Jumat, 25 Februari 2011

Mengenal Gereja Katolik

Pengertian Gereja Katolik
Istilah “gereja” dalam Kitab Suci adalah “ekklesia” (dari kata kerja Yunani, ekkalein, memanggil keluar, bahasa Perancisnya “├ęglise” yang berarti “pertemuan rakyat”, terutama yang bersifat religius.

Dewasa ini pengertian “gereja” dalam masyarakat Katolik (Katolik = umum, lintas suku dan bangsa) bisa mengacu pada dua pemahaman. Pemahaman pertama gereja dimana “g” huruf kecil mengacu pada rumah ibadah. Pemahaman kedua dengan Gereja dimana “G” huruf besar mengacu pada umat yang Allah himpun dari seluruh dunia. Gereja adalah seluruh anggota umat Allah yang sudah dibabtis dalam nama Bapa Putera dan Roh Kudus.

Dalam leaflet ini, Gereja yang dimaksudkan adalah umat yang dikumpulkan Allah dari segala ujung bumi. Kerapkali juga Gereja digambarkan sebagai bangunan Allah (1Kor 3:9). Lebih eksplisit lagi, Gereja digambarkan sebagai kandang domba, dan satu-satunya pintu yang harus dilalui ialah Kristus (Yoh 10:1-10). Gereja juga merupakan kawanan, yang seperti dulu telah difirmankan (Yes 40:11), akan digembalakan oleh Allah sendiri. Gereja itu tiada hentinya dibimbing dan dipelihara oleh Kristus sendiri. Itulah sebabnya Gereja disebut juga perhimpunan para pengikut Kristus.

Asal, Pembentukan dan Perutusan Gereja
Gereja dapat dipahami secara lebih mendalam dengan mencoba merenungkan asalnya dalam keputusan Tritunggal Mahakudus dan pelaksanaannya secara bertahap dalam sejarah keselamatan umat manusia.

Gereja ada sebagai hasil keputusan kebijasanaan serta kebaikan hati Bapa. Bapa menetapkan untuk menghimpun mereka yang beriman kepada Kristus dalam Gereja kudus. Himpunan umat Allah tersebut dibentuk dan direalisasikan sesuai dengan pertimbangan Bapa langkah demi langkah dalam peredaran sejarah umat manusia. Gereja didirikan pada jaman terakhir, ditampilkan berkat pencurahan Roh dan akan disempurnakan pada akhir jaman (Bdk. LG 2).

Persiapan pembentukan Gereja dimulai dari pemilihan umat Israel sebagai umat Allah (Bdk. Kel 19:5-6; Ul 7:6). Selanjutnya, Allah Bapa mengutus PuteraNya Yesus Kris-tus untuk melaksanakan rencana keselamatan Bapa dalam kepenuhan waktu (Bdk. LG 3; AG 3). Untuk memenuhi kehendak Bapa, Kristus mendirikan Kerajaan surga di dunia. Gereja adalah “Kerajaan Kristus yang sudah hadir dalam misteri” (LG 3). Pembentukan Gereja oleh Kristus muncul terutama karena penyerahan diri Kristus secara menyeluruh untuk keselamatan kita, yang didahului dalam penciptaan Ekaristi dan direalisasikan pada kayu salib. “Permulaan dan pertumbuhan itulah yang ditandakan dengan darah dan air, yang mengalir dari lambung Yesus yang terluka di kayu salib” (LG 3). Seperti Hawa dibentuk rusuk Adam yang sedang tidur, demikian Gereja dilahirkan dari hati tertembus Kristus yang mati di salib (Bdk. Santo Ambrosius, Luc.II, 85-89).

Akhirnya, “sesuai tugas, yang diberikan Bapa kepada Putera untuk ditunaikan di dunia, diutuslah Roh Kudus pada hari Pentekosta, agar ia senantiasa menyucikan Gereja” (LG 4). Ketika itu “Gereja ditampilkan secara terbuka di depan khalayak ramai dan dimulailah penyebaran Injil di antara bangsa-bangsa melalui pewartaan” (AG 4).

Melihat asalnya, Gereja dipersiapkan oleh Allah Bapa, didirikan oleh Yesus Kristus, dinyatakan oleh Roh Kudus, maka Gereja membawa misi yaitu menghadirkan dan mewartakan Kerajaan Allah, Kerajaan Cinta Kasih di tengah semua bangsa.

Gereja Semesta (Universal)
“Gereja semesta” terdiri dari dua kata. Kata “Gereja” adalah himpunan umat Allah. “Semesta” berasal dari bahasa Sansekerta, artinya “seluruh”. Dalam bahasa Latin, universun, Bahasa Inggeris, universal keduanya berarti semesta atau atau keseluruhan. Jadi “Gereja semesta” adalah himpunan umat Allah secara keseluruhan yang ada di penjuru dunia.

Secara nyata, pengertian Gereja semesta/ universal adalah seluruh Gereja Katolik yang mengakui Sri Paus, Uskup Gereja Roma dan pengganti Petrus, Wakil Kristus, sebagai Gembala Universal di dunia. Sri Paus bersama Dewannya diakui sebagai pemegang kuasa jabatan, tertinggi, penuh, langsung dan universal (Bdk Kan. 331). Maka dari itu, karena selaku gembala semua orang beriman ia diutus, untuk mengusahakan kesejahteraan bersama Gereja semesta/ universal maupun kesejahteraan Gereja masing-masing, ia memperoleh primat kuasa atas semua Gereja.

Gereja Partikular
“Gereja partikular” maksudnya ialah Gereja-gereja keuskupan yang tersebar di seluruh dunia. Keuskupan merupakan bagian dari umat Allah, yang dipercayakan kepada seorang Uskup untuk digembalakan dalam kerja sama dengan para imam (pastor) (Bdk. Kan 126).

Gereja-gereja partikular/keuskupan hanya bisa berdiri secara legitim, menurut hukum sendiri mempunyai badan hukum dan atas kuasa pemegang otoritas tertinggi Gereja yaitu Sri Paus di Roma.

Gereja partikular/keuskupan masih memiliki bagian-bagian yang terpisah yaitu paroki-paroki. Semuanya tetap berada dalam kesatuan Gereja Kristus yang satu, kudus, katolik dan aportolik. Suatu Gereja keuskupan dikepalai oleh seorang uskup, yang berdasarkan penetapan ilahi adalah pengganti-pengganti para Rasul lewat Roh Kudus yang dianugerahkan kepadanya. Para uskup di setiap keuskupan diangkat menjadi gembala-gembala dalam Gereja agar mereka sendiri menjadi gembala-gembala dalam Gereja agar mereka sendiri menjadi guru dalam ajaran, imam dalam Ibadat suci dan pelayan dalam kepemimpinan (Bdk Kan. 375).

Susunan Hirarkis Gereja
Secara harafiah “susunan” berasal dari kata kerja “menyusun” berarti meletakkan satu di atas yang lain. Sebagai kata benda yaitu “susunan” berarti satu terletak di atas yang lain. “Hirarkis” pada kata bendanya hirarki berasal dari bahasa Yunani yaitu hieros = su-ci ; arche = peraturan, kuasa, jabatan. Hirarki berarti orang yang mempunyai kuasa/ jabatan suci untuk mengatur atau memimpin, dalam hal ini, jabatan pemimpin/ dalam Gereja Katolik.

Secara konkrit di lapangan, susunan hirarkis Gereja adalah struktur kepemimpinan, kuasa, jabatan Gereja mulai dari tingkat paling tinggi hingga pada tingkat paling rendah di seantero dunia.

Susunan hirarkis Gereja Katolik tertata secara kokoh dan rapi mulai dari otoritas tertinggi hingga paling rendah yaitu Sri Paus, Uskup Roma – Dewan Para Uskup, Kardinal – Kuria Romawi – Duta Paus – Uskup (Gereja Partikular) – Imam/ Pastor (Gereja Paroki).

Peranan Gereja dalam Dunia Jaman Sekarang
Gereja berasal dari cinta kasih Bapa yang kekal, didirikan oleh Kristus Penebus dalam kurun waktu, dan dihimpun dalam Roh Kudus. Gereja mempunyai tujuan penyelamatan dan eskatologis, yang hanya dapat tercapai sepenuhnya di jaman yang akan datang. Adapun Gereja sudah hadir di dunia ini, para anggotanya adalah orang-orang yang termasuk warga masyarakat dunia. Semua anggotanya dipanggil supaya sejak sejarah manusia sudah membentuk keluarga putera-puteri Allah, yang terus menerus harus berkembang hingga kedatangan Tuhan (Bdk. GS. 40).

Dengan tujuan penyelamatan umat manusia, Gereja sangat menghargai martabat pribadi manusia, masyarakat manusia dan makna kegiatan manusia sendiri. Sikap tersebut menjadi dasar hubungan Gereja dengan dunia dan landasan bagi dialog timbal-balik antara keduanya.

Pada era globalisasi sekarang, manusia sedang berusaha mengembangkan kepribadiannya secara lebih penuh dan semakin mengenal serta menegakkan hak-haknya demi kebahagiaannya. Pada era yang sama pula, berbagai kemajuan hasil karya manusia, misalnya ilmu dan teknologi, teknologi informasi khususnya membantu manusia dalam menggapai kebahagiaannya. Meskipun demikian, tidak sedikit manusia menjadi korban marjinalisasi, penindasan dan eksploitasi karena ulah manusia mengakibatkan kebahagiaan sejati semakin sulit dicapai. Belum lagi bencana gempa dan Tsunami terdahsyat pada 26 Desember 2004, berbagai bencana banjir, bahaya bom terorisme, aneka penyakit berbahaya, dan merajalelanya obat-obat terlarang di tengah masyarakat dunia, ikut membawa manusia ke dalam ruang hampa, ketakutan, kegetiran, penderitaan dan trauma hidup yang mendalam.

Adapun Gereja, yang hadir di dunia, turut serta merasakan dan mengalami sukacita dan duka cita dunia. Gereja hadir untuk menyiarkan misteri Allah. Gereja hadir untuk menyingkapkan kepada manusia makna keberadaannya sendiri yaitu kebenaran yang paling mendalam tentang jati diri manusia. Sesungguhnya Gereja menyadari, bahwa hanya Allah yang diabdinyalah yang dapat memenuhi keinginan-keinginan hati manusia yang mendalam, dan tidak pernah akan mencapai kebahagiaan sepenuhnya dengan apa saja yang disajikan oleh dunia.

Hubungan Gereja Katolik dengan Gereja Terpisah
Sejak awal mula Gereja Allah itu adalah satu kesatuan utuh. Namun dalam perjalanan sejarah, dalam satu dan satu-satunya Gereja Allah itu telah timbul perpecahan (1Kor 11:18-19), yang oleh Rasul dikecam dengan tajam sebagai hal yang telah dihukum (1Kor 1:11; 11:22). Dalam abad-abad sesudahnya timbullah pertentangan-pertentangan yang lebih luas lingkupnya, dan jemaat-jemaat yang cukup besar terpisahkan dari persekutuan sepenuhnya dengan Gereja Katolik, kadang-kadang bukannya tanpa kesalahan kedua belah pihak (Bdk. UR 3).

Tetapi mereka yang memisahkan diri dan dibesarkan dalam iman akan Kristus tidak dapat dipersalahkan dan dianggap berdosa karena membentuk jemaat sendiri. Gereja Katolik merangkul mereka dengan sikap penuh hormat dan cinta kasih (Bdk UR. 3).

Memang karena bermacam-macam perbedaan antara mereka dengan Gereja Katolik misalnya, perihal ajaran, tata tertib dan tata-susunan hirarkis Gereja. Gerekan ekumenis (gerakan melakukan kegiatan-kegiatan dan usaha-usaha untuk mendukung kesatuan Kristen) dibentuk untuk mengatasi hambata-hambatan yang ada. Meskipun banyak perbedaan, namun ada satu hal yang mempersatukan yaitu keduanya menyandang gelar nama pengikut Kristus.

Hubungan Gereja Katolik dengan Agama-agama Bukan Kristen
Dalam tugasnya mengembangkan kesatuan dan cinta kasih antar manusia, bahkan antar bangsa, Gereja mendorong semua untuk bekerja bersama-sama menghadapi aneka tantangan kehidupan manusia.
Sebab semua bangsa dan umat manusia terdiri dari aneka agama dan keyakinan seperti agama Hindu, Budha, Yahudi, Islam Konghucu, Sinto dan aneka aliran kepercayaan merupakan satu sebagai masyarakat dunia. Yang mengejar kesempurnaan dan kebahagiaan sejati pada Satu Ada tertinggi. Menurut keyakinan Gereja Katolik, Allah meng-hendaki segenap umat manusia selamat dan bahagia. Semua juga mempunyai satu tujuan terakhir takni Allah, Ada tertinggi, yang penyelenggaraanNya, bukti-bukti kebaikanNya dan rencanaNya meliputi semua orang (Keb 8:1; Kis 14:17; Rom 2:6-7); (Bdk pula NA. 1).
Jadi hubungan Gereja Katolik dengan agama-agama bukan Kristiani adalah hubungan dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerja sama untuk mengembangkan harta-kekayaan rohani dan moral serta nilai sosio-budaya yang terdapat pada masing-masing agama (Bdk NA. 2).

Penutup
Gereja merupakan himpunan umat Allah di dunia untuk menghadirkan Kerajaan Cinta Kasih. Gereja dengan penuh hormat dan cinta kasih mengajak semua orang, bangsa, agama yang berkehendak baik untuk mengejar kebahagiaan sejati manusia dan bekerja bersama-sama memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi manusia pula.

Buku acuan:
1. Kitab Suci , Lembaga Aikitab Indonesia, Jakarta 2002
2. Kitab Hukum Kanonik, Sekretariat KWI, Obor : Jakarta, 1991
3. Dokumen Konsili Vatikan II, Dokpen KWI, Obor : Jakarta, 1993
4. Katekismus Gereja Katolik, Arnoldus, Ende: 1995
5. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Badudu-Jain, Sinar Harapan: Jakarta 2001

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP