Jumat, 17 Agustus 2012

Menyingkap Asal-mula dan Makna Tradisi Ruwatan

Sebagai tradisi, ruwatan sudah dikenal sejak zaman Hindhu dan Budha. Dari kata ruwat yang artinya luwar atau lepas, ruwatan berarti melepaskan segala bentuk malapetaka akibat perbuatan manusia atau keberadaan manusia yang tidak pada tempat atau kedudukannya, tataran ing ngaurip.

Khasanah kebudayaan Jawa menyebut keberadaan manusia yang tidak pada tempatnya dengan salah kedaden atau salah kejadian. Orang yang menyandang nasib salah kedaden disebut sukerta. Perihal sukerta atau salah kedaden dan asal mula ruwatan yang disebabkan oleh birahi Batara Guru terhadap istrinya, Dewi Uma, sudah sering diulas dalam banyak buku.

Berikut adalah ulasan pendeknya :

Weton Batara Kala mengenal beberapa versi. Dalam cerita lama, belum jelas tokoh Kala itu. Yang ada ialah tokoh-tokoh dengan kata Kala. Misalnya : Mahakala, Kalakeya, Kalantaka, Kalanjana. Dalam cerita pewayangan Jawa Baru pada umumnya menyebut Kala adalah anak Batara Guru, dan dianggap anak Durga. Pada umumnya dicerikan bahwa Kala lahir dari Kama Salah.

Cerita Batara Kala dalam Kitab Manikmaya ringkasannya sebagai berikut :

Batara Guru ingin mengelilingi dunia bersama istrinya. Mereka naik diatas punggung Lembu Andini, terbang diangkasa. Mereka telah selesai mengelilingi Pulau Jawa, lalu terbang di atas samudra. Kebetulan waktu matahari terbenam, waktu senjakala, sinar matahari merah menyinari air samudra, menimbulkan pandangan indah di lautan.Batara Guru memandang keindahan samudra, bimbang ragu hatinya, bangkit asmaranya, karena sejak Weton Wisnu, jauh dari rindu asmara. Sejak itulah baru bangkit keinginan untuk bersatu rasa dengan istrinya. Tetapi sayang Dewi Uma tidak menanggapinya, sebab rasa hati masih jauh untuk bersenggama. Namun Batara Guru berkeinginan keras, Dewi Uma dipegang, lalu dipangku & akan digaulinya. Dewi Uma menolak & berkata kasar.

Dikatakannya Batara guru terlalu kasar seperti raksasa, berbuat disembarang tempat, di atas punggung lembu. Dewi Uma mengharap agar Batara Guru lebih sabar, namun sumpah serapah Dewi Uma yang telah terucap bagaikan sumpah ampuh, sehingga seketika Batara Guru bertaring seperti raksasa. Karena tak kuasa menahan gairah & timbul amarahnya, Kama (benih) Batara guru terlanjur keluar dan tumpah di samudra, menggelegar suaranya. Air samudra berdebur hebat, membual-bual seperti diaduk-aduk. Segera mereka kembali ke Kahyangan. Air samudra masih hebat membual-bual, gegap gempita suaranya, menggemparkan para Dewa. Surga bagai diguncang, lalu disuruhnya para Dewa mencari penyebabnya. Setelah jelas, mereka kembali melapor, bahwa yang menimbulkan huru-hara berasal dari dasar laut. Mereka tidak dapat mendekat karena panas sinar seperti panas api. Batara Guru berkata bahwa yang tampak bersinar itu disebut Kama Salah. Dan menyuruhnya untuk membinasakannya. Namun apa daya, mereka semua yang diperintahkan.tak sanggup membunuhnya. Bahkan mereka lari kocar kacir..tunggang langgang dikarenakan kuatnya Kama Salah ini. Sampai akhir kata.Batara Guru memberi penjelasan kepada Kama Salah bahwa ia adalah putera dari Batara Guru. Kemudian ia diberi nama Batara Kala dan lalu disuruhnya bertempat tinggal di Nusakambangan untuk merajai makhluk jahat dan semua Jin di pulau Jawa.

Tetapi, apa korelasinya ruwatan yang bersumber dari kisah Batara Guru dan Batara Kala itu dengan ruwatan yang sering diadakan sekarang?

Hakikat Ruwatan
Kosmologi jagat manusia Jawa memandang suka duka kehidupan sebagai cermin diri. Suka duka membuat manusia kemudian melihat dirinya sendiri. Menelusuri asal mula dirinya sendiri atau sangkan paraning dumadi. Pandangan ini menempatkan nilai ideal manusia bukan pada kesempurnaan, tetapi justru pada berbagai kemungkinan manusia yang tidak sempurna. Bisa terkena bencana dan selalu terbuka pada kemungkinan terjadinya salah kedaden atau salah kejadian.

Dengan pandangan itu, manusia Jawa lalu membutuhkan pelepasan, pembebasan yang dilakukan dalam koridor keyakinan leluhur, ruwatan. Pada titik ini ruwatan menjadi peringatan bagi manusia Jawa terhadap keadaan diri yang tidak sempurna. Dalam kisah Murwakala, bahkan Dewa juga harus diruwat. Artinya, Dewa pun tidak sempurna. Lantas, nilai apa yang bisa ditarik dari berbagai peristiwa kemanusiaan dan kedewaan yang tersirat dalam kosmologi jagat manusia Jawa dengan kesadaran akan perlunya ruwatan?

Andaikata Syiwa (Batara Guru) dapat menahan birahi, misalkan saja spermanya tidak memancar dan jatuh ke laut, umpama ia bukan pembesar para dewa dan dewi, serta jika saja Batara Kala tidak lahir dan tidak dituding sebagai biang keladi segala kerusakan insani, maka ruwatan tidak akan menjadi bahan pembicaraan berkepanjangan. Meskipun cerita Murwakala hanya berdasarkan pada tradisi lisan dan mitos masyarakat Jawa lama, kenyataannnya upacara ruwatan melalui pertunjukan wayang masih berlangsung sampai sekarang. Sebagai sebuah pertunjukan, wayang kulit purwa memiliki kekuatan sangat luar biasa, terutama daya pikatnya kepada penonton. Oleh sebab itulah, kedudukan dalang menjadi sangat kharismatik dan pakelirannya menjadi sangat sentral di kehidupan orang Jawa masa lampau. Pakeliran merupakan media yang paling solid serta efektif untuk dimanfaatkan berbagai kepentingan; dakwah agama, propoganda politik, pendidikan moral, penerangan, upacara, dan sebagainya.

Di masa lampau, upacara ruwatan dianggap sebagai wahana pembebasan para sukerta, yaitu anak-anak yang sejak lahir dianggap membawa kesialan tidak suci, penuh dosa serta orang-orang yang berbuat ceroboh. Anak sukerta dan/atau orang yang ceroboh itu dipercaya akan menjadi mangsa Batara Kala, oleh sebab itu perlu diruwat. Pantas dipertanyakan, kenapa anak-anak sukerta yang lahir di luar kemauannya itu oleh orang tuanya dianggap sebagai pembawa sial? Dengan tidak mengusik keberadaan mitos lama tentang arti pentingnya upacara ruwatan bagi insan yang digolongkan orang sukerta, makalah ini mencoba membahasnya atas dasar penalaran yang bersumber dari pengamatan terhadap pelaksanaan beberapa upacara ruwatan di berbagai tempat.

Berdasarkan ceritera pedalangan, Batara Guru berkelana berdua dengan isterinya, Dewi Uma, di atas gigir lembu Andini, lahirlah Batara Kala akibat pembuahan sperma Batara Guru yang tercebur ke laut, sebab tidak mampu menahan birahi terhadap kecantikan Uma, istrinya,. Saya menangkap adanya pendidikan moral yang tersirat (berkaitan dengan pendidikan seks) dalam cerita itu, yaitu: orang yang beradab tidak selayaknya melakukan sanggama di atas kendaraan, apalagi memiliki jabatan tertinggi dan sangat terhormat seperti Batara Guru. Artinya, jika sese-orang tidak mampu menahan birahi dan dimanjakan di sembarang tempat, akan melahirkan bocah yang selalu membuat durhaka kepada siapa saja, seperti Batara Kala.

Munculnya tokoh-tokoh dewa dalam pertunjukan wayang, termasuk dalam ruwatan, sering dianggap satu ungkapan kemusrikan, maka upacara ruwatan dengan menggunakan wayang oleh masyarakat Islam tertentu yang mengharamkan. Padahal Batara Guru dan dewa-dewa yang lain, oleh para dalang dalam jagat pakeliran, hanya dipandang sebagai tokoh-tokoh ceritera semata. Meskipun menggunakan nama-nama seperti yang dijadikan panutan agama Hindu, seperti: Syiwa, Brama, dan Wisnu tetapi karakternya jauh berbeda dengan image penganut agama Hindu. Justru para dewa, dalam pertunjukan wayang kulit di Jawa sekarang, kecuali Sang Hyang Wenang dan Dewa Ruci, sering dilecehkan oleh para dalang. Bahkan dalam silsilah wayang di Jawa, dewa-dewa merupakan anak keturunan Adam, kedudukannya tidak lebih tinggi dari tokoh-tokoh wayang yang lain. Dalam sejumlah lakon wayang, sering terjadi para dewa justru tidak dapat mengatasi masalah yang dihadapi, penyelesaiannya terpaksa harus dibantu ksatria pilihan.

Anak-anak tunggal (ontang-anting) digolongkan sukerta kemungkinan menjadi anak nakal sangat besar, sebab pada umumnya anak tunggal selalu dimanjakan oleh keluarganya. Meskipun diakibatkan oleh program KB (Keluarga Berencana), anak yang hanya berjumlah dua (kembar, dhampit, kembang sepasang, dan kedhana-kedhini) berpotensi menjadi nakal, sebab sering terjadi kedua orang tua (ayah dan ibu) berpihak kepada salah satu anak. Anak dalam jumlah tiga (sendang kapit pancuran, pancuran kapit sendang, banteng ngunda jawi, ngungggah-unggahi, tri purusa, serta tri wati) anak yang memiliki jenis berbeda dengan kedua saudaranya potensi untuk menjadi anak nakal sangat besar. Kemungkinan anak yang jenis kelaminnya berbeda dengan saudara-saudaranya (ngijeni) ini paling dimanjakan oleh keluarga.

Saya tidak mau membahas kira-kira apa yang menjadi penyebab keluarga yang memiliki 4 orang anak (srimpi atau sramba) dan 5 orang anak (pendawi atau pendawa) yang berjenis kelamin sama tergolong juga anak sukerta? Kemungkinan besar adalah anak-anak yang berkelamin sama dalam jumlah itu berpotensi mudah sekali cekcok, gampang membuat kelompok yang terpisah yang saling berpihak pada kelompoknya. Secara kebetulan dalam cerita wayang, nasib Pandawa (Puntadewa, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa) meskipun selalu rukun, tetapi nasibnya tidak pernah sepi dari masalah-masalah besar. Perang Baratayuda memang dimenangkan Pandawa, tetapi seluruh anaknya menjadi korban dan mereka tidak dapat menikmati kemenangannya.

Sumber : http://www.raja-pelet.com/

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP