sakramen Gereja, sehingga semua orang yang ditarik kepada hati Sang Juru Selarnat, boleh minum dari sumber air keselamatan abadi" (Missa Romawi, Prefasi Hari Raya Hati Kudus Yesus). Khususnya kamu semua yang sedang menderita sakit, hendaknya merasakan betapa dekatnya dengan Hati Kudus Yesus yang penuh kasih dan ambilah air dari mata air ini dengan iman dan sukacita, sambil bercloa : “Air lambung Kristus, bersihkanlah aku. Sengsara Kristus, kuatkanlah aku. 0 Yesus yang baik, dengarkanlah aku. Dalam luka-luka-Mu, sembunyikanlah aku" (doa St. Ignatius Loyola).

5. Mengakhiri pesan saya untuk Hari Orang Sakit Sedunia ini, saya ingin mengungkapkan kasih saya bagi setiap orang, sambil merasakan keterlibatan saya di dalam penderitaan dan pengharapanmu sehari-hari dalam persekutuan dengan Kristus yang tersalib dan bangkit, hingga la memberimu damai dan kesembuhan batin. Semoga bersama Kristus yang telah wafat dan bangkit, Santa Perawan Maria yang kepadanya kita mohon dengan penuh iman, selalu menjagamu karena gelarnya adalah Pelindung orang sakit dan Penghibur orang yang menderita. Di bawah kaki salib, terpenuhilah di sana nubuat Simeon: hatinya sebagai Ibu tertembus pedang (bdk. Luk. 2:35). Dari jurang penderitaannya, karena partisipasinya dalam penderitaan Puteranya, Maria dimampukan menerima misi barunya: menjadi ibu Kristus di dalam anggota-anggota (Gereja-Nya). Pada saat penyaliban, Yesus menyerahkan kepada Maria setiap murid-Nya: "Inilah anakmu" (bdk. Yoh. 19:26-27). Kasih keibuan Maria bagi Putera-nya menjadi kasih keibuan bagi setiap orang di antara kita dalam penderitaan kita sehari­hari (bdk. Khotbah di Lourdes, 15 September 2008).

Saudara-saudari terkasih, pada Hari Orang Sakit Sedunia ini, saya juga mengundang para penguasa untuk lebih menginventasikan lagi sistem-sistem kesehatan yang dapat menyediakan bantuan dan dukungan bagi yang menderita, terlebih mereka yang paling miskin dan yang paling membutuhkan. Dan bagi semua keuskupan, saya menyampaikan salam kasih kepada para uskup, para imam, kaum religius, para seminaris, para petugas kesehatan, para sukarelawan dan semua orang yang membaktikan dirinya dengan kasih untuk merawat dan meringankan luka-luka setiap saudara-saudari yang sakit, di rumah-rumah sakit atau di panti-panti perawatan, maupun dalam keluarga. Dalam wajah-wajah orang-orang yang sakit itu, ketahuilah bagaimana agar dapat melihat Wajah di antara wajah-wajah itu: Wajah Kristus sendiri.

Saya kenangkan kamu semua dalam doa saya, seraya memberikan berkat khusus apostolik kepada kamu masing-­masing.

Dari Vatikan, 21 November 2010
Pada Pesta Kristus Raja Semesta Alam
Benediktus XVI

baca selanjutnya...

Sabtu, 19 Februari 2011

Pesan Bapa Suci Benedictus XVI Untuk Hari Orang Muda Sedunia Ke-26, Tahun 2011 Di Madrid

"Berakar dan dibangun dalam Yesus Kristus, berteguh dalam iman" (bdk. Kol 2:7)

Sahabat muda terkasih,

Saya sering mengingat kembali Hari Orang Muda Sedunia di Sidney pada tahun 2008 silam. Di sana, kita merayakan pesta iman, saat Roh Allah secara giat bekerja di tengah-tengah kita semua, dan membangun komunitas rohani yang secara sungguh-sungguh dapat saling berbagi dalam satu iman, di antara para peserta yang datang dari berbagai belahan dunia. Pertemuan tersebut, seperti perjumpaan-perjumpaan sebelumnya, berbuah lebat dalam hidup banyak orang muda dan hidup Gereja. Sekarang kita menuju Hari Orang Muda Sedunia berikutnya, yang akan terselenggara di Madrid pada bulan Agustus 2011. Mengingat kembali masa pada tahun 1989, beberapa bulan sebelum hari bersejarah keruntuhan tembok Berlin, peziarahan orang muda seperti ini pernah dilakukan di Spanyol pula, waktu itu di Santiago de Compostela. Sekarang, saat masyarakat Eropa sedang dalam kebutuhan besar untuk menemukan kembali akar Kekristenan mereka, pertemuan kita akan mengambil tempat di Madrid, dengan tema : "Berakar dan dibangun dalam Yesus Kristus, berteguh dalam iman" (bdk. Kol 2:7). Saya menyemangati Anda untuk mengambil bagian dalam peristiwa ini, yang merupakan peristiwa penting bagi Gereja di Eropa dan bagi Gereja sedunia. Saya mengajak kalian semua orang muda, baik yang saling berbagi iman dalam Yesus Kristus, maupun kalian yang ragu dalam ketidakpastian, atau kalian yang tidak percaya akan Dia, untuk berbagi pengalaman ini, yang akan membuktikan kepastian hidup kalian. Inilah pengalaman akan Tuhan Yesus yang bangkit dan hidup, dan pengalaman akan kasihNya bagi kita masing-masing.

1. Pada sumber Keinginanmu yang terdalam

Dalam setiap periode sejarah kehidupan, termasuk periode kita, banyak orang muda memiliki kerinduan yang mendalam akan relasi pribadi, yang ditandai oleh kebenaran dan solidaritas. Banyak dari mereka membangun hubungan persahabatan yang tulus, untuk mengenal cinta sejati, untuk memulai hidup berkeluarga yang diharapkan manunggal bersatu, untuk mencapai kepenuhan pribadi dan kemapanan hidup yang nyata, serta semua hal yang menjamin masa depan yang bahagia dan tenang. Ketika mengenangkan masa muda saya sendiri, saya tersadar bahwa kemapanan dan perasaan aman nyaman bukanlah pertanyaan yang memenuhi pemikiran generasi muda. Memang cukup benar, bahwa pentinglah memiliki pekerjaan agar dengan itu memiliki pijakan yang kokoh. Namun selain itu, tahun-tahun masa muda merupakan juga waktu, saat kita mencari yang terbaik dari hidup kita. Ketika saya membayangkan kembali masa muda itu, saya ingat semua bahwa kita tidak ingin hidup nyaman demi kehidupan dalam kelas menengah yang mapan. Kita menginginkan sesuatu yang besar, sesuatu yang baru. Kita ingin menjelajahi kehidupan itu sendiri, dalam semua keagungan dan keindahannya. Secara alamiah, tahap itu merupakan bagian dari kehidupan yang kita alami. Selama kediktatoran Nazi dan peperangan, dapat dikatakan pada masa itu, semua orang terkungkung oleh segala peraturan dan batasan yang diciptakan oleh struktur yang sedang berkuasa. Maka, semua orang saat itu ingin mendobrak segala batasan: menginginkan adanya kebebasan, keterbukaan yang memungkinkan kita meraih peluang sebagai manusia. Saya berpikir, bahwa dorongan untuk mendobrak segala batasan yang ada, pada jangkauan tertentu, selalu menandai jiwa orang muda dari masa ke masa. Bagian dari menjadi muda, ialah hasrat akan sesuatu di balik hidup harian dan pekerjaan yang mapan, suatu kerinduan untuk sesuatu yang sungguh-sungguh lebih besar.

Apakah ini hanya mimpi yang akan memudar dan akhirnya menghilang jika kita menua? Tidak! Pria maupun perempuan, diciptakan untuk sesuatu yang besar, untuk sebuah keabadian. Tiada pernah cukup. Santo Agustinus benar ketika ia mengatakan: "Hati kami belum tenang, sampai menemukan istirahat di dalam Engkau".

Hasrat untuk mencari kehidupan yang lebih bermakna merupakan tanda bahwa Tuhan menciptakan kita, agar mengemban citra diri-Nya. Tuhan adalah Sang Kehidupan, dan itulah sebabnya kita ciptaanNya selalu berusaha untuk menggapai dan menggenggam kehidupan. Karena manusia diciptakan dengan citra Allah, maka kita menggapai kehidupan dengan cara yang unik dan istimewa. Kita selalu berusaha untuk menggapai cinta, suka cita, dan damai. Jadi dapatlah kita lihat, betapa mustahil apabila kita berpikir bahwa kita dapat sungguh-sungguh hidup dengan menyingkirkan Allah dari gambar hidup kita! Tuhan adalah sumber kehidupan. Mengenyampingkan Allah berarti kita telah memisahkan diri kita dari sumber kehidupan, dan berarti kita telah memisahkan diri dari sumber sejati kebahagiaan, suka cita, dan damai. "Tanpa Sang Pencipta, makhluk ciptaan hilang melenyap" (Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes, 36). Di beberapa belahan dunia, terutama kehidupan di belahan dunia Barat, budaya mereka saat ini cenderung menyingkirkan Tuhan dari segala aspek dan segi kehidupan, dan memandang bahwa iman kepercayaan adalah urusan pribadi, tanpa memiliki hubungan dan relevansi apapun dengan kehidupan. Sekalipun segugus nilai-nilai yang mendasari kehidupan masyarakat berasal dari Injil, seperti nilai martabat pribadi, nilai solidaritas, nilai kerja, dan nilai berkeluarga, namun kita menyaksikan suatu "gerhana Tuhan" yang pasti, semacam amnesia (penyakit lupa) akan sejarah, sebuah penolakan Kristianitas, pengingkaran khasanah iman Kristen, sebuah pengingkaran yang bisa membawa kita pada hilangnya jati diri kita yang paling dalam.

Untuk alasan inilah, para sahabat, saya mendorong kalian untuk memperkuat iman kalian akan Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus. Kalian adalah masa depan masyarakat dan Gereja. Seperti Rasul Paulus telah menulis untuk umat di Kolose : Pentinglah memiliki akar, dasar yang kokoh. Perkara ini secara sebagian, benar untuk zaman kita sekarang. Banyak orang tidak memiliki titik acuan yang kokoh, tempat mereka membangun hidup, dan karena nya mereka sungguh merasa tidak aman. Saat ini ada mentalitas relativisme yang berpaham bahwa alasan adanya setiap hal cukup kuat dari dirinya sendiri, serta bahwa suatu kebenaran dan titik acuan yang mutlak, tidak pernah ada. Namun, jalan pikiran seperti ini tidak akan pernah mengarahkan kita kepada kebebasan sejati, tetapi lebih mengacu kepada ketidakstabilan, kebingungan, kompromi buta terhadap keisengan zaman ini. Sebagai orang muda, kalian berhak untuk mewarisi dari generasi pendahulu, titik acuan yang kokoh bagi kalian untuk menolong kalian membuat pilihan, dan membangun hidup di atasnya, bagaikan tunas muda yang membutuhkan dorongan yang mantap hingga bisa membenamkan akar tunggangnya dalam-dalam, tumbuh menjadi pohon kuat yang mampu menghasilkan buah lebat.

2. Berakar dan dibangun dalam Yesus Kristus

Untuk menekankan betapa pentingnya iman bagi hidup umat Allah, kepada kalian saya ingin menyampaikan renungan saya, perihal tiga kata yang digunakan oleh St. Paulus dalam ungkapan : "Berakar dan dibangun dalam Yesus Kristus, berteguh dalam iman" (bdk. Kol 2:7). Kita dapat membedakan tiga buah gambaran berikut ini: "Berakar" mengingatkan kita pada pohon dan akar yang memberi makan pohon itu. "Dibangun" mengacu pada susunan sebuah rumah; "Berteguh" menunjukkan pertumbuhan fisik dan susila. Ketiga gambaran ini sangat tepat. Sebelum memberi ulasan mengenai ketiga kata tersebut, saya tunjukkan bahwa menurut tata bahasa, ketiga kata itu dalam teks aslinya berbentuk kata kerja pasif. Berarti, Kristus sendirilah yang berkehendak untuk menanam, membangun, dan menguatkan kaum beriman.

Gambaran pertama ialah mengenai sebuah pohon yang dengan kokoh ditanam, yang berterima kasih kepada akar yang telah menopang dan memberi makanan kepadanya. Tanpa akar-akar itu, pohon akan roboh ditiup angin dan mati. Apakah akar kita? Secara alamiah, orangtua, keluarga dan kebudayaan negara kita merupakan unsur-unsur penting dari jati diri pribadi kita. Namun Kitab Suci mewahyukan unsur yang lebih lagi. Nabi Yeremia menuliskan: "Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah" (Yer 17:7-8). Bagi Nabi Yeremia, berakar dalam Tuhan berarti menyerahkan kepercayaan kepada Tuhan. Dari Dia, kita melukis hidup kita. Tanpa Dia, kita tidak bisa benar-benar hidup. "Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam anak-Nya" (1 Yoh 5:11). Yesus sendiri menyatakan kepada kita, bahwa Dia sendirilah kehidupan kita (bdk. Yoh 14:6). Sebagai akibatnya, iman Kristen bukanlah hanya suatu kepercayaan bahwa suatu hal tertentu merupakan kebenaran, melainkan lebih dari itu, iman Kristen merupakan suatu hubungan pribadi dengan Yesus Kristus. Iman kita ialah suatu perjumpaan dengan Sang Putra Allah yang memberikan tenaga pada seluruh keberadaan kita. Ketika kita memasuki hubungan pribadi dengan Dia, Kristus menyingkapkan jati diri kita yang asli, dan dalam persahabatan denganNya, hidup kita bertumbuh menuju kepenuhan yang lengkap. Ada saatnya ketika kita mengalami masa muda, ketika bertanya: Apa makna hidup saya? Manakah tujuan dan arah yang harus kuberikan pada hidup saya? Saat itu merupakan saat penting, dan pertanyaan-pertanyaan itu mungkin bisa membuat kita cemas untuk beberapa lama. Kita mulai mempertanyakan mengenai jenis pekerjaan yang harus kita pilih, pola hubungan-hubungan yang harus kita bangun, persahabatan yang harus kita pelihara.

Di sinilah, suatu saat, saya melihat kembali masa muda saya. Saya agak cukup dini menyadari, mengenai kenyataan bahwa Tuhan menghendaki saya menjadi imam. Kemudian setelah masa peperangan berakhir, saat saya di seminari dan universitas dalam jalur menuju tujuan imamat itu, saya harus melihat kembali kepastian cita-cita saya itu. Saya harus bertanya diri: sungguhkan ini jalur yang harus saya jalani? Apakah benar jalan ini merupakan kehendak Tuhan bagi saya? Apakah saya akan mampu bertahan setia bagiNya dan sepenuhnya melayani Dia? Keputusan seperti ini menuntut perjuangan tertentu. Hal ini tidak bisa tidak, harus dilakukan. Namun kemudian tibalah kepastian itu: inilah keputusan yang tepat! Ya, Tuhan menginginkan saya, dan ia akan memberi saya kekuatan. Jika saya mendengarkan Dia dan berjalan bersamaNya, maka saya pasti menjadi diri saya yang asli. Yang diperhitungkan bukanlah pemenuhan hasrat hati saya sendiri, namun kehendak Dia. Dengan cara ini, hidup menjadi sejati.

Serupa dengan akar yang menopang kuat pohon untuk tetap berada dalam tanah dan kehidupannya, maka pondasi sebuah rumah memberikan jaminan kekokohan jangka panjang. Melalui iman, kita telah dibangun dalam Yesus Kristus (bdk. Kol 2:7), seperti rumah dibangun di atas pondasinya. Sejarah Kekudusan telah menyediakan bagi kita banyak contoh Santo-Santa yang membangun hidupnya pada Sabda Tuhan itu. Yang pertama ialah Abraham, bapa iman kita, yang taat pada Tuhan, ketika Tuhan memerintahkan dia meninggalkan tanah leluhurnya untuk menuju tanah yang tidak ia kenal. "Percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. Karena itu Abraham disebut "Sahabat Allah" (Yak 2:23). Dibangun dalam Yesus Kristus berarti menanggapi secara positif panggilan Tuhan, mempercayaiNya, dan menaruh SabdaNya dalam tindakan. Yesus sendiri mengingatkan para murid, "Mengapa engkau berseru kepadaku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?" (Luk 6:46). Dia lalu memakai gambaran pembangunan sebuah rumah: "Setiap orang yang datang kepadaKu dan mendengarkan serta melakukannya - aku akan menyatakan kepadamu - dengan siapa ia dapat disamakan. Ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah. Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun" (Luk 6:47-48).

Para Sahabat terkasih.

Bangunlah rumah kalian sendiri di atas batu karang seperti orang yang menggali dalam-dalam untuk membuat pondasi. Cobalah setiap hari untuk mengikuti sabda Kristus. Dengan keberadaan-Nya disamping kalian, kalian akan menemukan keberanian dan pengharapan untuk menghadapi berbagai kesulitan dan masalah, bahkan untuk mengatasi kekecewaan dan kemunduran. Kepada kalian, secara terus menerus ditawarkan pilihan-pilihan yang lebih mudah, namun kalian sendiri tahu, bahwa segala tawaran itu bersifat menipu dan tidak akan pernah mampu memberikan damai dan suka cita. Hanya Sabda Allah saja yang mampu memperlihatkan kepada kita jalan yang sejati dan hanya iman yang kita terima-lah yang menjadi cahaya dalam jalan kehidupan kita. Dengan penuh syukur, terimalah hadiah rohani ini yang telah kalian warisi dari keluarga kalian; Berusahalah untuk menanggapi panggilan Tuhan dengan penuh kesadaran, dan bertumbuhlah dalam iman. Janganlah percaya para mereka yang memberitahu kalian bahwa kalian tidak memerlukan orang lain untuk membangun hidup kalian! Temukanlah dukungan dalam iman, pada orang-orang yang mengasihi kalian, temukanlah dukungan dari iman Gereja, dan bersyukurlah pada Tuhan bahwa kalian telah menerima iman itu dan telah membuatnya menjadi milik kalian sendiri!

3. Berteguhlah dalam iman

Hendalah kamu "berakar dan dibangun dalam Yesus Kristus, berteguh dalam iman." (Kol 2:7). Surat dari mana kata-kata tersebut dikutip, ditulis oleh Santo Paulus untuk menanggapi kebutuhan khusus umat Kristen di kota Kolose. Waktu itu, komunitas umat di Kolose terancam oleh pengaruh kecenderungan budaya tertentu yang memalingkan kaum beriman dari Injil. Ruang lingkup budaya kita sekarang, para sahabat, bukanlah seperti keadaan umat kuno di Kolose. Namun saat ini, terdapat arus kuat pikiran kaum sekular serupa, yang bertujuan untuk meminggirkan Tuhan dari kehidupan masyarakat dengan menekankan dan menciptakan "surga" tanpa kehadiran-Nya. Sebenarnyalah, pengalaman memberikan bukti nyata kepada kita semua, bahwa dunia tanpa Tuhan selalu menjadi "neraka" : dipenuhi oleh keakuan, keluarga berantakan, kebencian antar-pribadi dan antar-bangsa, dan kekurangan yang besar akan kasih, suka cita, dan harapan. Di lain pihak, di manap ada pribadi dan bangsa menerima kehadiran Allah di tengah-tengah mereka, memujiNya dalam kebenaran serta mendengarkan suara-Nya, maka peradaban cinta kasih sedang dibangun, yaitu sebuah peradaban di mana martabat semua orang dihormati, dan persekutuan paguyuban meningkat, dengan segala kebaikannya. Namun demikian tetap saja, beberapa umat Kristen tergoda oleh sekularisme dan arus kepercayaan yang menjauhkan mereka dari iman akan Yesus Kristus. Ada pula beberapa orang Kristen, sekalipun tidak terpengaruh oleh godaan itu, namun telah dengan sembrono membiarkan iman mereka tumbuh seadanya, yang berakibat buruk pada hidup kesusilaan mereka.

Kepada orang-orang Kristen yang dipengaruhi oleh gagasan-gagasan yang jauhb dari nilai Injil, Rasul Paulus memberitakan mengenai kekuatan wafat dan kebangkitan Kristus. Misteri wafat dan kebangkitan Kristus merupakan dasar hidup kita serta pusat iman Kristen. Dengan tetap menghormati pertanyaan-pertanyaan besar yang terbenam dalam-dalam di hati manusia, menurut saya semua filsafat yang mengabaikan misteri salib serta menganggapnya "kebodohan" (1Kor 1:23), justru menyingkapkan keterbatasan mereka sendiri. Sebagai penerus Rasul Petrus, saya juga ingin menguatkan kalian dalam iman (bdk. Luk 22:32). Kita dengan teguh percaya bahwa Yesus Kristus menyerahkan diriNya sendiri di kayu salib untuk memberikan kasih-Nya kepada kita. Dalam penderitaanNya, Dia memikul penderitaan kita, menanggung dalam diri-Nya dosa -dosa kita, memberikan pengampunan bagi kita dan mendamaikan kita dengan Allah Bapa, membukakan bagi kita jalan menuju hidup abadi. Jadi, kita dibebaskan dari hal yang paling membelenggu hidup kita yaitu perbudakan dosa. Kita bisa mengasihi setiap orang, bahkan musuh kita, dan kita bisa membagikan kasih ini untuk yang termiskin dari saudara-saudari kita, dan bagi semua orang yang sedang dalam dalam kesukaran hidup.

Para Sahabat terkasih;

Salib sering menggentarkan kita karena salib tampak sebagai penolakan hidup. Pada kenyataannya, sebaliknyalah yang benar. Salib adalah pernyataan ‘Ya' dari Allah kepada umat manusia, yang merupakan ungkapan tertinggi dari cinta-Nya dan sumber dari mana kehidupan kekal mengalir. Sesungguhnyalah, pernyataan ini berasal dari hati Yesus, yang dihancurkan di salib, yang justru dari hati yang hancur itu hidup ilahi mengalir, yang bisa ditampung oleh semua yang mengangkat mata mereka kepada Sang Tersalib.

Saya hanya dapat mendesak kalian untuk memeluk Salib Yesus Kristus, tanda cinta kasih Tuhan, sebagai sumber hidup baru.

4. Mengimani Yesus Kristus tanpa melihat langsung

Dalam Injil kita menemukan paparan mengenai pengalaman iman Rasul Thomas ketika ia menerima misteri Salib dan kebangkitan Kristus. Thomas merupakan salah satu dari kedua belas rasul. Dia mengikuti Yesus, dan menjadi saksi mata dari penyembuhan dan mukjizat yang dibuat Yesus. Thomas mendengarkan sabda-Nya, dan dia mengalami ketakutan pada saat wafat Yesus. Malam pada hari Paskah itu, ketika Tuhan menampakkan diri pada para murid, Thomas tidak hadir. Ketika ia diberitahu bahwa Yesus hidup dan memperlihatkan diriNya, Thomas menjawab: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangannya, dan mencucukkan jariku pada bekas paku itu dan mencucukkan tanganku pada lambungNya, sekali-kali aku tidak akan percaya" (Yoh 20:25).

Kita juga, ingin mampu melihat Yesus, berbicara denganNya dan merasakan kehadiranNya bahkan secara lebih penuh kuasa. Bagi banyak orang dewasa ini, menjadi sukar untuk mendekati Yesus. Ada terlalu banyak gambaran mengenai Yesus yang beredar, yang dinyatakan sebagai ilmiah, yang malahan membuat kabur keagungan dan keunikan pribadiNya. Itulah sebabnya, setelah bertahun-tahun belajar dan merenung, saya memikirkan untuk membagikan sesuatu dari perjumpaan pribadi saya bersama Yesus dengan menuliskannya menjadi sebuah buku. Ini merupakan sebuah cara untuk membantu orang lain melihat, mendengar, dan menyentuh Tuhan kepada siapa Ia datang supaya diri-Nya dikenal. Yesus sendiri ketika seminggu kemudian menampakkan diri lagi kepada para murid berkata kepada Thomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tanganKu, ulurkanlah tanganmu dan cucukkanlah ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi melainkan percayalah." (Yoh 20:27). Kita juga, bisa memiliki kontak yang tampak dengan Yesus dan menaruh tangan kita, juga berbicara padaNya, atas tanda-tanda penderitaan-Nya, tanda-tanda cinta kasih-Nya. Dalam sakramen-sakramen, Dia secara khusus dekat dengan kita, dan memberikan diriNya untuk kita. Orang muda terkasih, belajarlah untuk "melihat" dan "menjumpai" Yesus dalam Ekaristi, di mana Dia hadir dan dekat dengan kita, dan bahkan menjadi santapan bagi perjalanan kita. Dalam Sakramen Tobat, Tuhan memperlihatkan kerahimanNya dan selalu memberikan pengampunanNya untuk kita. Kenalilah, dan layanilah Yesus dalam diri orang miskin, orang sakit, dan dalam diri saudara-saudari yang sedang dalam kesulitan dan membutuhkan pertolongan.

Masuklah dalam percakapan pribadi dengan Yesus Kristus dan peliharalah hal itu dalam iman. Kenalilah Dia lebih baik lagi dengan membaca Kitab Suci dan buku Katekismus Gereja Katolik (KGK). Berbincanglah dengan-Nya dalam doa kalian, dan letakkan kepercayaan kalian dalam Dia. Dia tidak pernah mengkhianati kepercayaan kalian itu! "Iman pertama-tama ialah ikatan pribadi manusia dengan Allah. Sekaligus tak terpisahkan dari itu, ialah persetujuan bebas terhadap seluruh kebenaran yang diwahyukan Tuhan" (KGK, 150). Dengan demikian, kalian akan menuai iman yang matang dan mantap, yaitu iman yang tak hanya didasarkan kepada rasa-perasaan keagamaan, atau hanya mengandalkan ingatan samar-samar akan katekismus pelajaran agama Katolik yang kamu terima dulu saat kanak-kanak. Kalian mau datang untuk mengenal Allah, dan hidup secara sejati dalam kesatuan dengan Dia, sebagaimana Rasul Thomas yang memperlihatkan imannya yang teguh dalam Yesus, dengan berkata: "Tuhanku dan Allahku!".

5. Ditopang oleh iman Gereja untuk menjadi saksi.

Yesus berkata kepada Thomas: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya." (Yoh 20:29). Yesus saat itu sedang memikirkan jalur iman Gereja yang harus diikuti yang didasarkan pada para saksi mata wafat dan kebangkitan Kristus yaitu para Rasul. Dengan demikian, kita melihat, bahwa iman pribadi kita pada Kristus, yang menjumpai kita dalam percakapan pribadi denganNya, diikat dalam iman Gereja. Kita tidak beriman sebagai individu yang terpisah dari yang lain, namun melalui Baptis, kita ialah anggota keluarga besar Gereja. Iman yang diakui oleh Gereja selalu menguatkan kembali iman pribadi kita masing-masing. Kredo "Aku Percaya" yang kita doakan setiap misa hari Minggu melindungi kita dari bahaya kepercayaan terhadap "allah lain" yang tidak diwahyukan oleh Yesus Kristus: "Setiap orang beriman adalah anggota dalam jalinan rantai besar orang-orang beriman. Saya tidak dapat menjadi orang beriman kalau saya tidak didukung oleh iman orang lain. Dan oleh iman saya, saya pun mendukung iman orang lain" (KGK 166). Marilah selalu bersyukur kepada Tuhan atas anugerah Gereja, karena Gereja menolong kita untuk maju dengan aman, dalam iman yang memberi kita hidup sejati (bdk. Yoh 20:31).

Dalam sejarah Gereja, para orang kudus dan para martir selalu bergerak dari kemuliaan Salib Kristus - daya kesetiaan kepada Tuhan - menuju Allah, hingga pada titik mereka harus menyerahkan nyawa. Dalam iman, mereka menemukan kekuatan untuk mengatasi kelemahan, dan menang atas setiap kesulitan. Benarlah Rasul Yohanes mengatakan: "Siapakah yang mengalahkan dunia selain dari pada dia yang percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah?" (1Yoh 5:5). Kemenangan yang lahir dari iman adalah cinta kasih. Masih ada dan tetap ada, banyak umat Kristen yang menghayati kesaksian nyata dari daya iman yang diwujudkan dengan pelayanan karya amal kasih. Merekalah para juru perdamaian, promotor keadilan dan pekerja-pekerja demi dunia yang lebih manusiawi, dunia yang sesuai dengan rencana Tuhan. Dengan kompetensi dan sikap profesional, mereka bekerja penuh tanggung jawab dalam sektor-sektor hidup masyarakat yang beraneka ragam, menyumbangkan secara tepat guna, kesejahteraan bagi semua. Karya amal kasih yang berasal dari iman membawa mereka kepada kesaksian nyata dengan kata dan perbuatan. Kristus bukanlah harta milik yang ditujukan untuk diri kita saja. Dia, harta paling berharga yang kita miliki, ialah Dia yang ditujukan dan dibagikan untuk sesama yang lain. Pada masa globalisasi ini, jadilah saksi harapan Kristiani di seluruh dunia. Betapa banyaknya orang yang telah menanti untuk menerima harapan ini! Ketika berdiri di depan batu makam sahabat-Nya Lazarus, yang mati empat hari sebelumnya, sebelum Ia menghidupkan kembali si mati itu, Yesus berkata kepada saudari Lazarus, Martha: "Jika engkau percaya, engkau akan melihat kemuliaan Allah" (bdk Yoh 11:40). Dengan cara yang sama, jika kalian percaya, dan jika kalian mampu menghayati iman dan menjadi saksi atas iman setiap hari, kalian akan menjadi sumber yang membantu orang muda lainnya seperti diri kalian, untuk menemukan makna dan kegembiraan hidup, yang terlahir dari perjumpaan dengan Kristus!

6. Menuju Hari Orang Muda Sedunia di Madrid

Para Sahabat terkasih,

Sekali lagi, saya mengundang kalian semua untuk menghadiri Hari Orang Muda Sedunia di Madrid. Saya menunggu kalian masing-masing dengan sukacita yang besar. Yesus Kristus ingin menguatkan iman kalian melalui Gereja. Keputusan untuk percaya kepada Yesus dan mengikuti-Nya bukanlah perkara yang mudah. Iman padaNya sering terhalangi oleh kegagalan pribadi, dan oleh banyak keriuhan yang menawarkan jalur-jalur perjalanan yang lebih mudah. Jangan lemah semangat. Namun, temukanlah dukungan dari komunitas seiman, temukanlah dukungan dari Gereja! Selama tahun ini, persiapkanlah secara cermat untuk pertemuan di Madrid, bersama uskup-uskup, para imam, para pembimbing orang muda di keuskupan, komunitas-komunitas paroki, dan berbagai serikat serta perkumpulan kalian.

Mutu pertemuan kita mendatang akan seluruhnya bergantung pada : Persiapan rohani kita, doa-doa kita, kebersamaan kita dalam mendengarkan sabda Allah, dan dukungan satu sama lain.

Para muda terkasih, Gereja bergantung kepada kalian! Dia membutuhkan iman kalian yang bersemangat, amal kasih kalian yang kreatif, dan energi dari pengharapan kalian. Kehadiran kalian memperbaharui, meremajakan,dan memberikan energi baru bagi Gereja. Karena itulah, maka Hari Orang Muda Sedunia adalah rahmat, bukan saja untuk kalian orang muda, tapi juga untuk keseluruhan umat Allah.

Gereja Spanyol sedang bersiap diri secara aktif untuk menyambut kedatangan kalian sekaligus untuk berbagi pengalaman iman yang menggembirakan ini bersama kalian. Saya mengucapkan terima kasih kepada keuskupan-keuskupan, paroki-paroki, tempat-tempat ziarah, komunitas-komunitas religius, asosiasi-asosiasi dan perkumpulan-perkumpulan gerejawi, serta semua yang bekerja keras untuk mempersiapkan peristiwa ini. Allah menganugerahkan berkat-Nya untuk mereka semua. Semoga Bunda Perawan Maria menyertai kalian selama persiapan ini. Ketika menerima kabar gembira, Bunda Maria menerima Sang Sabda dengan imannya. Dalam iman, ia menyetujui rencana kepenuhan janji Allah yang terlaksana dalam dan melalui dirinya. Dengan menyerukan "fiat", "terjadilah padaku menurut perkataanMu", Bunda Maria menerima anugerah cinta kasih yang sedalam-dalamnya, yang membuat dia memberikan diri seutuhnya kepada Allah. Semoga doanya campur tangan dalam diri kalian, sehingga pada Hari Orang Muda Sedunia mendatang ini, kalian bertumbuh dalam iman dan kasih. Saya meyakinkan kalian bahwa saya dengan kasih kebapaan, mengingat kalian dalam doa-doa saya, dan saya memberikan kepada kalian berkat dari lubuk hati saya yang paling dalam.

Dari Vatikan, 6 Agustus 2010
pada Pesta Penampakan Kemuliaan Tuhan
Benedictus PP. XVI

baca selanjutnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP